solopeduli

solopeduli

SOLOPEDULI.ORG | Bolehkah Qurban Untuk Orang Yang Telah Meninggal Dunia Pada asalnya, ibadah Qurban disyariatkan bagi mereka yang berkemampuan dan masih hidup sebagaimana Rasulullah saw dan para sahabat yang telah menyembelih qurban untuk diri dan keluarganya. Namun, jika ahli keluarga seperti ibu dan bapak telah pun meninggal dunia, bolehkah kita niatkan ibadah qurban untuk mereka?

Para ulama membagi kepada 3 keadaan dalam hal berqurban bagi yang telah meninggal dunia.

Pertama, Berniat qurban untuk dirinya sendiri dan keluarganya dengan harapan agar pahalanya diberikan untuk diri dan seluruh keluarganya yang masih hidup mahupun yang telah meninggal dunia. Sebagaimana qurban yang dilakukan Rasulullah untuk diri dan keluarganya di mana di antara mereka adalah orang yang telah meninggal.

Ini sebagaimana tersebut dalam hadits;

“Artinya : Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta seekor domba bertanduk, lalu dibawakan untuk disembelih sebagai kurban. Lalu beliau berkata kepadanya (Aisyah), “Wahai , Aisyah, bawakan pisau”, kemudian beliau berkata : “Tajamkanlah (asahlah) dengan batu”. Lalu ia melakukannya. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabil pisau tersebut dan mengambil domba, lalu menidurkannya dan menyembelihnya dengan mengatakan : “Bismillah, wahai Allah! Terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari umat Muhammad”, kemudian menyembelihnya” [HR. Muslim]

Kedua, Berqurban untuk orang yang telah meninggal dunia sebagai memenuhi wasiat orang tersebut ketika masih hidup, meskipun orang tersebut mewasiatkan qurban dilakukan setiap tahun.

Hal ini wajib dilakukan, kecuali jika tidak mampu menunaikannya. Allah SWT mewajibkan ahli waris untuk menunaikan wasiat orang yang telah meninggal dunia sebagaimana firman-NYA;

“Maka barang siapa yang merubah(wasiat) setelah dia mendengarnya maka dosanya akan dipikul oleh orang-orang yang menggantikannya sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengetahui”. [QS. Albaqarah: 181]

Qurban atas nama orang yang sudah meninggal juga dibolehkan sekiranya orang yang meninggal tersebut bernazar (belum tertunaikan) untuk melaksanakan qurban atas dirinya dan ahli waris wajib memenuhinya. Seperti firman Allah SWT, ”Dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka.” (QS. Al Hajj : 29), hal ini dikuatkan oleh kisah dari Ibnu Abbas bahawa Sa’ad bin Ubadah meminta fatwa kepada Rasulullah SAW dan berkata, ”Sesungguhnya ibuku telah meninggal dan ia masih memiliki tanggungan nazar namun tidak sempat berwasiat.’ Maka Rasulullah saw bersabda, ’Tunaikanlah untuknya.” (HR. Abu Daud)

Ketiga, Berqurban untuk orang yang sudah meninggal sebagai kebaikan hati dari orang hidup supaya yang meninggal tersebut mendapat tambahan pahala (berqurban tanpa wasiat darinya dan bukan untuk menunaikan nadzarnya).

Dalam konteks ini, terdapat banyak perdebatan di antara hukum-hukum qurban di kalangan para ulama.

Pendapat pertama, mengatakan sah berqurban atas nama yang sudah meninggal dunia kerena qurban yang ditujukan untuk orang yang telah meninggal diumpamakan dengan sedekah dan pahalanya sampai kepada yang meninggal tersebut.

Dalil lain yang juga digunakan oleh para ulama didalam membolehkan qurban bagi orang yang meninggal adalah firman Allah swt,”dan bahawasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diUSAHAkannya,” (QS. An Najm : 39)

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Ibnu Katsir merujuk kepada sabda Rasulullah saw,”Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal : dari sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

Beliau mengatakan, ”Tiga golongan didalam hadits ini, sebenarnya semua berasal dari USAHA, kerja keras dan amalnya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, ’Sesungguhnya makanan yang paling baik dimakan seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri dan sesungguhnya seorang anak adalah hasil dari usaha (orang tua) nya.” (Abu Daud, Tirmidzi, an Nasai dan Ahmad).

