Monday, 03 September 2018 08:25

Lelah Karena Lillah

Lelah Karena Lillah - Shalat yang kita tegakan, puasa yang kita perjuangkan, zakat yang kita haturkan, semuanya hanya untuk-Nya. Sudah menjadi hal yang patut untuk hamba memberikan sesuatu terbaik untuk Dia Yang Maha Baik.

Dia yang maha mengatur alam semesta ini telah menetapkan shalat lima waktu. Diawali dengan mentari hendak menatap bumi hingga ia kembali menghilang diganti oleh sang gelap.

Setiap harta yang ditunaikan, panggilan yang dipenuhi, rela melepaskan dari hangatnya selimut yang membungkus badan, beranjak dari empuknya ranjang untuk menegakkan kewajiban.

Peristiwa susah sedih yang selalu disabari, peristiwa indah berbunga bahagia selalu dibagi, semua adanya harus selalu disyukuri. Karena selama hamba masih menghirup hawa dunia semua tak ada yang abadi, sirna semua. Termasuk sedih dan bahagia akan pergi.

Hamba macam apa, jika jasadnya tidak merasa lelah. Tidak usah dikatakan kali keduanya memang itu membuat lelah. Itu membuat hamba payah tapi menyucikan jiwa. Menghimpit dan memenatkan tubuh tapi menghidupkan sanubari.

Semua yang berada didalam semesta baik dilangit maupun dibumi itu milik-Nya. Dan kelak jika waktunya telah tiba semua akan kembali kepada-Nya.

Tidak akan pernah sebuah ujian yang diberikan oleh-Nya untuk hamba melewati dari barometer kemampuannya.

Semua yang terjadi, yang telah terjadi maupun yang akan terjadi seluruhnya telah termaktub. Tidak ada istilah kebetulan.

Disaat hamba merasa lemah libatkanlah Dia yang maha kuat agar menguatkan, disaat hamba merasa hina libatkanlah Dia yang maha luhur agar mengangkat derajat, disaat hamba merasa fakir libatkanlah dia yang maha kaya agar mencukupi.

Tugas besar hamba dalam hidup adalah mengemudi hati, selalu mengarahkannya ke jalan yang lurus, karena itulah saat menegakan shalat doa yang selalu terlantun “ihdina shiratal mustaqim” (tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus).

Jalan yang pernah dititi oleh Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa hingga penutup dari mereka Muhammad shallallahu alaihi wassalam. Jalan itu tidak mulus. Berbagai rintangan dan tantangan melintang tepat dijalan itu.

Jalan memiliki tikungan yang begitu tajam, tanjakannya sangat terjal, turunannya begitu curam. Kerikil yang membuat jatuh dan terkoyak, duri tersebar yang dapat menusuk.

Semuanya bukanlah suatu yang mengerikan jika tujuan yang digapai wajah-Nya kelak dan hati yang dimantapkan untuk terus menatap tujuan itu. Maka berbahagialah hamba-hamba yang dapat melihat dengan jelas wajah-Nya kelak.

 

Sumber : muslimplus

Saturday, 01 September 2018 08:41

Keimanan yang Paling Rasulullah Kagumi

Keimanan yang Paling Rasulullah Kagumi - Alkisah, suatu ketika Rasulullah saw bermain tebak-tebakan dengan para sahabat. Bertanya Rasulullah, 

“Tahukah kalian, mereka-mereka yang keimanannya membuatku kagum?”.

 “Aku tahu ya Rasulullah”, seru salah seorang sahabat. “Mereka yang engkau maksud itu tentulah para malaikat“.

“Mengapa engkau berpikir demikian?”, tanya Rasulullah kembali.

“Karena para malaikat selalu mematuhi semua perintah Allah. Mereka tidak sekalipun pernah melanggar aturan Allah”, jawab sahabat.

“Tapi para malaikat memang ditakdirkan untuk selalu mematuhi perintah Allah. Mereka tidak diberi kelengkapan hawa nafsu seperti layaknya kita. Dan tempat mereka dekat dengan Allah. Wajar jika mereka selalu beriman. Keimanan para malaikat tersebut, sama sekali tidak membuatku kagum”, bantah Rasulullah.

Para sahabat termangu-mangu dengan jawaban Rasulullah tersebut. Mereka terdiam sejenak, memikirkan jawaban apa kiranya yang dikehendaki oleh Rasulullah.

Tiba-tiba, salah seorang sahabat berseru, “Aku tahu ya Rasulullah, yang Rasulullah maksudkan tentu para nabi dan rasul utusan Allah. Mereka manusia biasa seperti kita, namun mereka selalu mematuhi apapun yang Allah perintahkan, apapun resikonya”.

Rasulullah tersenyum, “Betul mereka manusia biasa seperti kita, namun mereka mendapatkan petunjuk langsung dari Allah swt. Mereka menerima wahyu dan mendapatkan mukzizat. Wajar jika karena semua itu, mereka beriman kepada Allah”.

“Keimanan mereka sama sekali tidak membuat aku kagum”, bantah Rasulullah sekali lagi.

