Monday, 30 April 2018 08:47

Ramadhanesia (Ramadhan untuk Indonesia)

SOLOPEDULI.ORG - Ramadhan kembali menyapa kita, sepantasnya kita menyambutnya dengan sukacita, begitu istimewa bulan Ramadhan bulan yang ditunggu-tunggu ummat Islam, tak hanya di Indonesia bahkan di segala penjuru dunia. Bulan dimana semua ibadah dilipatgandakan pahalanya, Allah SWT memang memberikan bonus spesial bagi hambanya untuk meraih ridhoNya.

Bulan ramadhan menjadi bulan terbaik untuk berbuat kebaikan, memperbaiki diri dan meningkatkan kesalihan. Kesalihan ini ada dua, kesalihan pribadi dan kesalihan sosial, keduanya saling melengkapi terlebih dalam moment Ramadhan. Kesalihan pribadi bersumber dari keimanan, keimanan tercermin dari kualitas iman dengan melaksanakan ibadah-ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah. Kesalihan sosial bersumber dari kasih sayang, karenanya pula tak berlebihan jika ramadhan merupakan momentum yang tepat untuk saling berbagi dan peduli kepada sesama. Di sekitar kita banyak kita jumpai anak-anak yatim, orang-orang miskin serta kaum dhuafa menjadikan hari-harinya sepanjang tahun sebagai hari-hari panjang untuk berpuasa.

Ramadhan adalah bulan spesial, mari kita sambut dengan cara-cara spesial. Salah satu bekal yang harus dipersiapkan adalah harta (Persiapan Ma’aliyah). Mempersiapkan harta di bulan Ramadhan bukan berarti untuk membeli makanan yang banyak, melainkan untuk amal ibadah seperti infak/shadaqah, zakat mal maupun zakat fitrah, atau memberi makanan buka puasa untuk orang lain.

Dengan melakukan persiapan di atas semoga ibadah kita di bulan Ramahan nantinya akan lebih maksimal dan tentunya mendapat pahala dari Allah Ta’ala dan mendapatkan predikat hamba yang bertaqwa. Pada akhirnya, Selamat menyambut bulan Ramadhan 1439 H bagi umat muslim di Indonesia.

Solopeduli berupaya hadir dibeberapa wilayah di Indonesia. Hal ini sejalan dengan tema yang kami angkat 'Ramadhanesia' Ramadhan untuk Indonesia. Memberikan manfaat program menjangkau wilayah pelosok Indonesia. Melalui Solopeduli kami mengajak semua elemen ummat untuk menjadikan Ramadhan di tahun ini menjadi bulan untuk berlomba lomba dalam kebaikan, siapa yang melakukan kebaikan balasan kebaikan itu akan kembali kepadamu.

(Harjito Direktur Umum Solopeduli)

Saturday, 28 April 2018 11:23

Hidup Bermasyarakat

SOLOPEDULI.ORG - Islam mengajarkan kita untuk hidup bermasyarakat, tidak mengasingkan diri atau bahkan menutup diri. Islam mendorong umatnya untuk hidup berdampingan dengan masyarakat lain secara sehat. Berikut adalah beberapa rambu-rambu yang dapat kita terapkan dalam kehidupan bermasyarakat menurut pandangan islam:

1. Saling Memberi Nasihat

Saling menasihati adalah salah satu bentuk kesetiaan seorang muslim kepada saudara muslimnya yang lain. Saling menasehati bukan berarti selalu menggurui. Saling menasehati adalah kelengkapan keshalihan seseorang dalam beragama. Seorang muslim harus selalu menggunakan berbagai kesempatanuntuk saling menasehati, terlebih apabila ada saudara kita yang berbuat kurang tepat. Dan, bersedia menasehati orang awam dalam bentuk bimbingan untuk memperoleh kemaslahatan.

“(Lakukanlah) apa yang dapat kamu lakukan dan (hendaknya) kamu menasihati kepada setiap muslim.” (HR. Bukhari)

2. Jauhi Perbuatan Zalim

Rasulullah SAW berkata bahwa Allah SWT berfirman, “Hai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan perbuatan zalim atas diri-Ku dan Aku jadikan kezaliman itu haram di antaramu, maka janganlah kamu saling menzalimi.” (Muslim no. 2577)

Perbuatan zalim adalah perbuatan yang tidak disukai Allah, terlebih yang mencelakakan orang lain. Sungguh Allah melaknat perbuatan yang zalim. Jadi, dalam kehidupan bermasyarakat, sesama tetangga tidak boleh saling mencelakai, melukai, bahkan menzalimi. Karena perbuatan-perbuatan tersebut bukanlah cerminan dari umat muslim.

