SOLOPEDULI.ORG - Perjalanan penuh keajaiban yang ditempuh semalam berakhir setibanya di langit dunia. Begitu banyak keajaiban yang lihat oleh Rasulullah selama perjalanan. Mulai dari ditunjukkannya neraka dan surga, hingga gambaran siksaan untuk para manusia yang membangkang dan berbuat tercela selama di dunia.

Setibanya di dunia, Rasulullah menceritakan apa yang dialaminya dalam semalam. Namun, kisah-kisah yang diceritakan oleh Rasulullah tidak begitu saja dapat diterima oleh orang lain. Orang pertama yang mempercayai cerita beliau adalah Abu Bakar., dengan begitu kini kita mengenal Abu Bakar dengan sebutan As Shidiq.

Bagi para umat Rasulullah kala itu, kisah Rasulullah mengenai perjalanan malamnya yang penuh keajaiaban bagaikan karangan fiksi yang penuh imajinasi. Bagaimana bisa orang biasa kala itu membayangkan hewan buroq, pintu langit, surga dan neraka? Ditambah lagi, kala itu adalah tahun kesedihan atau biasa disebut Am al Huzn. Di mana di tahun itu, Rasulullah harus kehilangan orang-orang yang dicintainya, yakni paman yang mengasuhnya sejak beliau yatim piatu, Abu Thalib. Dan juga kepergian  istrinya yang beliau cintai, Khadijah.

Banyak yang beranggapan (ketika itu), dengan beralasan Rasulullah sedang berkabung sehingga apa yang ia sampaikan dinilai kurang rasional untuk ukuran manusia saat itu. Bahkan banyak yang mendustakan dan mengejek Rasulullah tentang cerita yang dibawanya sepulang bertemu dengan Sang Maha Pencipta.

Alasan yang paling nyata atas kisah Isra Miraj, difirmankan Allah dalam surat Al Isra ayat 1, “agar Kami perlihatkan kepadaya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran Kami).”

Mendengar suatu kabar tidak sama dengan melihat langsung dengan mata kepala sendiri. Memang sulit mengemban beban di jalan Allah, dan harus menghadapi dunia. Betapa tugas Nabi dan Rasul begitu berat di benak kita. Meyakini mereka menjadi salah satu jalan meyakini bahwa kita berada di jalan Allah.

Semoga bermanfaat.

 

Rerefensi: Referensi : Islam Cendikia, Tirto.id, Sirah Nabawiyah

 

SOLOPEDULI.ORG - Muhammad’s Night Journey to Heaven, begitu kiranya istilah kerennya dari Miraj. Digambarkan Rasulullah menuju langit yang dihiasi taburan bintang, bulan dan planet, seperti halnya wisata angkasa. Namun, Rasulullah pergi bukan untuk berwisata, akan tetapi sebuah tugas spiritual untuk bertemu Sang Pencipta, Allah SWT. Ada tujuh lapisan kangit yang harus dilewati oleh Rasulullah malam itu.

Pada lapisan pertama, Rasulullah bertemu dengan Nabi Adam dan saling menyapa. Nabi Adampun menetapkan nubuwah kepada Rasulullah. Di lapisan pertama ini juga, Allah juga memperlihatkan dua sisi yang berbeda. Di sisi kanan adalah roh-roh orang yang mati syahid, dan roh-roh orang uang sengsara ada di sisi kiri. Kemudian, Rasulullah naik lagi menuju lapisan langit kedua, dan bertemu Nabi Isa dan Nabi Yahya. Rasulullah memberi salam dan dibalas oleh kedua nabi dengan menetapkan nubuwah Rasulullah.

Rasulullah  kembali naik ke lapisan langit ketiga dan bertemu dengan Nabi Yusuf yang dikenal karena ketampanannya. Rasulullah memberi salam dan dibalas Nabi Yusuf dengan menetapkan nubuwah kepada Rasulullah. Di lapisan langit keempat, Rasulullah bertemu dengan Nabi Idris. Mereka saling memberi salam, dan Nabi Idris juga menetapkan nubuwah.