Kembali para sahabat ternganga dengan bantahan Rasulullah tadi. Mereka saling berpandangan lalu kembali tenggelam memikirkan jawaban pertanyaan Rasulullah.

“Ah…, sekarang saya tahu ya Rasulullah”, kata salah seorang sahabat dengan muka berseri-seri. “Mereka yang Rasulullah maksudkan itu tentulah kami, para sahabatmu. Kami manusia biasa, kami juga tidak menerima wahyu, dan sama sekali tidak dikaruniai mukzizat apapun. Meskipun demikian, kami berjanji untuk selalu mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya”, jelas sahabat tersebut dengan senyum mengembang diwajahnya.

Kembali Rasulullah tersenyum mendengar jawaban salah seorang sahabat tadi, “Betul kalian memang tidak menerima wahyu dan sama sekali tidak dikaruniai mukzizat, namun kalian kan melihat dengan mata kepala sendiri, mukzizat yang aku terima. Kalian juga mendengar dengan telinga kalian sendiri ketika wahyu Allah aku bacakan. Wajar jika karena itu, kalian beriman kepada Allah. Keimanan kalian, sama sekali tidak membuatku kagum”.

Kali ini para sahabat betul-betul terhenyak dengan bantahan Rasulullah barusan. Dengan perasaan putus asa karena sudah kehabisan akal, akhirnya mereka menyerah, “Kiranya hanya Allah dan rasul-Nya saja yang tahu jawaban pertanyaan Rasulullah tadi”, kata salah seorang sahabat.

“Sesungguhnya, mereka yang keimanannya membuatku kagum adalah mereka-mereka yang tidak sekalipun pernah berjumpa denganku. Mereka sama sekali tidak pernah melihat diriku dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka juga tidak sekalipun pernah mendengar suaraku. Dan yang lebih hebat lagi, mereka berabad-abad jaraknya dariku. Tapi kecintaan mereka kepadaku, tak sekalipun perlu aku ragukan”, jawab Rasulullah.

“Mereka itulah, yang keimanannya sungguh-sungguh membuat aku kagum”, sambung Rasulullah menegaskan.

 

Mereka yang dimaksud oleh Rasulullah dalam kisah diatas, tak lain dan tak bukan, adalah kita semua. Tentu dengan syarat, jika kita bersungguh-sungguh mencintai Rasulullah saw dengan setulus hati kita.

Semoga Allah selalu memberikan kita kekuatan untuk dapat selalu mencintai Rasulullah dengan sebenar-benarnya cinta. Amin

 

Sumber : kisah hikmah

Friday, 31 August 2018 08:00

Sifat Buruk Yang Dianggap Normal

Sifat Buruk Yang Dianggap Normal - Tahukah anda apakah itu ego? Ego merupakan sifat dan pribadi seseorang yang menganggap dirinya lebih dari orang lain. Banyak orang menganggap bahwa sifat ego ini adalah sifat yang normal, namun dalam Islam, sifat ego ini amatlah buruk. Sifat-sifat yang berkaitan erat dengan ego yaitu takabur, sombong dan membanggakan diri.

Sebagai contoh, seseorang yang memandang orang lain lebih rendah dan menganggap dirinya lebih mulia. Allah telah menjelaskan di dalam Al-Quran melalui kisah antara Nabi Adam dan Iblis. "Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan ia termasuk golongan orang kafir". Al-Baqarah : 34.

Seorang yang mempunyai sifat ego diantaranya adalah enggan menerima kebenaran. Pada zaman Nabi, walaupun Abu Jahal mengetahui Islam adalah agama yang benar, namun dia enggan menerimanya. Ini adalah disebabkan oleh sifat ego dalam dirinya.

Sifat ego juga dapat dilihat apabila seseorang itu enggan menerima dan menghormati pendapat atau pandangan orang lain. Selain itu, ego juga menyebabkan seseorang itu mudah marah apabila dinasihati dan sukar untuk mengakui kesalahan dirinya. Dan bila sudah akut, sifat ego ini sangat berbahaya, lihat saja Firaun, Namrud dan Haman. Karena egonya sehingga mereka mendurhakai Allah, dan mati dalam keadaan hina dan kufur.

Dalam satu hadis, Rasulallah bersabda : "Tidak akan masuk surga orang yang memiliki sifat takabur di dalam hatinya meskipun sebesar biji sawi". (HR Muslim).

Sifat ego juga akan menyebabkan seseorang tidak dapat menilai sesuatu dengan adil. Ini karena dia tidak dapat melihat pilihan-pilihan yang ada dan menolak pendapat orang lain dalam menyelesaikan sesuatu masalah. Dan akhirnya keputusan yang diambil itu bukanlah keputusan yang baik.

Sifat ego merupakan penyakit hati yang perlu diobati dan disembuhkan. Sifat ini harus ditundukkan dengan melatih jiwa supaya merendah diri dan tawadhu terhadap Allah dan MakhlukNya. Sifat tawadhu dapat dibina dengan mendalami dan menghayati kisah-kisah Nabi, para sahabat Nabi dan Alim Ulama. Selain itu, bergaul dengan segenap masyarakat tanpa memandang derajat dan status, dapat membuang sifat ego dalam diri. Contohnya, berkawan dengan orang miskin, anak-anak yatim dan orang yang lebih muda dari kita.