3. Saling Membantu Dalam Kebaikan

Abu Hurairah juga meriyaratkan hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang melepaskan suatu kesusahan seroang mukmin di antara berbagai kesusahan dunia, maka Allah akan melepaskan darinya salah satu di antara berbagai kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa yang memudahkan orang yang mendapatkan kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah itu akan selalu membantu hamba jika ia mau membantu saudaranya….” (HR. Muslim)

Sudah menjadi kewajiban bagi seluruh umat muslim untuk saling membantu. Tidak hanya terbatas pada tetangga maupun saudara saja, melainkan  kepada siapa saja. Dan, saling membantu yang dimaksudkan adalah membantu dalam kebaikan, bukan justru membantu dalam kejahatan.

4. Sabar Dan Murah Hati

“Bergegaslah menuju ampunan Tuhanmu dan surga yang seluas langit dan bumi disiapkan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang mendermakan (hartanya) di waktu senang maupun ketika menderita, dan orang-orang yang menahan marahnya serta yang memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah itu suka kepada orang-orang yang (suka) berbuat baik.”

Setiap orang pastilah memiliki perbedaan, kita tidak dapat memukul rata bahwa semua orang itu sama. Begitupun dalam kehidupan bermasyarakat, kita harus bersabar dalam menghadapi masalah maupun ketika berhadapan dengan orang lain. Karena, “Orang jagoan itu bukanlah ditentukan dengan (jagoan) gulat. Justru orang jagoan itu ialah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Pemaaf, Toleran, Dan Tawadhu’

Bergaul dengan masyarakat tentu tak selamanya harmonis. Kadang ada geserkan karena sesuatu hal. Dan menyimpan dendam adalah ciri pribadi yang tidak sehat dalam bergaul dengan masyarakat. Allah swt. justru mengajarkan kepada kita untuk menjadi orang yang pemaaf. Bahkan, membalas keburukan dengan kebaikan. “Balaslah keburukan dengan cara yang baik.” (Al-Mu’minun: 96)

Tidaklah perlu untuk marah, mengancam, bahkan hingga balas dendam. Membalas keburukan dengan cara yang baik, serta selalu bertawadhu, maka Allah yang akan membalas. Karena, merendah menjadi ciri ahli surga. Siapa yang tak ingin menjadi ahli surga? Oleh sebab itu, dalam bermasyarakat tak perlulah untuk angkuh, jadilah anggota masyarakat yang pemaaf, toleran dan tawadhu.

6.  Jangan Jadi Beban Masyarakat

‘Auf bin Malik Al-Asyja’i berkata, kami sembilan atau delapan atau bertujuh orang pernah berada di sisi Rasulullah saw. Beliau bersabda, “Mengapakah kalian tidak berbai’at kepada Rasulullah?” Sebetulnya kami baru (beberapa hari) saja melakukan bai’at. Beliau bersabda lagi, “Mengapa kalian tidak membai’at Rasulullah?” Kami membentangkan tangan-tangan kami dan berkata, “Kami telah berbai’at kepada engkau, wahai Rasulullah, lalu atas dasar apa lagi kami mesti membai’atmu?” Rasulullah bersabda, “Kamu mesti berbai’at supaya tidak menyembah selain Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, melakukan shalat lima waktu, dan untuk mau mendengar dan mentaati.” Lalu beliau bersabda, “Janganlah kamu meminta sedikitpun kepada manusia.”

Maka aku betul-betul melihat sebagian di antara mereka -sembilan atau delapan atau tujuh orang yang berbai’at itu-ketika terjatuh cemeti salah seorang di antara mereka, ternyata ia tidak meminta kepada seseorang pun untuk mengembalikan untuknya.” (HR. Muslim)

Janganlah kita menjadi beban untuk orang lain, menggantungkan hidup kita kepada orang lain dan bukan pada Allah. Perbanyaklah berdoa, dan jangan berpuas diri karena kenikmatan sesaat saja.

Berikut di atas, adalah beberapa rambu-rambu yang dapat kita terapkan dalam berkehidupan sebagai makhluk sosial. Walau sebenarnya masih banyak lagi rambu-rambu yang dapat membuat kita menjadi masyarakat islam yang penuh berkah.

 

Semoga bermanfaat.

 

Referensi: Dakwatuna

 

 

Friday, 27 April 2018 14:41

Kekuatan Doa Tidak Pernah Bohong

SOLOPEDULI.ORG - Doa merupakan salah satu sarana interaksi antara seorang hamba dengan Sang Pencipta. Berdoa terbukti membawa pengaruh positif yang sangat besar dalam diri seseorang, perasaan tenang, kalimat-kalimat harapan di dalam doa yang membuat seseorang tidak mudah putus asa, dan merasa dekat dengan Sang Pencipta. Bahkan doa mampu membuat hal yang mustahil dilakukan oleh manusia dapat terjadi. Berdoa kepada Allah merupakan salah satu amalan yang dihitung sebagai amalan yang baik dan mendapatkan pahala, begitu dahsyatnya kekuatan doa sehingga ada pepatah mengatakan, “doa tanpa usaha itu bohong, usaha tanpa doa itu sombong.”