Firman Allah swt., ”Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasiin : 12) –(Tafsir Ibnu Katsir juz VII hal 465, Maktabah Syamilah).

Namun pendapat lainnya pula mengatakan tidak sah qurban atas nama yang meninggal dunia tanpa wasiat darinya. Ini berdasarkan Imam Nawawi Rahimahullah berkata: “Tidak sah kurban atas nama orang lain tanpa seizinnya, dan tidak pula atas nama si mati jika ia tidak berwasiat dengannya.” (Al-Minhaj: 1/248)

Mengkhususkan qurban untuk yang telah meninggal dunia juga bukanlah sunnah yang harus diagung-agungkan karena tidak terdapat sebarang riwayat pengkhususan qurban untuk orang yang telah meninggal dunia. Rasulullah saw tidak pernah mengkhususkan ibadah qurban untuk orang yang sudah meninggal dunia, baik itu dari keluarga, kerabat maupun sahabat baginda.

Thursday, 19 July 2018 07:10

Kisah Al Baqarah di Zaman Nabi Musa

SOLOPEDULI.ORG | Kisah Al Baqarah di Zaman Nabi Musa - Singkatnya, tersebutlah di kalangan Bani Israil seorang kaya raya. Dia mempunyai saudara sepupu yang fakir. Tidak ada ahli waris selain dirinya. Ketika orang kaya tersebut tidak lekas mati, maka saudara sepupu ini membunuhnya agar dia dapat mewarisi hartanya. Lalu dia membawa mayat saudaranya ke desa lain lalu melemparkan di pelataran desa. Kemudian dia berlagak hendak menuntut balas. Dia bersama orang-orang mendatangi Nabi Musa ‘alaihissalam lalu mereka memohon kepada Nabi Musa ‘alaihissalam agar berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala supaya diberi keterangan mengenai pembunuh orang tersebut.

Kemudian Nabi Musa ‘alaihissalam memerintahkan mereka agar menyembelih sapi dengan berkata kepada mereka:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” (QS. Al-Baqarah: 67).

Maksudnya, apakah engkau mengejek kami, padahal kami bertanya kepadamu mengenai orang yang terbunuh, dan engkau justru memerintahkan kami agar menyembelih sapi.

Lantas Nabi Musa ‘alaihissalam menjawab:

“Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-Baqarah: 67)

Maksudnya, termasuk orang-orang yang mengejek kaum mukmin.

Ketika orang-orang mengetahui bahwa menyembelih sapi merupakan rencana dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka mereka menanyakan ciri-ciri sapi tersebut kepada Nabi Musa ‘alaihissalam.

Ternyata di balik hal tersebut ada hikmah besar, yaitu bahwa di kalangan Bani Israil terdapat orang shalih. Dia mempunyai anak laki-laki yang masih kecil dan dia mempunyai anak sapi betina. Dia membawa anak sapi tersebut ke dalam hutan dan berkata, “Ya Allah! Saya menitipkan anak sapi ini kepada-Mu untuk anakku kelak jika dia dewasa.”

Selanjutnya orang shalih ini meninggal dunia, sehingga anak sapi ini masih di hutan sampai bertahun-tahun. Anak sapi itu berlari setiap kali dilihat oleh orang. Ketika anak orang shalih tadi telah dewasa, dia menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Dia membagi malamnya menjadi tiga bagian. Dia melaksanakan shalat dalam sepertiga malam, tidur dalam sepertiga malam, dan duduk di samping ibunya dalam sepertiga malam. Di pagi hari dia mencari kayu bakar yang ditaruh di punggungnya, lalu datang ke pasar untuk menjual kayunya sesuai kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian dia menyedekahkan sepertiganya, memakan sepertiganya, dan memberikan kepada sang ibu sepertiganya.

