Bukanlah Daging Kurban Namun Takwa Yang Diharapkan - Yang diharap yang utama bukanlah daging atau darah yang mengalir setelah penyembelihan. Yang terpenting yang Allah harap dari ibadah kurban adalah takwa dan keikhlasan kita.

Allah Ta’ala berfirman,

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al Hajj: 37)

Kata Syaikh As Sa’di mengenai ayat di atas, “Ingatlah, bukanlah yang dimaksudkan hanyalah menyembelih saja dan yang Allah harap bukanlah daging dan darah kurban tersebut karena Allah tidaklah butuh pada segala sesuatu dan Dialah yang pantas diagung-agungkan. Yang Allah harapkan dari kurban tersebut adalah keikhlasan, ihtisab (selalu mengharap-harap pahala dari-Nya) dan niat yang sholih. Oleh karena itu, Allah katakan (yang artinya), “Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapai ridho-Nya”. Inilah yang seharusnya menjadi motivasi ketika seseorang berkurban yaitu ikhlas, bukan riya’ atau berbangga dengan harta yang dimiliki, dan bukan pula menjalankannya karena sudah jadi rutinitas tahunan. Inilah yang mesti ada dalam ibadah lainnya. Jangan sampai amalan kita hanya nampak kulit saja yang tak terlihat isinya atau nampak jasad yang tak ada ruhnya.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 539).

Sudahkah kita melakukan ibadah kurban tersebut untuk meraih takwa? Barangkali niat kita yang tidak benar karena ingin pamer harta dengan besarnya kurban yang disembelih? Hati-hati dengan niat tidak ikhlas.

Jeleknya amalan yang tidak ikhlas diterangkan dalam hadits berikut.

عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ ». قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِىَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِى الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً »

Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik ashgor.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik ashgor, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “(Syirik ashgor adalah) riya’. Allah Ta’ala berkata pada mereka yang berbuat riya’ pada hari kiamat ketika manusia mendapat balasan atas amalan mereka: ‘Pergilah kalian pada orang yang kalian tujukan perbuatan riya’ di dunia. Lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?’ (HR. Ahmad 5: 429. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Hanya Allah yang memberi taufik.

 

Referensi : Rumaysho

Menyembelih Hewan Qurban Ketika Berhaji - Menyembelih hewan qurban merupakan upaya memahami pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. saat diperintahkan Allah agar menyembelih putranya Ismail. Dengan penuh ketegaran, melalui isyarat mimpi yang membenarkan perintah itu, Nabi Ibrahim-pun menaatinya. Dan atas kemurahan-Nya, Allah kemudian mengganti Ismail dengan binatang sembelihan yang besar.

Kurban ketika Haji

Jamaah haji hendaknya menyembelih hadyu (binatang kurban yang dibawanya), jika ada. Yang lebih utama ialah menyembelihnya dengan tangannya sendiri.

Berkurban dengan unta adalah lebih utama. Kemudian seekor sapi, setelah itu seekor domba. Dan berkurban sendiri dengan seekor domba adalah lebih utama dibandingkan dengan tujuh orang bersama-sama berkurban dengan seekor unta atau sapi. Demikian pula, seekor domba (kambing kibas) lebih utama dari pada kambing biasa. Sabda Rasulullah Saw,

“Sebaik-baiknya udh-hiyah (kurban) ialah domba bertanduk.” (HR. Abu dawud dari ‘Ubadah ibn as-Shamit, dan Tirmidzi dari Abu Umamah)

Adapun domba yang putih lebih utama dari pada yang abu-abu atau hitam. Dari Abu Hurairah, “Binatang kurban yang putih lebih utama dari pada dua ekor yang berwarna hitam.”

Dan diperbolehkan ia (yang berkurban) ikut makan sebagian darinya, jika itu merupakan hadyu sunnah (bukan yang diwajibkan baginya). Dan janganlah berkurban dengan hewan yang cacat seperti pincang, patah tanduknya, terpotong telinganya, berpenyakit kurap, sangat kurus, lumpuh dan sebagainya.

Hikmah Penyembelihan Hewan Qurban

Dalam penyembelihan hewan qurban ini terwujud dua hikmah.

Pertama, mengajarkan umat untuk memiliki ketaatan yang sempurna kepada Allah. Sebab, sejatinya perintah adalah ujian. Rasa kemanusiaan memang sisi sensitif manusia yang maha rentan dan menguras belas kasihan. Allah maha mengetahui hal itu dan Dia maha pemurah kepada hamba-hamba-Nya, karena itulah Ia mengganti Ismail dengan binatang sembelihan. Dari sini, ada sisi kemanusiaan yang dibela, di samping sedikit dipermainkan dengan perintah yang dalam kaca mata manusia sedikit berlebihan itu. Pesan intinya, cinta kepada Allah hendaknya ditempatkan di atas cinta pada apapun.

Kedua, karena menyembelih hewan tebusan pada dasarnya adalah bersedekah, dengan sendirinya hal itu menjadi wujud dari rasa syukur atas nikmat Allah, baik berupa kesempatan melaksanakan ibadah haji maupun nikmat lain yang jumlahnya tak terhitung. Sebab, tidak diragukan lagi bahwa hanya orang-orang tertentulah yang mampu melaksanakan ibadah haji. Di samping harus memiliki kesiapan (harta, fisik, mental, dan keilmuan), seseorang yang melaksanakan haji juga tidak bisa lepas dari garis ketentuan. Perpaduan dua hal inilah yang seseorang yang sudah memiliki kesiapan dalam segala hal, namun belum tergerak untuk menunaikan haji. Adapun salah satu sebab kewajiban menyembelih binatang atas orang yang menjalankan ibadah haji tamattu’ dan qiran, adalah keadaan dua model pelaksanaan haji tersebut yang berasal dari adat jahiliyah, yang sudah diubah.

Pada saat menyembelih hadyu (hewan kurban yang telah disediakan dalam rangka ibadah haji), hendaknya mengetahui bahwa hal itu merupakan upaya pendekatan diri kepada Allah dengan mematuhi perintah-Nya. Karena itu, hendaknya jamaah haji menyempurnakan hadyu dan berharap agar Allah membebaskan seluruh anggota tubuh dari siksa api neraka, sebagai imbalan atas setiap bagian dari hadyu yang dikurbankan.

Demikian semoga artikel Menyembelih Hewan Qurban Ketika Berhaji diatas bermanfaat.