Sifat ego juga dapat dikurangi dengan melakukan perkara yang dianggap remeh dan kecil, seperti sifat rendah diri, saling menghormati dan menyayangi.


Itulah artikel mengenai Sifat Buruk Yang Dianggap Normal. Semoga kisah atau cerita di atas dapat memberikan inspirasi dan motivasi bagi anda dan semoga hidup anda diberikan keberkahan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala.. aamiin. 

 

Referensi : iniceritainspiratif

Thursday, 30 August 2018 08:09

Menahan Marah dengan Qana'ah

Menahan Marah dengan Qana'ah - Cerita ini didapat dari sebuah tulisan yang tersebar viral. Cerita tentang indahnya menerima ketetapan Allah atau qana'ah. Cerita tentang bagaimana menyadarkan orang-orang yang kita cintai atas pemberian Allah SWT.

Alkisah seorang suami pulang ke rumah dengan membawa pesanan mangga yang diminta sang istri. Saat dikupas dan disantap, ternyata buah mangga tersebut super asam. Sejurus kemudian sang istri pun marah-marah.

Si suami menanggapi dengan tenang amarah sang istri. Setelah selesai didengarkan 'bisikan setan' ini, beliau bertanya dengan halus, "Wahai istriku yang salehah, kepada siapakah engkau sebenarnya marah? Kepada pedagang buahnya kah? Ataukah kepada pembelinya yaitu suamimu yang telah berikhtiar dengan cinta membawakan mangga pesananmu? Atau kepada petani yang menanamnya? Ataukah kepada Yang Menciptakan buah mangga itu?"

Sang istri pun terdiam. Sebuah pertanyaan yang tidak disadari langsung mengelus batin kesadarannya.

Sembari tersenyum, si suami melanjutkan nasihat hikmahnya."Seorang pedagang buah yang baik tidak mungkin menjual buah kecuali yang terbaik. Seorang pembeli pun pasti membeli inginnya sesuatu yang terbaik pula! Begitu pula seorang petani, tentu saja ia akan merawat tanamannya agar bisa menghasilkan tanaman yang terbaik! Bukankah begitu, istriku?"

"Maka," lanjut si suami, "sasaran kemarahanmu kini tinggal satu, tidak lain hanya kepada yang Menciptakan mangga itu! Siapa?" Allah Jalla Jalaaluh!!!"

Pertanyaan si suami ini sekaligus mengakhiri drama melankolis sang istri yang kemudian diliputi sesal dan meminta maaf.

Cerita ini mengajarkan satu hal bahwa setiap keluhan yang berujung marah sejatinya sama saja kita tidak ridha atas ketetapan Allah. Bukankah setiap peristiwa sudah menjadi ketetapan-Nya? 

Karena itu, mari belajar ridha dan ikhlas dengan semua ketetapan Allah.Sungguh kekayaan sebenarnya dan kepuasan hidup itu ketika kita memiliki sifat ridha dan ikhlas dengan apa pun kejadian dan peristiwa-Nya.

Ibnu Batthol mengingatkan bahwa ada kekayaan yang tersembunyi dan ia adalah intan berlian bagi kehidupan kita, yaitu qana'ah; ridha dengan ketetapan Allah Ta'ala dan berserah diri pada keputusan-Nya. Wallahu A'lam.

 

Referensi : Khazanah

Wednesday, 29 August 2018 08:00

Mencari Makna Hidup

Mencari Makna hidup - Kita bisa mendalami Al Quran untuk menemukan makna hidup yang sebenarnya. Berikut adalah beberapa pemahaman inti tentang makna hidup menurut Al Quran.

Pertama: Hidup Adalah Ibadah


Pada intinya, arti hidup dalam Islam ialah ibadah. Keberadaan kita dunia ini tiada lain hanyalah untuk beribadah kepada Allah. Makna ibadah yang dimaksud tentu saja pengertian ibadah yang benar, bukan berarti hanya shalat, puasa, zakat, dan haji saja, tetapi ibadah dalam setiap aspek kehidupan kita.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS Adz Dzaariyaat:56)

Kedua: Hidup Adalah Ujian


Allah berfirman dalam QS Al Mulk [67] : 2 yang terjemahnya,

”(ALLAH) yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Allah akan menguji manusia melalui hal-hal sebagai berikut sesuai dengan QS Al Baqarah [2]:155-156 sbb,

“dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.”

Ketiga: Kehidupan di Akhirat Lebih Baik dibanding Kehidupan di Dunia

Dalam QS Ali ‘Imran [3]:14, “ dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).“

QS Adh Dhuha [93]:4, “dan sesungguhnya hari kemudian (akhirat) itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).”