Berlanjut, Rasulullah naik ke lapisan langit berikutnya, dan bertemu dengan Nabi Harun, dan menetapkan nubuwah Rasulullah. Di langit ke enam, Rasulullah bertemu dengan Nabi Musa dan saling memberi salam. Nabi Musa pun turut menetapkan nubuwah Rasulullah.  Ketika Rasulullah hendak melanjutkan perjalanannya, Nabi Musa menangis. “Aku menangis karena ada seorang pemuda yang diutus sesudahku, yang masuk surga bersama umatnya dan lebih banyak daripada umatku,” tutur Nabi Musa.

Rasulullah melanjutkan perjalanannya ke lapisan langit ke tujuh dan bertemu dengan Nabi Ibrahim, saling mengucap salam dan menetapkan nubuwah Rasulullah. Dan, sampailah Rasulullah di Sidratul Muntaha, kemudian dibawa naik ke Al Baitul Ma’mur. Kemudian dibawa naik menghadap Allah SWT, hingga Rasulullah hanya berjarak sepanjang dua ujung busur. Kemudian, Allah mewahyukan  kepada Rasulullah yakni shalat sebanyak lima puluh kali. Rasulullah menerima wahyu itu, dan kemudian turun ke lapisan langit bawahnya.

Hingga sampailah Rasulullah di lapisan langit ke enam dan bertemu kembali dengan Nabi Musa. Nabi Musa bertanya apa yang diperintahkan Allah kepada Rasulullah, “shalat lima puluh kali,” jawab Rasulullah. “Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup melakukannya. Kembalilah menemui Rabb-mu dan mintalah keringanan kepada-Nya bagi umatmu,” kata Nabi Musa. Rasulullah pun kembali menghadap Allah, dan  jumlah shalat dikurangi sepuluh.

Rasulullah kembali turun dan menyampaikan kepada Musa tentang keringanan salat. Namun, Nabi Musa kembali menyarankan untuk kembali meminta keringanan, membuat Rasulullah mondar-mandir bertemu Nabi Musa dan Allah SWT, hingga akhirnya jumlah shalat menjadi lima. Dan, Rasulullah berkata, “aku sudah malu kepada Rabb-ku. Aku sudah ridha dan bisa menerimanya.” Begitulah, kisah di balik jumlah shalat dalam sehari.


Lanjut ke bagian ke tiga.

SOLOPEDULI.ORG - Isra Miraj adalah perjalanan Rasulullah SAW bertemu dengan Allah SWT untuk menerima wahyu. Di sepanjang perjalanan, Rasulullah ditunjukkan oleh hal-hal yang menakjubkan, yang tak bisa dijabarkan dengan perkataan secara detail dan rinci.

Isra terdiri dari dua kata, Isra yang berarti perjalanan malam dan Miraj yang berarti naik ke atas. Isra merujuk pada perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, sedangkan Miraj mengarah pada perjalanan Rasulullah ke Sidratul Muntaha.

Perjalanannya dimulai dari Masjidil Haram  menuju Masjidil Aqsa, dengan mengendarai buroq, kendaraan yang digambarkan begitu besar, berwarna putih dan mengenakan pelana seperti kuda. Sebelumnya, Rasulullah dibelah dadanya oleh Malaikat Jibril, dan membasuhnya dengan air zam-zam. Setelahnya, dimulailah perjalanan Rasulullah menuju Masjidil Aqsa. Selama perjalanan, Rasulullah menjumpai bermacam keajaiban, salah satunya adalah kemuncullan Jin Ifrit yang berusaha mengejar dan mencelakai nabi. Namun, dengan kekuatan doa, Jin Ifrit terbakar dengan sendirinya.

Di tengah perjalanan, Rasulullah merasa haus, dan meminta minum kepada Malaikat Jibril. Ada dua pilihan yang ditawarkan oleh Malaikat Jibril, susu dan khamr. Dan, Rasulullah memilih susu. Malaikat Jibril berkata, “sungguh, Engkau memilih fitrah yaitu Islam. Kalau engkau pilih khamr, niscaya umat engkau akan menyimpang dan sedikit yang mengikuti syariat.”

Sesampainya di Masjidil Aqsa, Rasulullah ditemani Malaikat Jibril, menunggangi buroq untuk menuju ke Sidratul Muntaha. Sebelumnya, Rasulullah menegakkan shalat dua rekaat bersama para nabi, dan menjadi imam atas bimbingan Malaikat Jibril. Kemudian, Rasulullah melanjutkan perjalanannya menuju Sidratul Muntaha.