 

Referensi : berhaji

Thursday, 26 July 2018 08:35

Tata Cara Shalat Gerhana Bulan

Tata Cara Shalat Gerhana Bulan - Dua hari lagi, tepatnya Sabtu 28 Juli 2018, fenomena gerhana bulan total akan kembali terjadi dan bisa diamati dari seluruh Indonesia. 

Gerhana bulan Juli 2018 langka dan istimewa, sebab merupakan gerhana bulan total terlama di abad ini. Gerhana bulan Juli 2018 merupakan fenomena yang memperlihatkan kekuasaan Allah SWT, maka kaum Muslim disunnahkan untuk menunaikan shalat gerhana bulan. Selain mengerjakan shalat gerhana bulan, umat islam juga dianjurkan untuk membaca takbir, berdoa kepada Allah SWT dan bersedekah. Shalat gerhana bulan sebaiknya dikerjakan secara berjamaah di masjid sebelum atau setelah shalat Subuh. Shalat gerhana bulan merupakan amalan sunnah muakkad.

Dalilnya adalah firman Allah SWT :

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Dan dari sebagian tanda-tanda-Nya adalah adanya malam dan siang serta adanya matahari dan bulan. Janganlah kamu sujud kepada matahari atau bulan tetapi sujudlah kepada Allah Yang Menciptakan keduanya. (QS. Fushshilat : 37)

Maksud dari perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Yang Menciptakan matahari dan bulan adalah perintah untuk mengerjakan shalat gerhana matahari dan gerhana bulan.

 

Berikut ini tata cara shalat gerhana bulan :

 

1. Dua Rakaat

 Shalat gerhana dilakukan sebanyak 2 rakaat. Masing-masing rakaat dilakukan dengan 2 kali berdiri, 2 kali membaca qiraah surat Al-Quran, 2 ruku’ dan 2 sujud. Ini didasarkan pada dalil hadis berikut ini:

“Dari Abdullah bin Amru berkata,’Tatkala terjadi gerhana matahari pada masa Nabi SAW, orang-orang diserukan untuk shalat “As-shalatu jamiah’. Nabi melakukan 2 ruku’ dalam satu rakaat kemudian berdiri dan kembali melakukan 2 ruku’ untuk rakaat yang kedua. Kemudian matahari kembali nampak. Aisyah ra berkata,’Belum pernah aku sujud dan ruku’ yang lebih panjang dari ini.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

2. Bacaan Al-Quran

Shalat gerhana termasuk jenis shalat sunnah yang panjang dan lama durasinya. Di dalam hadits shahih disebutkan tentang betapa lama dan panjang shalat yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

“Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu, dia berkata bahwa telah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah SAW. Maka Rasulullah SAW melakukan shalat bersama-sama dengan orang banyak. Beliau berdiri cukup lama sekira panjang surat Al-Baqarah, kemudian beliau SAW ruku’ cukup lama, kemudian bangun cukup lama, namun tidak selama berdirinya yang pertama. Kemudian beliau ruku’ lagi dengan cukup lama tetapi tidak selama ruku’ yang pertama.”  (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Pada rakaat pertama, surat yang dibaca setelah Al Fatihah diutamakan adalah surat yang panjang, seperti Al Baqarah. Sedangkan pada rakaat kedua, setelah Al Fatihah, yang dibaca surat panjang sekitar 200-an ayat, seperti Ali Imran.

Lebih utama bila pada rakaat pertama pada berdiri yang pertama setelah Al-Fatihah dibaca surat seperti Al-Baqarah dalam panjangnya.

Sedangkan berdiri yang kedua masih pada rakaat pertama dibaca surat dengan kadar sekitar 200-an ayat, seperti Ali Imran.

 

3. Memperlama Ruku’ dan Sujud

Disunnahkan untuk memanjangkan ruku’ dan sujud dengan bertasbih kepada Allah SWT, baik pada 2 ruku’ dan sujud rakaat pertama maupun pada 2 ruku’ dan sujud pada rakaat kedua.

Panjang dimaksud dengan panjang disini memang sangat panjang, sebab bila dikadarkan dengan ukuran bacaan ayat Al-Quran, bisa dibandingkan dengan membaca 100, 80, 70 dan 50 ayat surat Al-Baqarah.

Panjang ruku’ dan sujud pertama pada rakaat pertama seputar 100 ayat surat Al-Baqarah, pada ruku’ dan sujud kedua dari rakaat pertama seputar 80 ayat surat Al-Baqarah. Dan seputar 70 ayat untuk rukuk dan sujud pertama dari rakaat kedua. Dan sujud dan rukuk terakhir sekadar 50 ayat.

 

Dalilnya merujuk pada hadis-hadis shahih yang telah disepakati para ulama.

 “Dari Ibnu Abbas ra berkata,”Terjadi gerhana matahari dan Rasulullah SAW melakukan shalat gerhana. Beliau beridri sangat panjang sekira membaca surat Al-Baqarah. Kemudian beliau ruku’ sangat panjang lalu berdiri lagi dengan sangat panjang namun sedikit lebih pendek dari yang pertama. Lalu ruku’ lagi tapi sedikit lebih pendek dari ruku’ yang pertama. Kemudian beliau sujud. Lalu beliau berdiri lagi dengan sangat panjang namun sidikit lebih pendek dari yang pertama, kemudian ruku’ panjang namun sedikit lebih pendek dari sebelumnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

4. Setelah shalat gerhana bulan selesai disunnahkan untuk khutbah dan mendengarkannya bagi makmum.

 

Semoga artikel Tata Cara Shalat Gerhana Bulan  bermanfaat.

Referensi : Islampos

Baca Juga : Harga Hewan Qurban Solopeduli

 

Anda Berqurban? Jangan Abaikan Sunah Ini | Maha Kaya Allah telah memberi rezeki berkecukupan sehingga tahun ini kita bisa melaksanakan ibadah qurban. Sebab tidak semua orang mampu melaksanakannya. Entah ketidakmampuan secara materi maupun mampu secara kesadaran diri. Sedang kita semoga tergolong sebagai orang yang mampu secara materi dan kesadaran diri untuk selalu berusaha mengamalkan perintah Allah Swt. Salah satunya berqurban.

Ketika kita berqurban, ada sunah Rasulullah Saw yang barangkali belum banyak orang mengetahuinya. Seperti yang dikatakan Rasulullah Saw dalam hadis yang diriwayatkan Muslim,

Dari Ummu Salamah Ra, katanya, "Rasulullah Saw bersabda, "Barangsiapa yang memiliki binatang kurban yang hendak disembelihnya, maka apabila telah tampak sabitnya bulan Dzulhijjah, janganlah sekali-kali ia mengambil -yakni memotong atau mencukur- dari rambutnya dan jangan pula dari kuku-kukunya sedikitpun, sehingga ia selesai menyembelih kurbannya itu.”