Keempat: Hidup Adalah Sementara

Dalam QS Al Mu’min [40]:39, Allah berfirman, “Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.“

Dalam QS Al Anbiyaa [21]:35, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.“

Agar Hidup Lebih Bermakna

Setelah Anda memahami makna hidup, maka langkah selanjutnya ialah menyelaraskan hidup dengan makna hidup tersebut. Inilah yang akan menjadikan hidup kita lebih bermakna. Jika kita salah memaknai hidup, maka apa makna yang bisa kita dapatkan dari hidup ini?

Menyelaraskan hidup dengan makna hidup diatas diantaranya dengan cara:

  1. Jika hidup itu adalah ibadah, maka pastikan semua aktivitas kita adalah ibadah. Caranya ialah pertama selalu meniatkan aktivitas kita untuk ibadah serta memperbaharuinya setiap saat karena bisa berubah. Kedua, pastikan apa yang kita lakukan sesuai dengan tuntunan (ibadah mahdhah) dan tidak dilarang oleh syariat (ghair mahdhah).
  2. Jika hidup itu adalah ujian, maka tidak ada cara lain menyelaraskan hidup kita, yaitu menjalani hidup dengan penuh kesabaran.
  3. Jika kehidupan akhirat itu lebih baik, maka kita harus memprioritaskan kehidupan akhirat. Bukan berarti meninggalkan kehidupan dunia, tetapi menjadikan kehidupan dunia sebagai bekal menuju akhirat.
  4. Jika hidup ini adalah sementara, maka perlu kesungguhan (ihsan) dalam beramal. Tidak ada lagi santai, mengandai-ngandai, panjangan angan-angan apalagi malas karena kita tidak hidup ini tidak selamanya. Bergeraklah sekarang, bertindaklah sekarang, dan berlomba-lombalah dalam kebaikan.

Sesungguhnya, apa yang ada dalam Al Quran, tidak diragukan kebenarannya, jika ada kesalahan itu datang dari kesalahan saya pribadi. Mudah-mudahan usaha kita memahami makna hidup menjadikan hidup kita lebih bermakna.

 

 

Referensi : motivasi islam

Tuesday, 28 August 2018 08:29

Memupuk Rasa Takut Kepada Allah

Memupuk Rasa Takut Kepada Allah - Pernahkah kita tersadar bahwa lancangnya kita melakukan hal-hal yang dilarang agama, meninggalkan perintah agama, dan meremehkan ajaran-ajaran agama itu semua karena betapa minimnya rasa takut kita kepada Allah. Bahkan kita terkadang lebih takut kepada manusia daripada kepada Allah Ta’ala. Padahal Allah berfirman (yang artinya) : “..Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku” (QS. Al Ma’idah: 44).

Maka takut kepada Allah (al khauf minallah) adalah ibadah salah satu bentuk ibadah yang semestinya dicamkan oleh setiap mukmin.

Sifat Orang Yang Bertaqwa

Takut kepada Allah adalah sifat orang yang bertaqwa, dan ia juga merupakan bukti imannya kepada Allah. Lihatlah bagaimana Allah mensifati para Malaikat, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : “Mereka takut kepada Rabb mereka yang berada di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)” (QS. An Nahl: 50).

Lihat juga bagaimana Allah Ta’alaberfirman tentang hamba-hambanya yang paling mulia, yaitu para Nabi ‘alahimus wassalam (artinya) : “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami” (QS. Al Anbiya: 90)

Semakin Berilmu Semakin Takut Kepada Allah

Oleh karenanya, seseorang semakin ia mengenal Rabb-nya dan semakin dekat ia kepada Allah Ta’ala, akan semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Nabi kita Shallallahu’alaihi Wasallambersabda: “Sesungguhnya aku yang paling mengenal Allah dan akulah yang paling takut kepada-Nya” (HR. Bukhari-Muslim).

Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya) : “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28)

Ya, karena para ulama, yaitu memiliki ilmu tentang agama Allah ini dan mengamalkannya, merekalah orang-orang yang paling mengenal Allah. Sehingga betapa besar rasa takut mereka kepada Allah Ta’ala.

Karena orang yang memiliki ilmu tentang agama Allah akan paham benar akan kebesaran Allah, keperkasaan-Nya, paham benar betapa pedih dan ngeri adzab-Nya. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu’alahi Wasallam bersabda kepada para sahabat beliau: “Demi Allah, andai kalian tahu apa yang aku ketahui, sungguh kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Kalian pun akan enggan berlezat-lezat dengan istri kalian di ranjang. Dan akan kalian keluar menuju tanah datang tinggi, mengiba-iba berdoa kepada Allah” (HR. Tirmidzi 2234, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)

Demikian, sehingga tidaklah heran jika sahabat Umar bin Khattab radhiallahu’anhu, sahabat Nabi yang alim lagi mulia dan stempel surga sudah diraihnya, beliau tetap berkata: “Andai terdengar suara dari langit yang berkata: ‘Wahai manusia, kalian semua sudah dijamin pasti masuk surga kecuali satu orang saja’. Sungguh aku khawatir satu orang itu adalah aku” (HR. Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, 138)

Yaitu karena rasa takut yang timbul dari ma’rifatullah yang mendalam.