Pada suatu hari sang ibu berkata kepadanya, “Sesungguhnya ayahmu telah mewariskan anak sapi betina untukmu yang dia titipkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di hutan ini, maka berangkatlah! Berdoalah kepada Rabb Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Nabi Ismail ‘alaihissalam, dan Nabi Ishaq ‘alaihissalam agar mengembalikan anak sapi tersebut kepadamu. Ciri-cirinya, jika engkau melihatnya, kamu membayangkan seakan-akan sinar matahari memancar dari kulitnya. Dia diberi nama ‘Al-Mudzahhabah’ karena keindahan dan kejernihannya.”

Kemudian anak tersebut memasuki hutan, lalu dia melihat anak sapi sedang merumput, lantas dia memanggilnya dengan mengatakan, “Saya bermaksud kepadamu dengan menyebut nama Rabb Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Nabi Ismail ‘alaihissalam, dan Nabi Ishaq ‘alaihissalam.” Kontan sapi itu menengok ke arahnya dan berjalan mendekatinya sehingga sapi tersebut berdiri di hadapannya. Dia lalu memegang lehernya dan menuntunnya.

Dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, tiba-tiba sapi tersebut bicara, “Wahai anak yang berbakti kepada kedua orang tua! Tunggangilah aku, karena hal itu lebih meringankanmu.’

Anak tersebut berkata, “Sesungguhnya ibuku tidak memerintahkanku melakukan hal itu. Akan tetapi, beliau berkata ‘peganglah lehernya.’”

Sapi itu berkata, “Demi Rabb Bani Israil, jika engkau menunggangiku, niscaya kamu tidak dapat menguasaiku untuk selamanya. Ayo berangkat! Sungguh, jika engkau memerintahkan gunung melepaskan diri dari pangkalnya dan berjalan bersamamu, niscaya ia melakukannya lantaran baktimu kepada ibumu.”

Lantas pemuda tersebut berjalan bersama sapi menemui ibunya. Sang ibu berkata kepadanya, “Sesungguhnya engkau orang fakir. Engkau tidak memiliki harta. Engkau kerepotan mencari kayu bakar di siang hari dan melakukan qiyamul lail di malam hari. Oleh karena itu, pergilah. Jual sapi ini!”

Si anak bertanya , “Saya jual dengan harga berapa?”

Ibunya menjawab, “Tiga dinar. Engkau jangan menjual tanpa pertimbanganku.” Harga sapi telah dipatok tiga dinar. Sang anak pun berangkat ke pasar.

Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus malaikat agar dia melihat makhluk-Nya dan kekuasaan-Nya sekaligus untuk menguji pemuda tersebut bagaimana baktinya kepada ibunya. Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui hal tersebut.

Sang malaikat bertanya, “Kamu jual sapi ini dengan harga berapa?”

Dia menjawab, “Tiga dinar. Dengan catatan ibuku meridhainya.”

Lantas malaikat berkata, “Saya beli enam dinar. Tetapi engkau tidak perlu meminta persetujuan ibumu.”

Pemuda itu berkata, “Seandainya engkau memberiku emas seberat sapi ini pun, saya tidak akan mengambilnya melainkan dengan ridha ibuku.”

Kemudian dia membawa pulang sapi kepada ibunya dan dia menceritakan tentang harganya.

Lalu sang ibu berkata, “Kembali lagi! Juallah dengan harga enam dinar berdasarkan ridha dariku.’

Dia pun berangkat ke pasar dan menemui malaikat. Sang malaikat bertanya, “Apakah engkau telah meminta persetujuan ibumu?”

Pemuda itu menjawab, “Beliau menyuruhku agar tidak mengurangi harganya dari enam dinar dengan catatan saya meminta persetujuan ibu.”

Sang malaikat berkata, “Saya akan memberimu dua belas dinar.”

Pemuda itupun menolak, lalu kembali kepada ibunya dan menceritakan hal tersebut kepadanya.

Ibunya berkata, “Sungguh, orang yang mendatangimu adalah malaikat dalam bentuk manusia untuk mengujimu. Jika dia mendatangimu lagi, katakan padanya, ‘Apakah engkau memerintahkan kami untuk menjual sapi ini ataukah tidak?”