Memang benar apa yang tertulis di dalam pepatah tersebut, bahwa berdoa itu merupakan salah satu aspek penting dalam kegiatan mencapai tujuan yang dilakukan seseorang. Tanpa doa perasaan-perasaan takabur akan kuasa Allah dapat menguasai diri sehingga menyebabkan amalan yang ingin kita wujudkan menjadi sia-sia tanpa ridho-Nya. Begitupun sebaliknya, berdoa saja tanpa melakukan usaha juga sangat sia-sia, untuk apa kita hanya memohon harapan tanpa melakukan usaha yang dapat mewujudkan harapannya. Sedangkan firman Allah juga sudah sangat jelas bahwa Allah menyukai hamba-Nya yang bekerja keras.

Berbicara tentang doa, banyak kisah-kisah Nabi, sahabat, para khalifah muslim, dan tokoh-tokoh muslim yang membuktikan dan dapat menjadi pelajaran untuk kita semua bahwa kekuatan doa itu memang benar-benar ada. Nabi Zakariyya contohnya, selama 70 tahun kehidupan pernikahannya, masih belum dikaruniai seorangpun keturunan oleh Allah. Namun, yang dilakukan Nabi Zakariyya bukannya murka atas takdir Allah, beliau terus bersabar dan berdoa sepanjang hidupnya agar dapat dikaruniai keturunan yang baik oleh Allah. Dan terbukti, apa yang menjadi doa Nabi Zakariyya selama 70 tahun terkabul. Kemudian lahirlah seorang putra yang baik dan sholeh yang kemudian diutus oleh Allah menjadi seorang Nabiyullah, Nabi Yahya.

Dari cerita di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, bahkan hal yang menurut manusia mustahil sekalipun. Dengan cara apa? Merendah di hadapan Allah, meminta dengan tulus hanya pada Allah dan senantiasa tetap taat pada Allah dan Rasul-Nya. Allah sendiripun sudah berjanji dalam firman-Nya, akan mengabulkan setiap permintaan hamba-Nya. Dan bentuk mengabulkan doa hamba-Nya hanyalah Allah yang tahu, namun satu yang pasti adalah bahwa pilihan Allah pasti yang paling baik. Untuk itu, masih menunggu apa lagi untuk meminta pada Allah?

 

Referensi: Rangkuman Makalah dan Kisah Muslim

Thursday, 26 April 2018 13:58

Ucapan Bisa Jadi Belati

 

“Lidah lebih tajam daripada pedang

 

SOLOPEDULI.ORG - Sebuah peribahasa yang sudah tidak asing lagi. Banyak dari kita sudah kerap mendengarnya, lebih-lebih menjadi korban ketajaman lidah. Atau bahkan justru kita yang menghunuskan lidah ke hati yang tak bersalah? Naudzubillah, semoga kita tidak termasuk dalam golongan tersebut.

Makna dari peribahasa di atas ialah, perumpamaan bahwa perkataan yang keluar dari mulut manusia bisa lebih berbahaya dan menyakitkan daripada terhunus pedang yang tajam. Sebagai umat manusia yang tak luput dari dosa, tentulah kita pernah berbuat salah, entah itu kita menyadarinya maupun tidak. Begitu pula dalam berucap, terkadang perkataan kita dapat melukai seseorang, walaupun kita sama sekali tak bermaksud demikian.

Dalam keseharian, kita diikuti oleh malaikat Raqib dan Atid yang selalu mencatat amalan-amalan kita. Sebagaimana yang telah difirmankan Allah, “Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS Qaf: 18). Yang kelak semua apa yang kita ucapkan akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah.

Imam Al-Syafi‘i menjelaskan pula, “Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya.” Ketika kita berbincang dengan orang lain, entah itu bercanda maupun tidak, akan lebih baik kita berpikir dan berhati-hati. Kita harus memahami lawan bicara kita, minimal mengetahui bagaimana latar belakangnya dan bagaimana karakternya. Apabila memang takut salah penyampaian, sampaikanlah pada lawan bicara terlebih dahulu.

Buat kondisi di mana saling memahami dan menghormati. Atau, apabila tak berani menyampaikan lebih baik diam. Ucapan yang terlontar bisa saja menjadi boomerang pada diri kita sendiri, maka dari itu harus berhati-hati dalam berucap atau diam. Lalu apa keutamaan menjaga lisan?

  1. Memiliki kedudukan tinggi sebagai muslim

Suatu hari Rasulullah Saw. ditanya, “Siapakah Muslim yang paling utama?” Beliau menjawab,“Orang yang bisa menjaga lisan dan tangannya dari berbuat buruk kepada orang lain.” (HR. Bukhari).

  1. Dijanjikan surga

Dari Sahl bin Sa’ad ra., Rasulullah Muhammad saw bersabda: “Barangsiapa yang dapat memberikan jaminan kepadaku tentang kebaikannya apa yang ada di antara kedua tulang rahangnya – yakni mulut atau lidah – serta antara kedua kakinya – yakni kemaluannya, maka saya memberikan jaminan syurga untuknya.” (HR. Al-Bukhari)

Subhannallah. Semoga kita menjadi kaum yang mampu menjaga lisannya sebaik menjaga harga dirinya. Amiin.