Orang yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Shallallahu’alahi Wasallam, Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, beliau ulama di kalangan para sahabat, yang tidak perlu kita ragukan lagi keutamaannya, beliau pun menangis ketika sekarat menghadapi ajalnya dan berkata: “Aku tidak menangis karena urusan dunia kalian. Aku menangis karena telah jauh perjalananku, namun betapa sedikit bekalku. Sungguh kelak aku akan berakhir di surga atau neraka, dan aku tidak mengetahi mana yang diberikan padaku diantara keduanya” (HR Nu’aim bin Hammad dalam Az Zuhd, 159)

Maka orang-orang yang lancang berbuat maksiat, yang mereka tidak memiliki rasa takut kepada Allah, adalah karena kurangnya ilmu mereka terhadap agama Allah serta kurangnya ma’rifah mereka kepada Allah Ta’ala.

Memupuk Rasa Takut

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya, adalah bagaimana kita memupuk rasa takut kepada Allah Ta’ala?

1.  Mengingat betapa lemahnya kita, dan betapa Allah Maha Perkasa

Sadarlah betapa kita ini kecil, lemah, hina di hadapan Allah. Sedangkan Allah adalah Al Aziz (Maha Perkasa), Al Qawiy (Maha Besar Kekuatannya), Al Matiin (Maha Perkasa), Al Khaliq (Maha Pencipta), Al Ghaniy (Maha Kaya dan tidak butuh kepada hamba).Betapa lemahnya hamba sehingga ketika hamba tertimpa keburukan tidak ada yang bisa menghilangkannya kecuali Allah. Ia berfirman (yang artinya) : “Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri” (QS. Al An’am: 17)

Betapa Maha Besarnya Allah, hingga andai kita durhaka kepada Allah, sama sekali tidak berkurang kemuliaan Allah. “Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS. An Nisa: 131)

Dengan semua kenyataan ini masihkah kita tidak takut kepada Allah?

2.  Memupuk rasa cinta kepada Allah

Dua orang yang saling mencintai, bersamaan dengan itu akan timbul rasa takut dan khawatir. Yaitu takut akan sirnanya cinta tersebut. Demikian pula rasa cinta hamba kepada Allah. Hamba yang mencintai Allah dengan tulus, berharap Allah pun mencintainya dan ridha kepadanya. Bersamaan dengan itu ia akan senantiasa berhati-hati untuk tidak melakukan hal yang dapat membuat Allah tidak ridha dan tidak cinta kepadanya.

3.  Adzab Allah sangatlah pedih

Jika kedua hal di atas belum menyadarkan anda untuk takut kepada Allah, cukup ingat satu hal, bahwa adzab Allah itu sangatlah pedih yang disiapkan bagi orang-orang yang melanggar aturan agama Allah. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (QS. An Nuur: 63)Pedihnya adzab Allah sampai-sampai dikabarkan dalam Al Qur’an bahwa setan berkata: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah. Dan Allah sangat keras siksa-Nya” (QS. Al Anfal: 48)

Dan hendaknya kita takut pada neraka Allah yang tidak bisa terbayangkan kengeriannya. Allah Ta’alaberfirman (yang artinya) : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At Tahrim: 6)

Jangan Merasa Aman

Sebagian orang merasa sudah banyak beramal, sudah banyak berbuat baik, merasa sudah bertaqwa, merasa dirinya suci, sehingga ia pun merasa Allah tidak mungkin mengadzabnya. Hilang darinya rasa takut kepada Allah. Allah berfirman tentang manusia yang demikian (yang artinya) : “Apakah kalian merasa aman dari makar Allah? Tidaklah ada orang yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi” (QS. Al A’raf: 99).

Bagaimana mungkin seorang yang beriman merasa percaya diri dengan amalnya, merasa apa yang telah ia lakukan pasti akan membuatnya aman dari adzab Allah? Sekali-kali bukanlah demikian sifat seorang mukmin. Adapun orang beriman, ia senantiasa khawatir atas dosa yang ia lakukan, tidak ada yang ia anggap kecil dan remeh. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu berkata: “Seorang yang beriman melihat dosa-dosanya bagai ia sedang duduk di bawah gunung yang akan runtuh, ia khawatir tertimpa. Sedangkan orang fajir (ahli maksiat), melihat dosa-dosanya bagaikan lalat yang melewati hidungnya” (HR. Bukhari 6308)

Tapi Jangan Putus Asa

Seorang mukmin senantiasa memiliki rasa takut kepada Allah. Namun bukan berarti rasa takut ini menyebabkan kita putus asa dari rahmat-Nya, sehingga kita merasa tidak akan diampuni, merasa amal kita sia-sia, merasa pasti akan masuk neraka dan bentuk-bentuk keputus-asaan lain. Ini tidak benar. Keimanan yang sempurna kepada Allah mengharusnya kita memiliki keduanya, rasa takut (khauf) dan rasa harap (raja’). Dengan berputus-asa terhadap rahmat Allah seakan-akan seseorang mengingkari bahwa Allah itu Ar Rahman (Maha Pemberi Rahmat), Ar Rahim (Maha Penyayang), dan Al Ghafur (Maha Pengampun). Ingatlah nasehat Nabi Yusuf ‘alahissalam kepada anak-anaknya: “dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (QS. Yusuf: 87).