Pemuda itu pun melakukan hal tersebut, lalu malaikat berkata, “Kembalilah kepada ibumu. Dan tolong sampaikan padanya, ‘Biarkanlah sapi ini. Sungguh Nabi Musa bin Imran ‘alaihissalam akan membelinya dari kalian untuk mengungkap korban pembunuhan seseorang di kalangan kaum Bani Israil. Janganlah engkau menjualnya kecuali dengan kepingan dinar yang memenuhi kulitnya. Oleh karena itu, tahan dulu sapi ini.’”

Allah Subhanahu wa Ta’ala memang menakdirkan orang-orang Bani Israil yang menyembelih sapi itu. Mereka terus-menerus menanyakan ciri-ciri sapi tersebut dan ternyata ciri-ciri yang diberikan sesuai dengan ciri-ciri sapi pemuda shalih tersebut. Hal ini merupakan imbalan bagi pemuda tersebut atas baktinya kepada sang ibu sebagai anugerah dan kasih sayang.

Akhirnya mereka pun membeli sapi tersebut dengan emas sepenuh kulit sapi. Lantas mereka menyembelih sapi tersebut kemudian memukulkan bagian dari sapi kepada korban pembunuhan sebagaimana perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selanjutnya orang yang terbunuh bangkit; hidup lagi dengan izin Allah, sedang urat lehernya masih mengalirkan darah. Lalu dia berkata, “Yang membunuh saya adalah fulan.” Kemudian dia jatuh dan mati di tempatnya. Maka, si pembunuh terhalang mendapat warisan.

 

Sumber: kisahmuslim 

Friday, 20 July 2018 09:49

Hukum Qurban Online

SOLOPEDULI.ORG | Hukum Qurban Online - Bulan Dzulhijjah adalah bulan penuh rahmat, sebagaimana disebutkan dalam hadits, bahwa sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah adalah hari baik untuk berjihad di jalan Allah dan akan kembali dengan selamat. Maka dari itu, sekitar tanggal 1 hingga 10 di bulan haji tersebut masyarakat dianjurkan untuk melakukan amal saleh sebanyak-banyaknya, seperti berdzikir, sholat sunnah, puasa sunah, sedekah, dan lain sebagainya.

Di bulan ini juga akan dirayakan hari Idul Adha, di mana umat muslim sangat dianjurkan untuk berkurban hewan seperti kambing, domba, sapi, kerbau, bahkan unta. Uniknya, dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, untuk membantu masyarakat menjalankan perintah agama itu, sekarang sudah ada layanan qurban online.

Menunaikan Ibadah Qurban

Umumnya, masyarakat banyak melakukan puasa Arafah, yakni pada satu hari sebelum hari Raya Idul Adha dilanjutkan dengan melakukan amalan terpenting di bulan Dzulhijjah yakni berqurban. Momen ini merupakan salah satu bentuk ketaatan umat Islam kepada Allah SWT dengan melakukan salah satu perintah-Nya. Setelah melakukan sholat Idul Adha, umat Islam melakukan ritual qurban yang berlangsung hingga tiga hari ke depan setelah Idul Adha, namun akan lebih baik jika dilakukan pada hari awal Idul Adha setelah solat Ied.

Qurban itu sunnah bagi mereka yang mampu, oleh karena itu, bagi yang memiliki rezeki ada baiknya menyisihkan beberapa persen rezeki untuk membeli hewan qurban. Namun, berqurban juga tidak boleh sembarangan. Walaupun berqurban merupakan ibadah utama bagi umat muslim, alangkah baiknya mengetahui terlebih dahulu beberapa sunnah sebelum menyembelih sapi kurban atau hewan kurban lainnya.

 

Qurban dengan Sistem Online

Teknologi yang semakin canggih membuat masyarakat dapat dengan mudahnya melakukan ibadah qurban pada panitia qurban di lokasi tertentu yang cukup jauh. Caranya pun cukup mudah, hanya perlu melakukan transfer sejumlah uang kepada panitia sebesar harga hewan yang akan diqurbankan, misalnya seharga sapi kurban atau kambing kurban.