 

Referensi: Dalam Islam

Wednesday, 25 April 2018 13:35

Perbedaan Ada Bukan Untuk Diperselisihkan

SOLOPEDULI.ORG - Tinggal di Indonesia berarti kita harus memahami bahwa kita hidup di tempat yang memiliki banyak sekali keberagaman, kebudayaan, ras, agama, bahkan bahasa sehari-haripun terdapat berbagai macam perbedaan. Sebenarnya tidak hanya di Indonesia, di tempat lainpun pasti kita akan menemukan berbagai macam perbedaan. Untuk itu kita harus senantiasa siap dalam menghadapi perbedaan yang ada, bukan siap untuk mencaci atau merendahkan pihak lain karena perbedaan mereka dengan kita, namun siap untuk memahami bahwa perbedaan itu ada untuk dihormati dan sebagai pewarna dalam kehidupan sosial manusia.

Berbicara mengenai perbedaan, dalam dunia islam kita juga tidak lepas dari adanya berbagai macam perbedaan. Bahkan, para amirul mukminin sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga pun juga memiliki perbedaan. Bukan karena minimnya ilmu pengetahuan tentang islam maupun ilmu pengetahuan sosial yang para amirul mukminin miliki. Namun, karena luasnya ilmu yang mereka miliki dibandingkan dengan kita yang hidup di zaman serba modern ini. Jika dilihat dari cara para sahabat memimpin pada masa kekhalifahan, perbedaan jelas sangat nampak di antara mereka.

Misalnya saja, Abu Bakar Ash-Shiddiq memimpin dengan cara yang sabar dan tenang dalam menghadapi permasalahana, namun ketegasan tetap ada dalam dirinya pada saat yang diperlukan. Sangat berbeda jauh dengan Ummar bin Khattab yang memiliki sifat keras serta perawakan tinggi besar yang mendukung sifatnya. Ummar memimpin dengan cara yang tegas dan sedikit keras, beliau tidak main-main dalam menghadapi orang-orang yang bandel dalam membayar zakat, bahkan langsung mendatangi orang tersebut. Ummar tidak ragu mengangkat pedangnya melawan orang yang mencela ataupun melanggar syariat Islam. Lain lagi dengan Utsman yang dikenal memiliki sifat pemalu, sangat dermawan, serta sopan santun. Utsman memimpin dengan cara yang hampir sama dengan Abu Bakar yang lembut namun tetap bisa menjadi sangat tegas dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pemimpin.

Perbedaan dalam cara memimpin juga terjadi pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, yang saat itu memakai gaya kepemimpinan yang dianggap sebagian orang melenceng dari ajaran agama. Bahkan ibunda ‘Aisyiyah pun menganggapnya demikian. Sebenaranya tidak ada yang benar-benar salah dalam gaya kepemimpinan Ali, hanya saja keputusannya untuk belum menghukum para pembunuh Utsman membuat beberapa penduduk serta ibunda ‘Aisyah menentang Ali. ‘Aisyah menganggap Ali harus segera menemukan pembunuh Utsman dan segera menghukumnya dengan hukuman qishas. Namun sepertinya, penjelasan Ali yang mengatakan bahwa ia tidak terlibat dan tidak memberikan masukan dalam pembunuhan Utsman bin Affan tidak dapat dipahami dan tidak dapat diterima oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah dan kaum Khawarij –kaum yang menentang Ali-, hingga akhirnya dua perang besar antara kaum muslimin terjadi, yaitu perang Jamal dan perang Shiffin. Ini merupakan perbedaan yang berujung perpecahan pertama dalam sejarah umat Islam. Bahkan dalam periode kekhalifahanpun yang disebut oleh Rasulullah merupakan ummat terbaik, pernah mengalami perpecahan.  Walau pada akhirnya terjadi perdamaian di antara mereka –meskipun masih ada yang membelot.

Contoh-contoh di atas membuktikan bahwa setiap apapun perbedaan dapat membawa berbagai macam dampak baik positif maupun negatif. Namun tetap saja kita harus mengantisipasi adanya dampak negatif dari perbedaan yaitu perpecahan. Untuk itu dalam menyikapi perbedaan sosial yang pasti ada dalam kehidupan manusia, kita harus senantiasa menghormati orang lain dengan cara berpikir mereka, cara mereka menjalani kehidupan dan senantiasa menanamkan dalam diri bahwa ilmu yang Allah miliki itu sangat luas sehingga kita sebagai manusia tidak akan mampu untuk menenggak ilmu itu seorang diri. Bisa jadi perbedaan ilmu ataupun kemampuan yang ada dalam diri kita dengan orang lain bukan karena orang itu bodoh.