 

Lanjut ke bagian ke dua.

Referensi : Islam Cendikia, Tirto.id, Sirah Nabawiyah

Thursday, 12 April 2018 09:19

Berhemat Dengan Bekal

SOLOPEDULI.ORG - Makan memang sudah menjadi kebutuhan pokok manusia. Dalam memenuhi kebutuhan ini, kadang kita harus mengeluarkan banyak biaya, lebih-lebih kalau makan di tempat yang mahal. Inilah yang tanpa kita sadari membuat pengeluaran kita membengkak. “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak Menyukai orang yang berlebih- lebihan.”(Al-A’raf:31)

Tak perlulah kita berlebihan dalam memilih makanan, terlebih ketika bosan dengan menu yang disediakan di kantin. Mau tidak mau makan di “luar”. Untuk menghemat biaya makan ketika berada di luar rumah, seperti di sekolah, kantor, maupun dalam perjalanan, bekal bisa menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan.

Banyak keuntungan yang kita dapatkan dari membawa bekal. Kita bisa memilih sendiri bekal yang akan kita bawa sesuai dengan keinginan, selain itu bekal juga dapat membuat kita mengurangi pengeluaran untuk makan. Namun, kita harus meluangkan sedikit waktu untuk menyiapkan bekal. Konten Islami kali ini akan memberikan sedikit tips untuk menyiapkan bekal, supaya hemat waktu dan biaya.

 

  1. Buatlah daftar bekal, dan sesuaikan dengan jadwal sekolah atau kerja anda. Buat daftar semenarik mungkin, dan tidak monoton dengan menu yang hampir sama setiap hari. Sesuaikan dengan keinginan dan biaya yang dikehendaki.
  2. Siapkan bahan makanan pada malam  harinya, sehingga pada pagi hari kita tidak tergesa-gesa. Untuk makanan dengan tingkat pembuatan yang lama, bisa memakai tips. Namun, bila anda ingin makanan yang segar tanpa harus memanaskannya terlebih dahulu, ada di tips ketiga.
  3. Memilih makanan yang sederhana, dan mudah untuk dibuat. Sehingga tidak akan menghabiskan waktu untuk memasak.

 

Tiga tips mudah untuk membawa bekal. Namun tidak ada salahnya untuk makan di luar, apalagi kalau sudah gajian. Perlu diingat, Allah tidak menyenangi umatnya yang suka berlebihan. Begitu pula ketika membawa bekal, tak perlulah masak makanan yang membutuhkan waktu dan tenaga yang besar. Cukup buat makanan yang sedehana, sehat, dan yang terpenting halal.

 “Hai sekalian manusia makan-makanlah yang halal lagi baik dariapa yang terdapatdi bumi dan jangan kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena syaitan musuh yang nyata bagimu.” (Al Baqarah: 168)

 

Selamat Hari Bawa Bekal Nasional!

 

Referensi: Lifestyle Kompas

 

SOLOPEDULI.ORG - Kenikmatan hidup di dunia ini memang patut untuk disyukuri, entah bagaimanapun kenikmatan itu adalah anugerah dari Allah SWT. Maka, wajiblah kita untuk bersyukur atas nikmat Allah yang telah diberikan.

Konten kali ini akan membahas mengenai kisah tiga orang Bani Israil, yang memiliki kekurangan. Orang pertama terjangkit penyakit lepra, kedua mengalami kebotakan, dan orang ke  tiga ialah orang yang buta. Allah menguji hambanya dengan dikirimkannya malaikat kepada mereka.

Pertama, malaikat mendatangi orang yang menderita lepra, “apakah ada sesuatu yang paling kamu inginkan?” tanya malaikat. Orang itu menjawab, “rupa yang bagus, kulit yang indah, dan penyakit yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku.” Malaikat langsung mengusap orang itu, dan berubahlah ia menjadi rupa yang bagus dan kulit yang indah. “Lalu, kekayaan apa yang paling kamu inginkan?” tanya malaikat lagi. “Unta atau sapi,” jawab orang itu dan kemudian diberikannya unta yang sedang hamil, “semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan unta ini,” kata malaikat.