Setelah itu, panitia qurban akan membelikan hewan qurban atas nama orang yang telah melakukan transfer dan segera melakukan penyembelihan. Di akhir proses, daging hewan qurban tersebut akan dibagikan kepada beberapa orang yang membutuhkan di daerah lain. Namun, selama ini kita tak pernah tahu pula dengan detail bagaimana dan siapa yang melakukan proses penyembelihan hewan qurban tersebut, selanjutnya adalah jaminan akan hewan qurban tersebut juga menjadi pertanyaan besar saat ini.

 

Hukum Qurban Online

Menurut para ulama, melaksanakan qurban secara online diperbolehkan sebab tidak ada dalil jelas hingga saat ini yang melarang hal tersebut. Konsekuensi dari berqurban online adalah orang yang berqurban tidak akan tahu keberadaan secara nyata hewan qurban tersebut karena mereka tidak menyaksikan sekaligus tidak melakukan proses penyembelihan secara mandiri. Namun hal tersebut hukumnya sunnah, jika hanya dilakukan sebagai perwakilan maka tidak menjadi masalah.

Pada umumnya, jika masyarakat melakukan ibadah sembelih, maka 1/3 bagian daging qurban tersebut disunnahkan untuk dimiliki sendiri oleh pemiliknya, dan dibagikan kepada orang lain sebagai sedekah dan hadiah. Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk qurban online maka orang yang berqurban tidak dapat merasakan daging qurban tersebut.

Selain itu, hukum yang selama ini dilaksanakan adalah kita bisa menyaksikan sendiri proses penyembelihan tersebut namun hal ini juga dapat diwakilkan oleh orang lain. Akan tetapi, proses utama ini tidak akan dirasakan oleh umat yang melakukan qurban online. Kekurangan tersebut juga diperkuat dengan ketidaktahuan umat terhadap kapan waktu penyembelihannya. Pada tanggal 1 Dzulhijjah pemotong qurban disunnahkan untuk tidak memotong kuku dan rambut hingga hewan disembelih. Manakala seseorang melakukan qurban online maka tidak akan mengetahui kapan waktu disembelihnya qurban tersebut, sehingga umat tidak akan tahu batasan akhir memotong rambut maupun kuku.

 

Tetap Bermanfaat

Namun bagi yang melakukan qurban online janganlah berkecil hati, walaupun tak bisa menjalani keutamaan seperti saat menyembelih secara mandiri, terdapat sisi positif bahwa tidak ada panitia qurban online yang membagikan daging qurban tersebut kecuali kepada orang-orang yang membutuhkan. Disarankan jika akan melakukan qurban online, sebaiknya mencari penyalur terpercaya dan mendekati sunnah berqurban.

Dalil juga menjelaskan, bahwa tidak menyalahi aturan karena tidak ada yang melarang menyalurkan hewan qurban ke daerah lain secara jelas. Terdapat banyak orang yang lebih membutuhkan daging qurban tersebut daripada diri kita sendiri, terutama di beberapa daerah di belahan Indonesia maupun di belahan dunia lainnya. Secara tidak langsung, sebagai Mudhohi (orang yang berqurban) Anda mendapatkan keutamaan menolong fakir miskin dari kelaparan.

Solopeduli salah satu lembaga terpercaya, memberikan kesempatan bagi para shohibul untuk berqurban paling murah dengan cara klik http://solopeduli.org/berbagiqurban/. Selain itu daging qurban juga dibagikan kepada desa yang benar-benar membutuhkan. Dibuktikan Para shohibul mendapatkan foto-foto saat daging qurban di sembelih dan dibagikan oleh warga. Berqurban benar-benar mudah dan murah di Solopeduli.

Sekian artikel mengenai Hukum Qurban Online, semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan anda tentang hukum Ber-Qurban.