Al Hasan Al Bashri berkata: “Raja’ dan khauf adalah kendaraan seorang mukmin”. Al Ghazali pun berujar: “Raja’ dan khauf adalah dua sayap yang dipakai oleh para muqarrabin untuk menempati kedudukan yang terpuji”.

Demikian sedikit yang dapat kami paparkan. Semoga kita menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa takut kepada-Nya, sehingga dengan itu kita engga mengabaikan segala perintahnya dan enggan melanggar segala larangannya.

 

Referensi : muslim

Friday, 24 August 2018 08:39

Hukum Puasa Sunnah di Hari Tasyrik

Bagaimana hukum puasa sunnah di hari tasyrik? - Misal untuk puasa Senin Kamis, puasa Daud, dan puasa ayyamul bidh (13, 14, 15 Hijriyah), bagaimana hukumnya?

Di antara hari yang terlarang untuk puasa adalah hari tasyrik (11, 12 dan 13 Dzulhijjah). Dalam hadits disebutkan,

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari-hari tasyriq adalah hari makan dan minum.” (HR. Muslim no. 1141).

Imam Nawawi berkata, “Ini adalah dalil tidak boleh sama sekali berpuasa pada hari tasyriq.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 18)

Dikecualikan bagi yang berhaji dengan mengambil manasik tamattu’ dan qiron lalu ia tidak mendapati hadyu (hewan kurban yang disembelih di tanah haram), maka ketika itu ia boleh berpuasa pada hari tasyriq. Dari Ibnu ‘Umar dan ‘Aisyah berkata,

لَمْ يُرَخَّصْ فِى أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ ، إِلاَّ لِمَنْ لَمْ يَجِدِ الْهَدْىَ

“Tidak diberi keringanan di hari tasyriq untuk berpuasa kecuali jika tidak didapati hewan hadyu.” (HR. Bukhari no. 1998)

Ibnu ‘Umar, ‘Aisyah, Al Auza’i, Malik, Ahmad dan Ishaq dalam salah satu pendapatnya bersikap akan bolehnya puasa bagi jamaah haji yang melakukan haji tamattu’ saat tidak memiliki hewan hadyu untuk diqurbankan-. Begitu pula pendapat Imam Syafi’i yang qadim (yang lama) membolehkannya. Demikian disebutkan dalam Al Majmu’, 6: 314.

Di halaman sebelumnya, Imam Nawawi rahimahullah menuturkan, “Pendapat yang terkuat menurut ulama Syafi’iyah bahwa yang jadi pegangan adalah pendapat Imam Syafi’i yaitu tidak boleh berpuasa pada hari tasyrik baik untuk jamaah haji yang menjalankan manasik tamattu’ atau selain mereka.

Namun pendapat yang kuat bahwa puasa bagi jamaah haji yang menjalankan tamattu’ dibolehkan dan dikatakan sah. Karena ada hadits yang meringankan puasa seperti ini. Itulah pendapat yang didukung oleh hadits yang lebih tegas dan tak perlu berpaling pada selain pendapat ini.” (Al Majmu’, 6: 313).

Kesimpulannya, tidak dibolehkan melakukan puasa sunnah di hari tasyrik termasuk puasa Senin Kamis dan puasa Ayyamul Bidh. Adapun puasa ayyamul bidh (13, 14, 15 Hijriyah) bisa diganti dengan puasa tiga hari setiap bulannya di hari lainnya di bulan Dzulhijjah.

Wallahu Ta’ala a’lam. Wallahu waliyyut taufiq.

 

 

Referensi : muslim

 

 

Hukum Puasa Sunnah di Hari Tasyrik

Bolehkah Menyembelih Hewan Qurban Di Luar Hari Tasyriq ? - Tidak boleh menyembelih hewan kurban di luar hari tasyriq. Artinya, begitu matahari terbenam pada tanggal 13 Dzulhijjah, maka mulai saat itu sudah tidak boleh lagi menyembelih hewan kurban. Jadi, orang yang mendapatkan amanah untuk menyembelih hewan kurban dan mendistribusikan dagingnya tidak boleh menahan hewan kurban itu melebihi tanggal 13 Dzul Hijjah. Tidak boleh ditahan secara sengaja baik tanpa alasan maupun dengan alasan, misalnya untuk membantu acara pernikahan massal yang dilakukan di luar hari tasyriq. Jika penyembelihan hewan kurban dilakukan dengan sengaja di luar hari tasyriq, maka status ibadah kurban itu tidak sah dan hanya menjadi sedekah biasa.

Waktu menyembelih hewan kurban adalah setelah salat ied dan berakhir dengan terbenamnya matahari pada tanggal 13 Dzulhijjah (hari terakhir hari tasyriq). Berarti waktu penyembelihan hewan kurban adalah empat hari. Satu hari saat hari raya idul adha yakni tanggal 10, dan tiga hari pada saat hari tasyriq yakni tanggal 11,12, dan 13. Orang yang menyembelih di luar rentang waktu antara tanggal 10-13 Dzulhijjah, maka ibadah kurbannya tidak sah, sehingga harus mengganti dengan kurban lain.