Pun demikian di dalam agama, dalam menyikapi perbedaan di dalam agama Islam –yang Allah sudah berfirman bahwa ada 70 golongan dalam Islam-,kita tidak boleh langsung begitu saja menyalahkan perbedaan orang tersebut dengan kita hanya karna ilmu yang dipahami berbeda, apalagi mengkafirkan sesama muslim. Tetap hormati apa yang menjadi keyakinan orang lain dan jangan mencela, ilmu Allah sangatlah luas. Untuk itu Allah telah berfirman bahwa apabila manusia masuk Islam, ia harus masuk Islam secara kaffah -keseluruhan- tidak boleh hanya mengambil apa yang ia sukai dan apa yang ia tidak suka dibuang begitu saja. Allah sudah mengatur segalanya sedemikan rupa dengan cara sangat indah yang tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran manusia. Perbedaan akan selalu ada dan semua itu tergantung pada bagaimana kita menyikapinya. Yakini apa yang menjadi keyakinan dalam berislam sesuai Al-Qur’an dan Sunnah. Kebenaran dalam perbedaan hanya Allah yang mengetahui. Wallahu a’lam bi shawwab.

 

Referensi: Khazanah Republika

Tuesday, 24 April 2018 13:30

Tahajud Membuatmu Jauh Dari Neraka

SOLOPEDULI.ORG - “Mereka itu tidak sama, di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang).” (Ali Imran: 113)

Tahajud, merupakan waktu yang paling disenangi Allah untuk mendengarkan doa umatnya. Orang yang bertahajud rela mengurangi waktunya istirahat untuk mengingat Allah, dan bersujud pada-Nya. Pada zaman Rasulullah, ada sahabat yang masih remaja bermimpi, namanya Abdullah bin Umar. Suatu malam, ia pergi ke masjid Nabawi, dan membaca Al-Quran sampai kelelahan. Setelah membaca Al-Quran cukup lama, ia memutuskan untuk tidur.

Seperti biasa, sebelum tidur ia menyucikan diri dengan cara berwudhu, kemudian merebahkan badan dan berdoa. Sambil pelan-pelan memejamkan mata, Abdullah bin Umar terus bertasbih menyebut nama Allah hingga akhirnya terlelap. Di dalam tidurnya yang nyenyak, dia bermimpi.

Dalam mimpinya, dia berjumpa dengan malaikat. Tanpa berkata apa-apa dua malaikat itu memegang kedua tangannya dan membawanya ke neraka. Neraka itu bagaikan sumur yang menyalakan api berkobar-kobar, luar biasa panasnya. Di dalam neraka itu, dia melihat orang-orang yang telah dikenalnya. Mereka terpanggang dan menaggung siksa yang tiada tara pedihnya. Menyaksikan neraka yang mengerikan dan menakutkan itu, Abdullah bin Umar seketika berdoa, “aku berlindung kepada Allah dari api neraka.” Setelah itu, Abdullah bertemu dengan malaikat lain. Malaikat itu berkata, “kau belum terjaga dari api neraka.”

Pagi harinya, Abdullah bin Umar menangis mengingat mimpinya. Lalu dia pergi ke rumah Hafshah bin Umar, Istri Rasulullah SAW, yang juga adalah kakaknya. Ia menceritakan perihal mimpi yang dialaminya dengan hati yang cemas. Setelah itu Hafshah menemui Rasulullah dan menceritakan mimpi saudara kandungnya itu. Seketika itu beliau bersabda, “sebaik-baik lelaki adalah Abdullah bin Umar kalau dia mau melakukan shalat malam!”

Mendengar sabda Nabi tersebut, Hafshah bergembira, dan langsung menemui adiknya Abdullah bin Umar. “Nabi mengatakan bahwa kau adalah sebaik-baik lelaki jika kau mau shalat malam. Dalam mimpi itu, malaikat terakhir yang kautemui mengatakan bahwa kau belum terjaga dari api neraka. Itu karena kau tidak melakukan shalat tahajud. Jika kauingin terselamatkan dari api neraka, dirikanlah shalat tahajud setiap malam. Jangan kau sia-siakan waktu sepertiga malam; waktu di mana Allah Swt memanggil-manggil hamba-Nya,” jelas Hafshah.

Apalagi jika dia juga mengingat sabda Rasul, “sesungguhnya, penghuni neraka yang paling ringan siksanya pada hari kiamat adalah seseorang yang diletakkan pada kedua telapak kainya bara api yang membuat otaknya mendidih. Dia merasa tidak ada orang lain yang lebih berat siksanya daripada dia. Padahal, sesungguhnya siksa yang ia terima adalah yang paling ringan di dalam neraka.”Setelahnya, Abdullah berusaha sekuat tenaga untuk beribadah kepada Allah, mencari ridha Allah agar termasuk hamba-hambanya yang terhindar dari siksa api neraka dan memperoleh kemenangan surga.

Akhirnya Abdullah bisa merasakan nikmatnya shalat tahajud. Betapa agung keutamaan shalat tahajud. Tidak ada yang lebih indah dari saat-saat ia sujud dan menangis kepada Allah pada malam hari.