 

Referensi : Cermati

 

 

 

 

SOLOPEDULI.ORG, Karanganyar – Aksi Tanggap Bencana (SIGAB) SOLOPEDULI pada Senin 16/7 menyalurkan bantuan berupa bantuan biaya hidup, sembako dan pakaian layak pakai bagi keluarga Bapak Ayub, korban kebakaran di Perumahan Bumi Wonorejo, Gondangrejo, Karanganyar. Kebakaran yang terjadi pada Minggu 15/7 akibat arus pendek listrik ini menyebabkan rumah Ayub bersama seluruh isinya habis dilalap si jago merah. Bantuan dari SOLOPEDULI ini langsung diterima oleh istri Ayub ibu Sartini.

Istri Ayub Ibu Sartini menyampaikan “terimakasih kepada SOLOPEDULI yang sudah peduli dengan kami, semoga membawa berkah dan doakan kami agar sabar dan ikhlas”. Dalam kunjungannya ke rumah Bapak Ayub, Siti Aminah selaku kepala area Karanganyar menyampaikan “ kami turut berduka cita atas insiden kebakaran tersebut, kami berharap bantuan SOLOPEDULI dapat sedikit meringankan beban derita yang dialami oleh kurban”.

SOLOPEDULI merupakan Lembaga Zakat sosial yang bergerak dalam penghimpunan dana zakat, infak, sedekah dan dana-dana sosial untuk disalurkan kepada masyarakat dhuafa dan yang membutuhkan melalui program-program sosial yang inovatif dan solutif, seperti program Siaga Bencana seperti pemberian bantuan kebakaran dan recoveri pasca bencana. “dengan bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak tentunya kesulitan yang dialami keluarga Bapak Ayub akan teratasi dan proses recoveri pasca bencana dapat terealisasikan, kami mengajak masyarakat dan semua pihak untuk bersama-sama membantu keluarga Bapak Ayub dengan ikut berpartisipasi donasi melalui SOLOPEDULI” tutur Nurrudin selaku Kordinator SIGAB SOLOPEDULI dalam wawancaranya pada Kamis 19/7. (Diyah)

SOLOPEDULI.ORG, SOLO – Prihadi (36) menempati rumah yang tidak layak huni. Atap terlihat tidak layak karena banyak genteng yang rusak, bahkan disalah satu bagian rumahnya tidak ada atapnya sama sekali. Apabila turun hujan, rumah akan banjir terlebih bila hujan turun di malam hari akan menambah menambah sulit keluarga prihadi karena air akan memenuhi rumah dan tidak ada tempat untuk tidur. Rumah yang dibangun tanpa pondasi tersebut dihuni oleh 5 orang, yakni Prihadi bersama istri dan kedua anaknya serta ibu dari bapak Prihadi.

Bekerja sebagai buruh serabutan yang tidak pasti bekerjannya membuat Prihadi sulit merenovasi rumahnya. Sedangkan pekerjaan istrinya hanya seorang buruh pabrik yang gajinyan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saat ini rumah Prihadi tidak dialiri listrik sama sekali, malam hari hanya mengandalkan lilin untuk pencahayaan.

Kebutuhan yang diperlukan oleh bapak Prihadi untuk merenovasi rumah adalah kayu, seng dan juga asbes/genteng untuk merenovasi rumahnya. Meski pernah mendapat bantuan dari masyarakat sekitar, namun itu masih belum cukup untuk merenovasi seluruh rumah yang berada di Gulon RT 3/19Jebres Solo tersebut. Rabu 18/7/2018 SOLOPEDULI memberikan bantuan berupa paket sembako, uang tunai dan member klinik gratis bagi Prihadi dan istrinya yang saat ini sedang mengandung anak ketiga. Namun, bantuan masih sangat dibutuhkan prihadi dan keluarganya untuk bisa merenovasi rumah yang layak huni.
Direktur Program Solopeduli Wahyu Wahnuri menyampaikan "Bantuan SOLOPEDULI ini sebagai awal, kami akan terus menggalang dana untuk kebutuhan renovasi rumah, SOLOPEDULI juga menerima bantuan dari dermawan untuk disalurkan bagi keluarga Prihadi" (Diyah)

Save

Solo peduli News