Dalil yang menunjukkan waktu dimulainya penyembelihan hewan kurban tanggal 10 Dzulhijjah setelah salat ied adalah hadis berikut ini,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَإِنَّمَا ذَبَحَ لِنَفْسِهِ وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ

“Dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu, dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menyembelih (binatang kurban) sebelum shalat (ied), maka ia menyembelih untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa menyembelih setelah shalat (ied), maka ibadah kurbannya telah sempurna dan bertindak sesuai dengan sunnah kaum Muslimin” (H.R.Bukhari, juz 17 hlm 235).

Riwayat di atas cukup jelas menunjukkan bahwa waktu dimulainya penyembelihan adalah setelah selesai salat idul adha. Sabda Nabi yang menghukumi penyembelihan sebelum salat idul adha sebagai penyembelihan untuk dirinya sendiri, sementara penyembelihan setelah salat idul adha dinilai sebagai penyembelihan yang merealisasikan ibadah yang sempurna dan sesuai dengan sunnah kaum muslimin menunjukkan penyembelihan sebelum salat idul adha hukumnya tidak sah.

Dalam riwayat Bukhari yang lain, Rasulullah ﷺ memerintahkan orang yang menyembelih sebelum usai salat idul adha agar mengganti kurbannya. Bukhari meriwayatkan,

عَنْ جُنْدَبٍ قَالَ صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ ثُمَّ خَطَبَ ثُمَّ ذَبَحَ فَقَالَ مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيَذْبَحْ أُخْرَى مَكَانَهَا

“dari Jundub berkata, ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat Hari Raya kurban lalu menyampaikan khutbah, beliau katakan: ‘Barangsiapa menyembelih hewan sebelum shalat maka dia harus menyembelih hewan kurban lain sebagai penggantinya.”” (H.R.Bukhari, juz 4 hlm 62)

Riwayat ini menegaskan bahwa penyembelihan sebelum selesai salat idul adha dihukumi tidak sah karena Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk mengganti. Jadi, riwayat-riwayat ini semuanya menunjukkan bahwa waktu awal penyembelihan hewan kurban adalah tanggal 10 Dzulhijjah setelah usai salat idul adha.

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa waktu maksimal penyembelihan hewan kurban adalah tanggal 13 Dzulhijjah, yakni saat terbenamnya matahari tanggal 13 Dzulhijjah adalah sabda Rasulullah ﷺ dalam riwayat berikut ini,

مسند أحمد (27/ 316)
وَكُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ

“…Seluruh hari tasyriq adalah (hari) penyembelihan…”

Dalam riwayat ini Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa seluruh hari tasyriq adalah hari penyembelihan. Hari tasyriq adalah tiga hari setelah hari raya idul adha, yaitu tanggal 11,12, dan 13. Jika hari-hari ini disebut hari penyembelihan, maknanya hari tersebut adalah hari yang masih diizinkan untuk menyembelih. Mafhum (makna implisit)nya, di luar hari itu tidak boleh lagi menyembelih karena ini adalah ketentuan ibadah.

Riwayat lain yang menguatkan adalah hadis riwayat Muslim,

عَنْ نُبَيْشَةَ الْهُذَلِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Dari Nubaisyah Al Hudzali ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Hari-hari Tasyriq adalah hari makan-makan dan minum'” (H.R.Muslim juz 5 hlm 492).

Dalam hadis di atas, Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum (yang tidak boleh berpuasa di dalamnya). Secara implisit makna hadis ini juga mengizinkan penyembelihan hewan kurban pada hari-hari tersebut, karena hewan kurban disembelih memang untuk dimakan.

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah menukil ucapan Ali bin Abi Thalib yang menegaskan bahwa waktu penyembelihan hewan kurban adalah empat hari, yakni tanggal 10,11,12, dan 13 Dzulhijjah. Ibnu Qoyyim menulis,

قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَيَّامُ النَّحْرِ يَوْمُ الْأَضْحَى، وَثَلَاثَةُ أَيَّامٍ بَعْدَهُ

“..Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Hari-hari penyembelihan adalah hari (raya) idul adha dan tiga hari sesudahnya…'” (Zadu Al-Ma’ad Fi Hadyi Khoiri Al-‘Ibad, juz 2 hlm 291).

Waktu penyembelihan membentang mulai tanggal 10-13 Dzulhijjah adalah pendapat Al-Hasan, ‘Atho’ bin Abi Robah, Asy-Syafi’i, dan Al-Auza’i. Ini adalah pendapat Jumhur.