Sungguh, tahajud mampu membuat kita terjauh dari api neraka. Merelakan sepuluh hingga limabelas menit kita untuk bersujud pada Allah di sepertiga malam, adalah cara termudah untuk dekat dengan Allah.

 

Semoga bermanfaat.

 

Referensi: ISLAMPOS (Ketika Cinta Berbuah Surga – Habiburrahman El Shirazy)

 

Monday, 23 April 2018 15:38

Literasi Dalam Islam

SOLOPEDULI.ORG - Siapa yang tak mengetahui sosok Ibn Sina, seorang muslim yang ahli di bidang kedokteran, Al-Khwarizmi dengan matamatikanya, Imam Ghazali, Ibn Khaldun di bidang agama, politik dan sosial, dan lain sebagainya. Tokoh-tokoh tersebut merupakan generasi literer pada masanya yang berhasil menaikkan derajat Islam.

Pada mulanya, kemajuan ilmu pengobatan dimulai pada zaman pemerintahan Bani Umayah (661-720 M). Akan tetapi kemajuan pesat itu baru terlihat ketika zaman kekhalifahan Abbasiyah (750-1258 M). Lembaga  pendidikan menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Di lembaga pendidikan ini juga ilmu kedokteran banyak dipelajari dan dikembangkan. Hingga pada zaman keemasan Islam, banyak sekali buku-buku ilmu kedokteran.

Pada tahun 856 M, Khalifah Al-Mutawakkil mendirikan sekolah penterjemahan di Baghdad. Selain itu, di sekolah itu juga dilengkapi dengan museum buku-buku yang sangat banyak. Tradisi penterjemahan dan penciptaan buku-buku ilmu pengetahuan menjadi sebuah kebutuhan yang diprioritaskan saat itu. Pada zaman pemerintahan Al-Ma’mun (813-833 M), kemajuan terjemahan pengetahuan mencapai kemajuan sangat pesat. Dengan resmi pemerintah membangunkan sebuah sekolah di Bagdad yang menjadi pusat penterjemahan. Inilah sekolah perterjemahan pertama di dunia yang dibuat secara serius. Sekolah ini semakin menarik sebab terintegrasi dengan taman-taman pustaka. Sejarah mencatat, tradisi penterjemahan ini memiliki tokoh yang sangat penting yaitu Hunayn Ibnu Ishaq (809-877 M). Hunayn adalah seorang doktor ahli filsafat yang telah menterjemahkan 100 buah buku tentang pengobatan dan filsafat ke dalam bahasa Syria dan 39 buah ke dalam bahasa Arab.

Betapa Islam, pada masa kejayaannya adalah kaum yang memiliki pengaruh di berbagai bidang ilmu. Bahkan tidak hanya pada satu bidang ilmu saja, astronomi, fisika, kimia, matematika, hingga sastrapum dipelajari dengan apik oleh kaum muslim pada zaman kejayaannya dulu. Perkembangan lainnya adalah ketika berkembanganya pemikiran filsafat di kalangan Islam. Banyak pemeluk agama lain yang tertarik dengan Islam karena tradisi berfikir yang kritis dan mendasar. Bahkan, buku-buku filsafat yang dibuat oleh para filosof Islam banyak mempengaruhi negara lain sehingga banyak yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain.

Gerakan berliterasi sudah diterapkan oleh para cendekiawan muslim dahulu. Membaca, berdiskusi dan menulis, adalah bentuk literasi yang kerap dilakukan. Namun apakah tradisi literasi tersebut masih dilakukan oleh masyarakat kita saat ini? Tentu masih, tapi tak banyak. Perkembangan teknologi dan pengaruh internet jadi salah satu faktor semakin menurunnya minat baca kita. Lebih baik membaca status teman facebook daripada membaca buku, lebih baik buat kilas cerita di instagram dibanding menulis ribuan karakter artikel. Agaknya itu sudah melekat pada generasi kita. Alangkah baiknya, kita sebagai umat muslim, kembali menegakkan budaya literasi, untuk mencapai kejayaan islam yang dulu pernah dilakukan oleh para pendahulu kita.

Selamat Hari Buku!

Saturday, 21 April 2018 13:50

Kartini, Pejuang Pendidikan Kaum Perempuan

SOLOPEDULI.ORG - Siapa yang tak mengenal Kartini, sosok pahlawan perempuan Indonesia yang memperjuangkan nasib perempuan Indonesia kala itu. Kartini tidak berjuang dalam perang melawan penjajah seperti Cut Meutia. Namun, RA Kartini lebih memperjuangkan kaum perempuan pribumi yang tidak diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Ia berjuang dengan mendirikan sekolah gratis khusus perempuan, juga melalui tulisan yang ia tulis kepada temannya yang berada di Belanda. Dari surat-surat itulah, awal mulai “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Kartini, adalah sosok yang ingin memajukan perempuan Indonesia supaya memiliki hak mendapatkan pendidikan sama halnya dengan laki-laki. Kartini, juga merupakan sosok yang senang berkawan, namun larangan-larangan dari pihak keluarga membuatnya mengalami hambatan untuk bergaul luas, bahkan untuk menimba ilmu.