Dalam hadis tersebut memiliki beberapa titik poin penting di antaranya:
(1) Orang yang sudah memiliki hewan qurban
(2) Saat terlihat hilal atau memasuki sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah
(3) Jangan memotong atau mencukur rambut dan kuku

Jelas sekali pada ketiga poin di atas menerangkan bahwasannya saat kita sudah hendak berqurban, di waktu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah tidak diperkenankan untuk memotong atau mencukur rambut (baik pada kepala, ketiak, tangan, kaki, kemaluan, dan lainnya), kuku, serta mengupas kulit badan (baik pada telapak tangan, kaki, ujung jari, tumit, atau yang lainnya).

Larangan ini hanya diperuntukkan untuk yang hendak berqurban saja, bukan untuk keluarga besar yang melaksanakan ibadah qurban. Pun larangan ini berakhir hingga tiba pada hari ke sebelas Dzulhijjah. Semoga kita termasuk muslim yang dipilih Allah untuk senantiasa menghidupkan kembali sunah nabi. Aamiiin.[]

 

#Qurban Mudah dan Murah

 

SOLOPEDULI.ORG | Bolehkah Qurban Untuk Orang Yang Telah Meninggal Dunia Pada asalnya, ibadah Qurban disyariatkan bagi mereka yang berkemampuan dan masih hidup sebagaimana Rasulullah saw dan para sahabat yang telah menyembelih qurban untuk diri dan keluarganya. Namun, jika ahli keluarga seperti ibu dan bapak telah pun meninggal dunia, bolehkah kita niatkan ibadah qurban untuk mereka?

Para ulama membagi kepada 3 keadaan dalam hal berqurban bagi yang telah meninggal dunia.

Pertama, Berniat qurban untuk dirinya sendiri dan keluarganya dengan harapan agar pahalanya diberikan untuk diri dan seluruh keluarganya yang masih hidup mahupun yang telah meninggal dunia. Sebagaimana qurban yang dilakukan Rasulullah untuk diri dan keluarganya di mana di antara mereka adalah orang yang telah meninggal.

Ini sebagaimana tersebut dalam hadits;

“Artinya : Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta seekor domba bertanduk, lalu dibawakan untuk disembelih sebagai kurban. Lalu beliau berkata kepadanya (Aisyah), “Wahai , Aisyah, bawakan pisau”, kemudian beliau berkata : “Tajamkanlah (asahlah) dengan batu”. Lalu ia melakukannya. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabil pisau tersebut dan mengambil domba, lalu menidurkannya dan menyembelihnya dengan mengatakan : “Bismillah, wahai Allah! Terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari umat Muhammad”, kemudian menyembelihnya” [HR. Muslim]

Kedua, Berqurban untuk orang yang telah meninggal dunia sebagai memenuhi wasiat orang tersebut ketika masih hidup, meskipun orang tersebut mewasiatkan qurban dilakukan setiap tahun.

Hal ini wajib dilakukan, kecuali jika tidak mampu menunaikannya. Allah SWT mewajibkan ahli waris untuk menunaikan wasiat orang yang telah meninggal dunia sebagaimana firman-NYA;

“Maka barang siapa yang merubah(wasiat) setelah dia mendengarnya maka dosanya akan dipikul oleh orang-orang yang menggantikannya sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengetahui”. [QS. Albaqarah: 181]

Qurban atas nama orang yang sudah meninggal juga dibolehkan sekiranya orang yang meninggal tersebut bernazar (belum tertunaikan) untuk melaksanakan qurban atas dirinya dan ahli waris wajib memenuhinya. Seperti firman Allah SWT, ”Dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka.” (QS. Al Hajj : 29), hal ini dikuatkan oleh kisah dari Ibnu Abbas bahawa Sa’ad bin Ubadah meminta fatwa kepada Rasulullah SAW dan berkata, ”Sesungguhnya ibuku telah meninggal dan ia masih memiliki tanggungan nazar namun tidak sempat berwasiat.’ Maka Rasulullah saw bersabda, ’Tunaikanlah untuknya.” (HR. Abu Daud)

Ketiga, Berqurban untuk orang yang sudah meninggal sebagai kebaikan hati dari orang hidup supaya yang meninggal tersebut mendapat tambahan pahala (berqurban tanpa wasiat darinya dan bukan untuk menunaikan nadzarnya).

Dalam konteks ini, terdapat banyak perdebatan di antara hukum-hukum qurban di kalangan para ulama.

Pendapat pertama, mengatakan sah berqurban atas nama yang sudah meninggal dunia kerena qurban yang ditujukan untuk orang yang telah meninggal diumpamakan dengan sedekah dan pahalanya sampai kepada yang meninggal tersebut.

Dalil lain yang juga digunakan oleh para ulama didalam membolehkan qurban bagi orang yang meninggal adalah firman Allah swt,”dan bahawasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diUSAHAkannya,” (QS. An Najm : 39)

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Ibnu Katsir merujuk kepada sabda Rasulullah saw,”Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal : dari sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

Beliau mengatakan, ”Tiga golongan didalam hadits ini, sebenarnya semua berasal dari USAHA, kerja keras dan amalnya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, ’Sesungguhnya makanan yang paling baik dimakan seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri dan sesungguhnya seorang anak adalah hasil dari usaha (orang tua) nya.” (Abu Daud, Tirmidzi, an Nasai dan Ahmad).

Firman Allah swt., ”Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasiin : 12) –(Tafsir Ibnu Katsir juz VII hal 465, Maktabah Syamilah).

Namun pendapat lainnya pula mengatakan tidak sah qurban atas nama yang meninggal dunia tanpa wasiat darinya. Ini berdasarkan Imam Nawawi Rahimahullah berkata: “Tidak sah kurban atas nama orang lain tanpa seizinnya, dan tidak pula atas nama si mati jika ia tidak berwasiat dengannya.” (Al-Minhaj: 1/248)

Mengkhususkan qurban untuk yang telah meninggal dunia juga bukanlah sunnah yang harus diagung-agungkan karena tidak terdapat sebarang riwayat pengkhususan qurban untuk orang yang telah meninggal dunia. Rasulullah saw tidak pernah mengkhususkan ibadah qurban untuk orang yang sudah meninggal dunia, baik itu dari keluarga, kerabat maupun sahabat baginda.