Jadi, oleh karena waktu penyembelihan hewan kurban adalah dalam rentang tanggal 10 Dzulhijjah setelah salat idul adha sampai tanggal 13 Dzulhijjah pada saat terbenam matahari, maka penyembelihan hewan kurban setelah itu tidak boleh dan dihukumi tidak sah. Ibnu Al-‘Utsaimin berkata,

فمن ذبح قبل فراغ صلاة العيد، أو بعد غروب الشمس يوم الثالث عشر لم تصح أضحيته

“…Barangsiapa menyembelih sebelum selesai salat ied atau sesudah terbenamnya matahari pada hari ke 13 (Dzulhijjah) maka tidak sah kurbannya…” (Mukhtashor Ahkam Al-Udh-hiyah Wa Adz-Dzakat hlm 7)

Penyembelihan di luar hari itu dianggap sah hanya jika ada udzur yang tidak dapat dihindari, misalnya hewan kurbannya lari, atau petugas yang menjadi wakil orang yang berkurban lupa dan baru ingat di luar waktu penyembelihan. Wallahua’lam.

Oleh: Ustadz Muafa

 

Referensi : irtaqi

Tuesday, 21 August 2018 08:55

Keistimewaan Puasa Arafah

Keistimewaan Puasa Arafah - Disaat jutaan jamaah haji melakukan ibadah tawaf di Padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah, miliaran umat Islam yang belum dapat menjadi Tamu Allah melaksanakan Puasa Arafah.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada amal yang lebih dicintai Allah SWT daripada hari ini (10 hari di bulan Dzulhijah). Mereka lalu bertanya, ‘Ya Rasulullah SAW dibandingkan dengan jihad fi sabilillah?’ ‘Meskipun dibandingkan dengan jihad fi sabilillah’.” (HR Jamaah kecuali Muslim dan Nasai)

Dalam riwayat lain disebutkan Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada hari ketika Allah SWT membebaskan hambanya dari api neraka dibandingkan hari lain kecuali pada hari Arafah.” (HR Muslim)

Bahkan ijma para ulama pun menyebutkan, puasa Arafah merupakan puasa sunah yang paling utama. Meski disebut puasa sunah paling utama, puasa ini memiliki pengecualian, yakni tidak dianjurkan bagi mereka yang tengah menjalani wukuf di Arafah dalam rangka ibadah haji.

Lalu apa saja keistimewaan Arafah? Berikut 3 keistimewaan Puasa Arafah sesuai sabda Nabi ﷺ:

Pertama

Menghapuskan dosa selama dua tahun yakni satu tahun sebelumnya dan satu tahun ke depan. Diriwayatkan, Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang puasa hari Arafah, dan jawabannya, “Menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun berikutnya.” (HR Muslim)

Kedua

Membebaskan dari api neraka. Sebagaimana pernyataan yang dikeluarkan sebagian ulama yang menyatakan Allah SWT memberi kebebasan dari siksa api neraka di hari Arafah, bukan hanya bagi jemaah haji yang tengah melaksanakan wukuf di Padang Arafah, tetapi juga umat muslim yang tidak berhaji.

“Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arafah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka kepada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR Muslim)

Ketiga

Dikabulkannya doa. “Sebaik–baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik–baik yang diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan, “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai in qadir (Tidak ada Ilah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. MilikNyalah segala kerajaan dan segala pujian, Allah Maha Menguasai sesuatu).” (HR Tirmidzi).

Sumber: eramuslim

Friday, 17 August 2018 08:34

MAKNA KEMERDEKAAN

SOLOPEDULI.ORG - Mari kita maknai hari kemerdekaan Indonesia sebagai momentum untuk mengingat kembali sejarah dan perjuangan para pahlawan.kita. Sebagai generasi yang tidak merasakan pahit dan beratnya beban para pejuang harus dapat melanjutkan semangat pengorbanan dan rasa nasionalisme pada bangsa Indonesia.

Dalam konteks peran lembaga zakat, makna merdeka yaitu hendaknya terus menerus melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang urgensi sikap dalam meraih kebahagiaan hidup dunia akhirat, kesadaran berzakat, berinfaq, bershadaqah, dan berwakaf memerlukan penguatan dan penaatan dalam pengelolaannya agar mencapai hasil yang diharapkan, yaitu berdampak terhadap kehidupan masyarakat luas.

Setidaknya ada dua sikap yang bisa menjadi kunci makna merdeka, yaitu 1 (satu) sikap mandiri, mandiri merupakan perilaku dan mental yang memungkinkan seseorang untuk bertindak bebas, benar, dan bermanfaat; berusaha melakukan segala sesuatu dengan jujur dan benar atas dorongan dirinya sendiri dan kemampuan mengatur diri sendiri, sesuai dengan hak dan kewajibannya, sehingga dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya; serta bertanggung jawab terhadap segala keputusan yang telah diambilnya melalui berbagai pertimbangan sebelumnya.
Yang ke 2 (dua) makna Peduli merupakan sikap keberpihakan kita untuk melibatkan diri dalam persoalan, keadaan atau kondisi yang terjadi di sekitar kita. Orang-orang peduli adalah mereka yang terpanggil melakukan sesuatu dalam rangka memberi inspirasi, perubahan, kebaikan kepada lingkungan di sekitarnya.

Momentum di bulan Agustus yang tak kalah istimewa adalah bertepatan dengan hari Raya Idul Adha, berqurban pun memberikan hikmah kemandirian dan kepedulian sosial

Save

Solo peduli News