Ketika, ia sudah lulu ELS (sekolah setingkat sekolah dasar pada waktu itu), Kartini harus rela dipingit oleh kedua orangtuanya sampai menjelang ia menikah. Namun, hal tersebut tidak menghalangi Kartini untuk terus berjuang untuk perempuan-perempuan pribumi. Ia mendirikan sekolah gratis untuk perempuan, sekolah yang mengajari cara menjahit, menyulam dan sebagainya. Bahkan, Kartini sempat mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di Belanda, ia berniat belajar sebagai pendidik yang lebih baik sehingga dapat mendidik perempuan-perempuan Indonesia dengan cara yang lebih baik pula. Namun lagi-lagi, ia terhalang restu orang tua, yang akhirnya membuat ia harus dinikahkan dengan bupati Rembang saat itu, Raden Adipati Joyodiningrat.

Tak mau menyerah walau sudah menikah, Kartini masih berjuang di jalannya. Ia banyak bergaul dengan orang-orang terpelajar, dan membaca buku-buku tentang kemajuan perempuan-perempuan Eropa. Ia juga kembali mendirikan sekolah perempuan di Rembang, juga masih sering bersurat dengan sahabat-sahabatnya di Belanda mengenai pemikiran-pemikirannya untuk memajukan perempuan di Indonesia.

Sosok Kartini memberikan kita pencerahan, betapa pentingnya ilmu dan pengetahuan. Tidak hanya terbatas pada kaum adam saja, kaum hawa juga berhak menuntut ilmu. Tak peduli berapa usia, semua bukan alasan untuk tidak memperoleh pendidikan. Kondisi masyarakat Indonesia yang pada saat itu masih memegang teguh adat Jawa, di mana seorang perempuan tidak dibebaskan keluar rumah.

Dalam Islam, menuntut ilmu ialah kewajiban. Tidak berbatas untuk kaum adam saja, atau bangsawan saja. Semua orang islam diperbolehkan menuntut ilmu, bahkan sampai negeri China sekalipun. “Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki, maupun muslim perempuan.” (HR. Ibnu Abdul Barr)

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia, maka wajib bagunya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat, maka wajib bagunya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu.” (HR. Tirmidzi)

Perjuangan Kartini, menjadi salah satu contoh yang nyata, betapa mencari ilmu dahulu tak semudah sekarang. Zaman sekarangpun, masih ada saudara-saudara kita yang terjebak dalam keadaan yang membuat mereka tidak bisa mengenyam pendidikan.

Semoga dapat bermanfaat dan menumbuhkan semangat untuk kita dalam mencari ilmu. Selamat memperingati Hari Kartini.

 

Referensi: Kumparan

 

Friday, 20 April 2018 13:38

Kisah Jenaka Nu’aiman

SOLOPEDULI.ORG - Bercanda atau tertawa bukanlah hal yang dilarang dalam Islam. Asalkan candaan serta tertawanya tidak berlebihan, karena Allah tidak menyukai yang berlebihan. Rasulullah pun juga suka bercanda dan tertawa sekadarnya. Pernah ada sahabat Rasulullah yang orangnya jahil, Nu’aiman namanya.

Rasul selalu tertawa mendengarkan kisah dari Nu’aiman dan Suwaibith. Dikisahkan, suatu ketika Nu’aiman dan Suwaibith dengan Abu Bakar dalam khalifah berdagang ke Negeri Busra. Suwaibith ditugaskan untuk mengurusi perbekalan. Singkat cerita, mereka berdua ditinggal oleh Abu Bakar karena adanya urusan.

Tinggallah mereka berdua di lapak dagang, dan tiba-tiba Nu’aiman meminta makanan kepada Suwaibith karena lapar. Namun, Suwaibith tidak memberi, dan memintanya untuk menunggu Abu Bakar kembali terlebih dahulu. Nu’aiman kesal dan pergi ke para pedagang budak.  Nu’aiman menawarkan seorang budak yang gagah, tampan dan rajin, siapa lagi kalau bukan Suwaibith. Para pedagang budakpun merasa tertarik. “Tapi budak yang satu ini pintar bicara, mungkin saja nanti dia bilang dia merdeka. Kalian jangan terpengaruh, ikat saja kalau perlu, harganya 10 ekor unta,” ujar Nu’aiman. Para pedagang budak setuju. Bergegaslah Nu’aiman ke lapak membawa 10 ekor unta dengan para pedagang budak itu.

“Kami telah membelimu!” sontak para pedagang budak itu, membuat Suwaibith terkejut. Dia mengelak dan mengatakan dirinya adalah orang yang merdeka. Namun, para pedagang budak itu tidak menghiraukan dan mengikatnya.