 

#Qurban Mudah dan Murah

Thursday, 19 July 2018 07:10

Kisah Al Baqarah di Zaman Nabi Musa

SOLOPEDULI.ORG | Kisah Al Baqarah di Zaman Nabi Musa - Singkatnya, tersebutlah di kalangan Bani Israil seorang kaya raya. Dia mempunyai saudara sepupu yang fakir. Tidak ada ahli waris selain dirinya. Ketika orang kaya tersebut tidak lekas mati, maka saudara sepupu ini membunuhnya agar dia dapat mewarisi hartanya. Lalu dia membawa mayat saudaranya ke desa lain lalu melemparkan di pelataran desa. Kemudian dia berlagak hendak menuntut balas. Dia bersama orang-orang mendatangi Nabi Musa ‘alaihissalam lalu mereka memohon kepada Nabi Musa ‘alaihissalam agar berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala supaya diberi keterangan mengenai pembunuh orang tersebut.

Kemudian Nabi Musa ‘alaihissalam memerintahkan mereka agar menyembelih sapi dengan berkata kepada mereka:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” (QS. Al-Baqarah: 67).

Maksudnya, apakah engkau mengejek kami, padahal kami bertanya kepadamu mengenai orang yang terbunuh, dan engkau justru memerintahkan kami agar menyembelih sapi.

Lantas Nabi Musa ‘alaihissalam menjawab:

“Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-Baqarah: 67)

Maksudnya, termasuk orang-orang yang mengejek kaum mukmin.

Ketika orang-orang mengetahui bahwa menyembelih sapi merupakan rencana dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka mereka menanyakan ciri-ciri sapi tersebut kepada Nabi Musa ‘alaihissalam.

Ternyata di balik hal tersebut ada hikmah besar, yaitu bahwa di kalangan Bani Israil terdapat orang shalih. Dia mempunyai anak laki-laki yang masih kecil dan dia mempunyai anak sapi betina. Dia membawa anak sapi tersebut ke dalam hutan dan berkata, “Ya Allah! Saya menitipkan anak sapi ini kepada-Mu untuk anakku kelak jika dia dewasa.”

Selanjutnya orang shalih ini meninggal dunia, sehingga anak sapi ini masih di hutan sampai bertahun-tahun. Anak sapi itu berlari setiap kali dilihat oleh orang. Ketika anak orang shalih tadi telah dewasa, dia menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Dia membagi malamnya menjadi tiga bagian. Dia melaksanakan shalat dalam sepertiga malam, tidur dalam sepertiga malam, dan duduk di samping ibunya dalam sepertiga malam. Di pagi hari dia mencari kayu bakar yang ditaruh di punggungnya, lalu datang ke pasar untuk menjual kayunya sesuai kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian dia menyedekahkan sepertiganya, memakan sepertiganya, dan memberikan kepada sang ibu sepertiganya.

Pada suatu hari sang ibu berkata kepadanya, “Sesungguhnya ayahmu telah mewariskan anak sapi betina untukmu yang dia titipkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di hutan ini, maka berangkatlah! Berdoalah kepada Rabb Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Nabi Ismail ‘alaihissalam, dan Nabi Ishaq ‘alaihissalam agar mengembalikan anak sapi tersebut kepadamu. Ciri-cirinya, jika engkau melihatnya, kamu membayangkan seakan-akan sinar matahari memancar dari kulitnya. Dia diberi nama ‘Al-Mudzahhabah’ karena keindahan dan kejernihannya.”

Kemudian anak tersebut memasuki hutan, lalu dia melihat anak sapi sedang merumput, lantas dia memanggilnya dengan mengatakan, “Saya bermaksud kepadamu dengan menyebut nama Rabb Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Nabi Ismail ‘alaihissalam, dan Nabi Ishaq ‘alaihissalam.” Kontan sapi itu menengok ke arahnya dan berjalan mendekatinya sehingga sapi tersebut berdiri di hadapannya. Dia lalu memegang lehernya dan menuntunnya.

Dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, tiba-tiba sapi tersebut bicara, “Wahai anak yang berbakti kepada kedua orang tua! Tunggangilah aku, karena hal itu lebih meringankanmu.’

Anak tersebut berkata, “Sesungguhnya ibuku tidak memerintahkanku melakukan hal itu. Akan tetapi, beliau berkata ‘peganglah lehernya.’”

Sapi itu berkata, “Demi Rabb Bani Israil, jika engkau menunggangiku, niscaya kamu tidak dapat menguasaiku untuk selamanya. Ayo berangkat! Sungguh, jika engkau memerintahkan gunung melepaskan diri dari pangkalnya dan berjalan bersamamu, niscaya ia melakukannya lantaran baktimu kepada ibumu.”

Lantas pemuda tersebut berjalan bersama sapi menemui ibunya. Sang ibu berkata kepadanya, “Sesungguhnya engkau orang fakir. Engkau tidak memiliki harta. Engkau kerepotan mencari kayu bakar di siang hari dan melakukan qiyamul lail di malam hari. Oleh karena itu, pergilah. Jual sapi ini!”

Si anak bertanya , “Saya jual dengan harga berapa?”

Ibunya menjawab, “Tiga dinar. Engkau jangan menjual tanpa pertimbanganku.” Harga sapi telah dipatok tiga dinar. Sang anak pun berangkat ke pasar.

Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus malaikat agar dia melihat makhluk-Nya dan kekuasaan-Nya sekaligus untuk menguji pemuda tersebut bagaimana baktinya kepada ibunya. Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui hal tersebut.

Sang malaikat bertanya, “Kamu jual sapi ini dengan harga berapa?”

Dia menjawab, “Tiga dinar. Dengan catatan ibuku meridhainya.”

Lantas malaikat berkata, “Saya beli enam dinar. Tetapi engkau tidak perlu meminta persetujuan ibumu.”

Pemuda itu berkata, “Seandainya engkau memberiku emas seberat sapi ini pun, saya tidak akan mengambilnya melainkan dengan ridha ibuku.”

Kemudian dia membawa pulang sapi kepada ibunya dan dia menceritakan tentang harganya.

Lalu sang ibu berkata, “Kembali lagi! Juallah dengan harga enam dinar berdasarkan ridha dariku.’

Dia pun berangkat ke pasar dan menemui malaikat. Sang malaikat bertanya, “Apakah engkau telah meminta persetujuan ibumu?”

Pemuda itu menjawab, “Beliau menyuruhku agar tidak mengurangi harganya dari enam dinar dengan catatan saya meminta persetujuan ibu.”

Sang malaikat berkata, “Saya akan memberimu dua belas dinar.”

Pemuda itupun menolak, lalu kembali kepada ibunya dan menceritakan hal tersebut kepadanya.

Ibunya berkata, “Sungguh, orang yang mendatangimu adalah malaikat dalam bentuk manusia untuk mengujimu. Jika dia mendatangimu lagi, katakan padanya, ‘Apakah engkau memerintahkan kami untuk menjual sapi ini ataukah tidak?”

Pemuda itu pun melakukan hal tersebut, lalu malaikat berkata, “Kembalilah kepada ibumu. Dan tolong sampaikan padanya, ‘Biarkanlah sapi ini. Sungguh Nabi Musa bin Imran ‘alaihissalam akan membelinya dari kalian untuk mengungkap korban pembunuhan seseorang di kalangan kaum Bani Israil. Janganlah engkau menjualnya kecuali dengan kepingan dinar yang memenuhi kulitnya. Oleh karena itu, tahan dulu sapi ini.’”

Allah Subhanahu wa Ta’ala memang menakdirkan orang-orang Bani Israil yang menyembelih sapi itu. Mereka terus-menerus menanyakan ciri-ciri sapi tersebut dan ternyata ciri-ciri yang diberikan sesuai dengan ciri-ciri sapi pemuda shalih tersebut. Hal ini merupakan imbalan bagi pemuda tersebut atas baktinya kepada sang ibu sebagai anugerah dan kasih sayang.

Akhirnya mereka pun membeli sapi tersebut dengan emas sepenuh kulit sapi. Lantas mereka menyembelih sapi tersebut kemudian memukulkan bagian dari sapi kepada korban pembunuhan sebagaimana perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selanjutnya orang yang terbunuh bangkit; hidup lagi dengan izin Allah, sedang urat lehernya masih mengalirkan darah. Lalu dia berkata, “Yang membunuh saya adalah fulan.” Kemudian dia jatuh dan mati di tempatnya. Maka, si pembunuh terhalang mendapat warisan.

 

Sumber: kisahmuslim 

#http://solopeduli.org/berbagiqurban/

Friday, 20 July 2018 09:49

Hukum Qurban Online

SOLOPEDULI.ORG | Hukum Qurban Online - Bulan Dzulhijjah adalah bulan penuh rahmat, sebagaimana disebutkan dalam hadits, bahwa sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah adalah hari baik untuk berjihad di jalan Allah dan akan kembali dengan selamat. Maka dari itu, sekitar tanggal 1 hingga 10 di bulan haji tersebut masyarakat dianjurkan untuk melakukan amal saleh sebanyak-banyaknya, seperti berdzikir, sholat sunnah, puasa sunah, sedekah, dan lain sebagainya.

Di bulan ini juga akan dirayakan hari Idul Adha, di mana umat muslim sangat dianjurkan untuk berkurban hewan seperti kambing, domba, sapi, kerbau, bahkan unta. Uniknya, dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, untuk membantu masyarakat menjalankan perintah agama itu, sekarang sudah ada layanan qurban online.

Menunaikan Ibadah Qurban

Umumnya, masyarakat banyak melakukan puasa Arafah, yakni pada satu hari sebelum hari Raya Idul Adha dilanjutkan dengan melakukan amalan terpenting di bulan Dzulhijjah yakni berqurban. Momen ini merupakan salah satu bentuk ketaatan umat Islam kepada Allah SWT dengan melakukan salah satu perintah-Nya. Setelah melakukan sholat Idul Adha, umat Islam melakukan ritual qurban yang berlangsung hingga tiga hari ke depan setelah Idul Adha, namun akan lebih baik jika dilakukan pada hari awal Idul Adha setelah solat Ied.

Qurban itu sunnah bagi mereka yang mampu, oleh karena itu, bagi yang memiliki rezeki ada baiknya menyisihkan beberapa persen rezeki untuk membeli hewan qurban. Namun, berqurban juga tidak boleh sembarangan. Walaupun berqurban merupakan ibadah utama bagi umat muslim, alangkah baiknya mengetahui terlebih dahulu beberapa sunnah sebelum menyembelih sapi kurban atau hewan kurban lainnya.

 

Qurban dengan Sistem Online

Teknologi yang semakin canggih membuat masyarakat dapat dengan mudahnya melakukan ibadah qurban pada panitia qurban di lokasi tertentu yang cukup jauh. Caranya pun cukup mudah, hanya perlu melakukan transfer sejumlah uang kepada panitia sebesar harga hewan yang akan diqurbankan, misalnya seharga sapi kurban atau kambing kurban.

Setelah itu, panitia qurban akan membelikan hewan qurban atas nama orang yang telah melakukan transfer dan segera melakukan penyembelihan. Di akhir proses, daging hewan qurban tersebut akan dibagikan kepada beberapa orang yang membutuhkan di daerah lain. Namun, selama ini kita tak pernah tahu pula dengan detail bagaimana dan siapa yang melakukan proses penyembelihan hewan qurban tersebut, selanjutnya adalah jaminan akan hewan qurban tersebut juga menjadi pertanyaan besar saat ini.

 

Hukum Qurban Online

Menurut para ulama, melaksanakan qurban secara online diperbolehkan sebab tidak ada dalil jelas hingga saat ini yang melarang hal tersebut. Konsekuensi dari berqurban online adalah orang yang berqurban tidak akan tahu keberadaan secara nyata hewan qurban tersebut karena mereka tidak menyaksikan sekaligus tidak melakukan proses penyembelihan secara mandiri. Namun hal tersebut hukumnya sunnah, jika hanya dilakukan sebagai perwakilan maka tidak menjadi masalah.

Pada umumnya, jika masyarakat melakukan ibadah sembelih, maka 1/3 bagian daging qurban tersebut disunnahkan untuk dimiliki sendiri oleh pemiliknya, dan dibagikan kepada orang lain sebagai sedekah dan hadiah. Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk qurban online maka orang yang berqurban tidak dapat merasakan daging qurban tersebut.

Selain itu, hukum yang selama ini dilaksanakan adalah kita bisa menyaksikan sendiri proses penyembelihan tersebut namun hal ini juga dapat diwakilkan oleh orang lain. Akan tetapi, proses utama ini tidak akan dirasakan oleh umat yang melakukan qurban online. Kekurangan tersebut juga diperkuat dengan ketidaktahuan umat terhadap kapan waktu penyembelihannya. Pada tanggal 1 Dzulhijjah pemotong qurban disunnahkan untuk tidak memotong kuku dan rambut hingga hewan disembelih. Manakala seseorang melakukan qurban online maka tidak akan mengetahui kapan waktu disembelihnya qurban tersebut, sehingga umat tidak akan tahu batasan akhir memotong rambut maupun kuku.