Ketika Abu Bakar kembali dari urusannya, barulah dia menjelaskan kepada para pedagang budak dan mengembalikan 10 unta mereka. Selama satu tahun kisah kejahilan dari Nu’aiman selalu berhasil membuat Rasul dan para sahabat tertawa mendengarnya.

Dari kisah tersebut, kita mengetahui bahwa Rasulullah adalah orang yang suka bercanda, tidak selalu kaku dan formal. Banyak kisah jenaka lain tentang Rasulullah dan para sahabat namun jarang terekspos. Semoga dengan cerita ini membuat kita sedikit terhibur.

 

Referensi: Islami

Thursday, 19 April 2018 13:59

Keutamaan Menjalin Silaturahmi

 

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi.

(HR. Bukhari dan Muslim)

 

SOLOPEDULI.ORG - Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, yang mana membutuhkan bantuan orang lain dan tak dapat hidup sendiri. Oleh karena itulah, bersosialisasi dengan orang lain, baik tetangga  teman maupun saudara merupakan sebuah hal yang lumrah. Begitu banyak manfaat yang kita dapatkan dari bersilaturahmi, seperti halnya bertukar informasi, hingga saling bantu membantu. Rasulullah pun juga mencontohkan kita untuk bersilaturahmi. Berikut keutamaan menjalin silaturahmi:

 

1. Pertanggungjawaban Iman kepada Allah SWT

Seorang yang beriman, tentunya memiliki pemikiran yang lebih terbuka dalam menjalin relasi. Baik relasi kerja maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Seorang beriman, pastilah mampu menjalin hubungan silaturahmi dengan sesamanya. Karena silaturahmi merupakan tanda bahwa seorang itu adalah orang yang beriman.

Bukannya beriman, namun enggan bertegur sapa dengan tetangganya, menghindari berkumpul dengan orang-orang yang beriman. Orang yang menjaga silaturahmi adalah salah satu bukti bahwa orang tersebut adalah orang yang beriman.

 

 2. Dipanjangkan Umurnya dan Diluaskan Rezekinya

Bagi orang yang suka bersilaturahmi, maka akan dilancarkan rezekinya. Seperti halnya ketika kita berkunjung ke rumah saudara, kita mendapatkan bingkisan, walau kita tidak meminta. Atau, ketika kita sedang bertemu dengan kawan kita, tiba-tiba saja kawan kita memberikan informasi yang sedang kita butuhkan. Rezeki memang sudah diatur oleh Allah, namun sebagai manusia kita tak tahu kapan, di mana, dan bagaimana rezeki itu datang. Dan, silaturahmi menjadi salah satu jalan untuk mendapatkan rezeki tersebut.

 

“Barangsiapa yang senang diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi” (HR Bukhari dan Muslim)

 

3. Didekatkan dengan Surga

“Engkau menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahmi.” (HR Bukhari dan Muslim)

 

Menjalin silaturahmi disandingkan dengan menunaikan zakat dan mendirikan salat. Menjalin silaturhami juga dapat membuat kita dekat dan dimudahkan jalan kita menuju surga. Sebaik-baiknya umat adalah umat yang saling menjaga saudaranya, maka Allah akan menjaganya dan memasukkannya ke surga.

“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan (silaturahmi)” (HR Bukhari dan Muslim)

 

4. Kelebihan Bersedekah untuk Keluarga Sendiri

Mengunjungi sanak saudara, membawakan mereka oleh-oleh menjadi salah satu contoh sederhana bersilaturahmi sembari bersedekah dan penuh berkah. Terlebih yang kita beri sedekah adalah keluarga kita sendiri. Bersedekah kepada keluarga lebih diutamakan, untuk menghindari riya’.

 

 “Sedekah terhadap orang miskin adalah sedekah dan terhadap keluarga sendiri mendapat dua pahala: sedekah dan silaturahmi.” (HR Tirmidzi)

 

Meskipun silaturahmi memiliki banyak keutamaan tidak sedikit orang yang meninggalkannya. Menyepelekan bersilaturahmi bukanlah hal yang baik. Meskipun orang yang kita kunjungi berbuat zhalim, melakukan atau memiliki sifat sombong, kita harus tetap menjalin tali silaturahmi yang baik sebagaimana yang disebutkan dalam hadist berikut,“sambunglah orang yang memutuskan (hubungan dengan) mu, berilah kepada orang yang tidak memberi kepadamu, dan berpalinglah dari orang yang berbuat zalim kepadamu.” (HR Ahmad)

Demikianlah itu adalah keutamaan mengapa kita harus menjalin silaturahmi. Mengunjungi saudara tak harus setiap hari, namun alangkah baiknya kita tetap menjaga komunikasi dengan sanak saudara kita demi kebaikan diri kita sendiri, maupun orang di sekeliling kita.

Semoga bermanfaat.

 

Referensi: Dalam Islam

Save

Solo peduli News