 

Tetap Bermanfaat

Namun bagi yang melakukan qurban online janganlah berkecil hati, walaupun tak bisa menjalani keutamaan seperti saat menyembelih secara mandiri, terdapat sisi positif bahwa tidak ada panitia qurban online yang membagikan daging qurban tersebut kecuali kepada orang-orang yang membutuhkan. Disarankan jika akan melakukan qurban online, sebaiknya mencari penyalur terpercaya dan mendekati sunnah berqurban.

Dalil juga menjelaskan, bahwa tidak menyalahi aturan karena tidak ada yang melarang menyalurkan hewan qurban ke daerah lain secara jelas. Terdapat banyak orang yang lebih membutuhkan daging qurban tersebut daripada diri kita sendiri, terutama di beberapa daerah di belahan Indonesia maupun di belahan dunia lainnya. Secara tidak langsung, sebagai Mudhohi (orang yang berqurban) Anda mendapatkan keutamaan menolong fakir miskin dari kelaparan.

Solopeduli salah satu lembaga terpercaya, memberikan kesempatan bagi para shohibul untuk berqurban paling murah dengan cara klik http://solopeduli.org/berbagiqurban/. Selain itu daging qurban juga dibagikan kepada desa yang benar-benar membutuhkan. Dibuktikan Para shohibul mendapatkan foto-foto saat daging qurban di sembelih dan dibagikan oleh warga. Berqurban benar-benar mudah dan murah di Solopeduli.

Sekian artikel mengenai Hukum Qurban Online, semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan anda tentang hukum Ber-Qurban.

 

Referensi : Cermati

Qurban Mudah dan Murah

SOLOPEDULI.ORG | Hikmah Larangan Memotong Kuku Dan Rambut Bagi Shahibul Qurban - Sahibul Qurban atau orang-orang berniat untuk berqurban dilarang memotong kuku dan memangkas rambutnya mulai awal bulan Dzulhijah hingga pelaksanaan qurbannya selesai.

Hal ini telah perintahkan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Siapa saja yang ingin berqurban dan apabila telah memasuki awal Dzulhijjah (1 Dzulhijah), maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sampai ia berqurban.” (HR. Muslim).

Imam An-Nawawi Rahimahullah dalam Kitab Syarah Shahih Muslim, pada Bab Berqurban, menjelaskan, yang dimaksud rambut dalam hadits tersebut tidak hanya rambut kepala, tapi semua jenis rambut/bulu seperti bulu ketiak, bulu di badan, dan sebagainya.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, apa hikmahnya bagi shahibul qurban yang hendak berqurban dilarang memotong kuku dan rambutnya dari awal bulan Dzulhijjah sampai dengan waktu menyembelih sembelihannya nanti ketika Idul Adha.

Sebagaimana Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

مَن كانَ لَهُ ذِبحٌ يَذبَـحُه فَإِذَا أَهَلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ

”Apabila engkau telah memasuki sepuluh hari pertama (bulan Dzulhijjah) sedangkan diantara kalian ingin berkurban maka janganlah dia menyentuh (memotong) sedikitpun bagian dari rambut dan kukunya.” (HR. Muslim)

Berikut penjelasan dari syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah,

“Jika ada orang yang bertanya, apa hikmah larangan memotong kuku dan rambut, maka kita jawab dengan dua alasan:

Pertama:

Tidak diragukan lagi bahwa larangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam pasti mengandung hikmah. Demikian juga perintah terhadap sesuatu adalah hikmah, hal ini cukuplah menjadi keyakinan setiap orang yang beriman (yaitu yakin bahwa setiap perintah dan larangan pasti ada hikmahnya baik yang diketahui ataupun tidak diketahui, pent).

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukumi (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. an-Nur: 51)

Kedua:

Agar manusia di berbagai penjuru dunia mencocoki orang yang berihram haji dan umrah karena orang yang berihram untuk haji dan umrah juga tidak boleh memotong kuku dan rambut.

Ada juga ulama yang berpendapat dengan pendapat yang lain misalnya:

l  Hikmahnya agar seluruh anggota tubuh orang yang berkurban tetap lengkap sehingga bisa dibebaskan dari api Neraka.

l  Ada pendapat juga hikmahnya adalah membiarkan rambut dan kuku tetap ada dan dipotong bersama sembelihan kurban, sehingga menjadi bagian kurban disisi Allah.

Wallahu a’lam. Yang terpenting adalah alasan pertama yang disampaikan, bahwa jika ada perintah dan larangan hendaknya seorang yang berimana segera melaksanakannya dan yakin pasti ada hikmah dan kebaikan di dalamnya. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata dalam risalahnya,

الدين مبني على المصالح في جلبها و الدرء للقبائح

Agama dibangun atas dasar  berbagai kemashlahatan

Mendatangkan mashlahat dan menolak berbagai keburukan”

Kemudian beliau menjelaskan,

ما أمر الله بشيئ, إلا فيه من المصالح ما لا يحيط به الوصف

Tidaklah Allah memerintahkan sesuatu kecuali padanya terdapat berbagai mashlahat yang tidak bisa diketahui secara menyeluruh” (Risaalah fiil Qowaaidil fiqhiyah hal. 41, Maktabah Adwa’us salaf)

Itulah Hikmah Larangan Memotong Kuku Dan Rambut Bagi Shahibul Qurban. Semoga bermanfaat dan mudah mudahan ibadah Qurban kita diterima oleh Allah SWT.

Referensi : Islamedia

#Qurban Mudah dan Murah

SOLOPEDULI.ORG | Kisah Perjuangan Suami Istri Pemulung Untuk Berqurban - Siapa yang menyangka seorang nenek bekerja sebagai pemulung yang sudah berumur 65 tahun mampu berkurban dua ekor kambing  dengan harga masing-masing  1 juta dan 2 juta, bahkan kambingnya menjadi kambing terbesar diantara 27 kambing yang dikurbankan di Masjid Al Ittihad, sebuah Masjid megah yang terletak di kawasan elite Tebet Mas, Jaksel. Pasangan suami istri yang berprofesi sebagai pemulung memberikan dua hewan qurban di Masjid Al Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan. Pengurus masjid yang menerima dua ekor kambing itu menangis terharu.

 

“Saya nangis, tidak kuat menahan haru,” ujar Juanda (50), salah satu pengurus Masjid Al Ittihad, Jumat (26/10/2012).

 

Juanda menceritakan, Selasa (23/10/2012), seorang pemulung bernama Maman datang ke Masjid Al Ittihad. Masjid megah ini terletak di kawasan elit Tebet Mas, Jaksel.

 

“Bawanya pakai bajaj. Dia kasih dua ekor kambing untuk qurban. Dia bicara tegas, justru saya yang menerimanya tak kuat. Saya menangis,” kata Juanda.

 

Dua kambing qurban yang diserahkan pemulung itu berwarna cokelat dan putih. Kambing itu justru yang paling besar di antara kambing-kambing lain. Juanda menceritakan, pengurus lain pun terharu mendengar cerita ini. Begitu juga jamaah shalat Idul Adha saat mendengar pengumuman lewat pengeras suara sebelum shalat dilaksanakan. Mungkin, saat membaca cerita ini, mata Anda pun berkaca-kaca.

Adalah pasangan suami istri Yati (55)  dan Maman (35), keduanya pemulung, menabung susah payah untuk berqurban. Yati mengaku,  sempat ditertawakan saat bercerita seputar niatnya untuk berqurban.

 

“Pada ketawa, bilang sudah pemulung, sudah tua, nggembel, ngapain qurban,” cerita Yati, Jumat (26/10/2012).

 

Tapi Yati bergeming. Dia tetap meneruskan niatnya untuk membeli hewan qurban. Akhirnya setelah menabung tiga tahun, Yati bisa berqurban tahun ini.

 

“Pada bilang apa tidak sayang, mending uangnya untuk yang lain. Tapi saya pikir sekali seumur hidup masak tidak pernah qurban. Malu cuma nunggu daging kurban,” beber Yati.

 

Yati dan suaminya, Maman, sama-sama berprofesi sebagai pemulung. Pendapatan mereka jika digabung cuma Rp 25 ribu per hari. Tapi akhirnya mereka bisa membeli dua ekor kambing. Masing-masing berharga Rp 1 juta dan Rp 2 juta. Dua kambing ini disumbangkan ke Masjid Al Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan. Jemaah masjid megah itu pun meneteskan air mata haru.

 

Pasangan suami istri ini tinggal di gubuk triplek kecil di tempat sampah Tebet, Jakarta Selatan. Saat kami mengunjungi gubuk Yati usai Shalat Idul Adha, Jumat (26/10/2012), Juanda, pengurus Masjid Al Ittihad, ikut menemani.

 

Yati membukakan pintu dan mempersilakan masuk. Tak ada barang berharga di gubuk 3×4 meter itu. Sebuah televisi rongsokan berada di pojok ruangan. Sudah bertahun-tahun TV itu tak menyala. Wanita asal Pasuruan, Jawa Timur ini bercerita soal mimpinya bisa berqurban. Dia malu setiap tahun harus mengantre meminta daging. “Saya ingin sekali saja bisa berqurban. Malu seumur hidup hanya minta daging,” katanya. Yati mengaku sudah lama tinggal di pondok itu. Dia tak ingat sudah berapa lama membangun gubuk dari triplek di jalur hijau peninggalan Gubernur Legendaris Ali Sadikin itu.

 

“Di sini ya tidak bayar. Mau bayar ke siapa? Ya numpang hidup saja,” katanya ramah.

 

Setiap hari Yati mengelilingi kawasan Tebet hingga Bukit Duri. Dia pernah kena asam urat sampai tak bisa jalan. Tapi Yati tetap bekerja, dia tak mau jadi pengemis.

 

“Biar ngesot saya harus kerja. Waktu itu katanya saya asam urat karena kelelahan kerja. Maklum sehari biasa jalan jauh. Ada kali sepuluh kilo,” akunya.

 

Juanda yang menjaga Masjid Al Ittihad terharu saat Yati bercerita mimpi bisa berqurban lalu berusaha keras mengumpulkan uang hingga akhirnya bisa membeli dua ekor kambing.

 “Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil,” gumamnya.

 

Di tengah kemiskinan yang mendera, Yati-Maman, dua pemulung ini berqurban dua kambing–setelah dengan susah payah menabung selama 3 tahun. Bagaimana bagi yang memiliki kemampuan, tapi tak tergerak untuk berqurban?  Dan siapa disangka pula berkat keikhlasan dan ketulusannya itu Allah SWT  membalasnya melalui Mensos Salim Segaf Al Djufri yang mendengar tentang kisah Nek Yati ini.

 

Begitu mendengar kisah Nek Yati, Salim Segaf langsung memerintahkan stafnya untuk menelusuri keberadaan Nek Yati. Ketika berjumpa dengan Nek Yati dengan terbata-bata karena haru Salim Segaf  menyampaikan bahwa Mak Yati adalah simbol perbaikan sosial. Di saat kondisinya yang sulit, dia masih bisa membantu masyarakat lain lewat kurban.

 

Mensos pun memberi ‘hadiah’ berupa modal usaha ekonomi produksi sebesar Rp 5 juta. Mak Yati bisa menggunakan uang tersebut untuk awal membuat usaha baru, tidak lagi menjadi pemulung yang sudah beliau lakoni selama 40 tahun di Jakarta ini.

 

Tidak hanya itu, Salim Segaf juga menawarkan Nek  Yati kemudahan untuk kembali ke kampungnya di Pasuruan, Jawa Timur. “beliau juga sudah cukup tua, dan kerjanya bisa membahayakan juga ” Kata Mensos. Bila bersedia akan difasilitasi dan dibantu dicarikan pekerjaan atau usaha.

 

Benar apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadist beliau :

Wahai Rasulullah SAW, apakah qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Qurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.” Mereka menjawab: “Apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.” Mereka menjawab: “Kalau bulu-bulunya?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan.” (HR. Ahmad dan ibn Maja)

 

Akhirnya Nek Yati dan suaminya dengan keikhalan dan ketulusannya itu berbuah kebaikan dari Allah SWT melali mensos, namun penulis yakin kebaikan-kebaikan itu tidak akan berhenti sampai disana, diakhirat nanti Surga Menantinya. InsyaAllah.

 

Itu tadi sebuah kisah inspiratif dari seorang pemulung yang berjuang agar dapat berqurban. Seharusnya kita yang lebih mampu harus bisa seperti mereka, niat ikhlas untuk berqurban. Semoga jalan kita untuk berqurban tahun ini dimudahkan oleh Allah SWT.Aamiin

 

Semoga bermanfaat

 

Sumber : Islamedia

Friday, 13 July 2018 07:21

Rahasia Kepercayaan Diri Nabi Musa AS

Ini merupakan salah satu kisah perjuangan Nabi Musa a.s saat berhadapan dengan Firaun. Saat kisah seorang Nabi dicantumkan dalam Al Quran, pastinya agar kita bisa mengambil pelajarannya. Jadi kita tidak bisa mengatakan “itu kan nabi”. Justru kita harus mengambil pelajarannya.

Tentu pelajaran paling utama adalah pelajaran tentang keimanan dan kepatuhan. Namun, bukan berarti tidak ada pelajaran lain. Dan dalam kisah ini terdapat pelajaran yang berkaitan dengan pengembangan diri, dalam hal ini adalah kepercayaan diri.

Kita bisa belajar kepada Nabi Musa a.s. tentang arti kepercayaan diri sebenarnya. Simak ayat berikut,

Pergilah kepada Fir’aun; sesungguhnya ia telah melampaui batas. Berkata Musa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, (QS. Thaahaa:24-28)

Saat Nabi Musa AS ditugaskan oleh Allah untuk menghadap Fir’aun yang sangat berkuasa saat itu, nabi Musa AS memanjatkan do’a agar dia mampu menjalankan tugas dengan baik. Kemudian Nabi Musa AS berangkat menemui Fir’aun untuk menyampaikan risalah dakwahnya.

Tidak Percaya Diri? Mintalah Pertolongan Allah

Di sini, Musa a.s memohon kepada Allah agar benar-benar menyiapkannya untuk mengemban risalah tersebut. Inilah yang patut kita contoh, saat menghadapi tugas yang berat, kemudian muncul keraguan, merasa diri tidak mampu, alih-alih mengurungkan niat, kenapa tidak berdoa kepada Allah agar dihilangkan rasa rendah diri dan dimunculkan kepercayaan diri.

Saat ingin melakukan sesuatu, kemudian merasa tidak percaya diri untuk melakukannya, jangan mengurungkan niat dan membatalkan apa yang akan dilakukan. Mintalah tolong kepada Allah agar disanggupkan atau dimampukan untuk melakukan hal tersebut.

Banyak orang yang malah menyerah gara-gara tidak yakin bisa. Lebih memilih menurunkan atau bahkan menghilangkah tujuan dan harapan. Lalu dimana keyakinan akan pertolongan Allah. Mungkin Anda memiliki keterbatasan, namun jika Allah berkehendak, keterbatasan Anda tidak akan menghalangi meraih tujuan.

Jika Gagal Bagaimana?

Apakah tugas Nabi Musa AS berhasil meluluhkan hati Firaun? Ternyata tidak. Dan Nabi pun tahu bahwa kemungkinan berhasilnya sangat sedikit, tetapi beliau masih tetap mau mencoba. Begitu juga dengan kita, meskipun kita tahu bahwa kemungkinan keberhasilan sesuatu kita kecil, tidak ada salahnya untuk mencoba kecuali ada peluang lain yang lebih baik. Apalagi jika kemungkin keberhasilannya lebih besar.

Kemungkinan sekecil apa pun perlu dicoba. Apalagi saat kita tidak memiliki pilihan lain. Contoh lain adalah Siti Hajar saat mencari air untuk bayinya, Ismail a.s. Di tengah gurun gersang, kemungkinan untuk mendapatkan air kecil, tetapi terus berusaha, tidak menyerah. Dan pertolongan pun datang pada akhirnya.

Sebuah hikmah, Allah akan menolong kita jika kita sungguh-sungguh menginginkannya. Dan sebagai bukti kita tetap berusaha meski kemungkinan yang kecil.

Tidak ada yang bisa menjamin bahwa apa yang kita lakukan akan berhasil atau gagal. Hanya satu cara mengetahuinya ialah dengan cara mencoba. Sesungguhnya Anda memiliki kemampuan untuk berbuat. Setidaknya memiliki kemampuan untuk belajar saat Anda belum bisa melakukan sesuatu. Belum lagi Anda juga bisa berdo’a kepada Allah seperti yang dilakukan oleh Nabi Musa AS.

Pelajaran ini sangat mengena bagi orang yang suka berkata “saya sudah mencoba” atau orang yang berkata, “ini tidak akan berhasil”. Cobalah.

Ikhtiar Maksimal

Pelajaran yang kita dapatkan adalah keharusan kita melakukan ikhtiar semaksimal mungkin. Ikhtiar maksimal ini yang akan mendatangkan pertolongan Allah saat diiringi dengan do’a dan sikap tawakal. Maka saat sedang menghadapi masalah, saat ingin meraih impian, berdo’alah, bertawakallah, dan lakukan ikhtiar semaksimal mungkin.

Ikhtiar maksimal tidak selalu harus melakukan hal sama berulang kali seperti Siti Hajar. Tidak juga harus selalu melakukan hal yang memiliki peluang keberhasilan kecil. Ikhtiar maksimal juga berarti kita berusaha dengan menggunakan cara terbaik yang memberikan peluang terbaik pula.

Do’a Rasulullah saw itu pasti dikabulkan Allah. Namun beliau tetap melakukan cara dan strategi terbaik saat berdakwah termasuk saat berperang. Beliau merancang strategi bersama para sahabat, mengenakan baju perang, menggunakan senjata terbaik, dan sebagainya. Artinya tidak dengan usaha yang asal, tetapi dengan cara yang terbaik jika memungkinkan.

Jika memang hanya ada satu cara yang bisa dan ketahui, maka cobalah itu. Tetapi tetap sambil membuka mata dan pikiran untuk melakukan cara yang lebih baik agar masalah teratasi atau tujuan tercapai.

Tawakal adalah salah satu cara agar kita percaya diri. Karena tawakal sebuah keharusan bagi seorang Muslim, harusnya seorang Muslim itu memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Baik saat menghadapi masalah maupun percaya diri meraih sukses yang besar.

Kita harus sungguh-sungguh dalam mencoba, karena bersunguh-sungguh menunjukan keinginan yang kuat.

Tentu ada ikhtiar-ikhtiar yang bisa kita lakukan agar lebih percaya diri. Jadi saat kita merasa tidak memiliki kepercayaan diri kita bisa berdo’a kepada Allah SWT. Kemudian bertawakal dan ambilllah tindakan sesuai hati nurani. Jangan lupa, untuk terus mengembangkan kepercayaan diri  agar memiliki peluang sukses lebih besar.

Referensi : Motivasi Islam

Save

Solo peduli News