Orang ke dua, malaikat mendatangi si botak, dan menanyakan hal yang sama. “Rambut yang indah, dan apa yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku,” pinta orang itu. Segera malaikat mengusapnya, dan tumbuhlah rambuh yang indah. “Harta apa yang kamu senangi?” tanya malaikat, “sapi atau unta,” jawabnya. Maka munculah seekor sapi yang sedang hamil, “semoga Allah memberkahimu dengan sapi ini.”

Terakhir, malaikat mendatangi si buta, dan menanyakan hal yang sama. “Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang,” doa si buta, maka diusaplah wajahnya, dan seketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya. “Harta apakah yang paling kamu senangi?” tanya malaikat, “kambing” jawabnya. Kemudian diberikanlah seekor kambing yang sedang hamil.

Ketiganya pun mengembangbiakkan ternak mereka. Hingga suatu ketika, malaikat kembali kepada mereka dengan menyerupai wujud mereka sebelum diberi kenikmatan oleh Allah. Malaikat mendatangi si penderita lepra dengan wujudnya ketika terkena penyakit tersebut, dan bertanya padanya, “aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku untuk mencari rizki dalam perjalananku ini, sehingga tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan anda. Demi Allah yang telah memberi anda rupa yang tampan, kulit yang indah, dan kekayaan ini, aku minta kepada anda satu ekor unta saja untuk bekal meneruskan perjalananku.”

Namun, orang itu menjawab, “hak-hak tanggunganku masih banyak.” Malaikat masih mengujinya, “sepertinya aku pernah mengenal anda, lagi pula anda miskin. Kemudian Allah memberikan kepada anda harta kekayaan.” Dengan bangganya orang itu justru mengelak, “harta kekayaan ini aku warisi turun temurun dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.” Mendengar orang itu berdusta, malaikat berkata, “jika anda berkata dusta niscaya Allah akan mengembalikan anda kepada keadaan anda semula.”

Kemudian malaikat mendatangi orang yang sebelumnya berkepala botak, dan menanyakan hal yang sama. Namun, orang itu juga berkata dusta. Dan, pada akhirnya malaikat mendatangi orang yang dulunya buta, dan menanyakan hal yang sama. Orang itu menjawab, “sungguh aku dulunya buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang anda sukai, dan tinggalkan apa yang tidak anda sukai. Demi Allah, sekarang ini aku tidak akan mempersulit anda dengan memintamu mengembalikan sesuatu yang telah anda ambil karena Allah.” Dan, malaikat tadi berkata, “peganglah kekayaan anda, karena sesungguhnya kalian ini hanya diuji oleh Allah. Allah telah ridha kepada anda, dan murka kepada kedua teman anda.”

Begitu kiranya kisah tiga Bani Israil yang menceritakan tentang mensyukuri nikmat Allah. Maka, perbanyaklah bersyukur atas apa yang dimiliki.

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (QS. An-Nahl: 78)

Referensi: Remajaislam

Monday, 09 April 2018 15:12

Tingkatan Cinta Dalam Islam

SOLOPEDULI.ORG - Cinta. Membicarakan soal cinta memang tiada habisnya. Bukan masalah cinta penyebab galau, atau kisah antara dua insan lawan jenis. Cinta tak sesempit itu. Cinta memiliki makna yang besar dan luas, bisa perasaan cinta terhadap sesama, cinta terhadap setiap ciptaan Allah, dan masih banyak cinta-cinta lain.

Islam memandang cinta sebagai hal yang lumrah dimiliki oleh setiap manusia. Terlebih cinta terhadap Sang Pencipta dan Rasulullah, tak aka nada habis-habisnya.  Ada berbagai jenis cinta, dan jangan sampai kita salah menempatkan cinta kita terhadap sesuatu. Misalnya saja lebih mencintai artis idola, sampai berbuat yang berlebihan. Atau lebih mencintai hobi, seperti memancing hingga lupa waktu untuk beribadah. Cinta-cinta itulah yang justru tidak disukai Allah karena berlebihan. Jangan sampai kita menempatkan cinta kita di tempat yang salah.

Seorang ulama abad ke-7 Ibnul Qayyim Al Jauzy membagi 6 tingkatan cinta. 6 Tingkatan ini adalah urut-urutan mana yang harus kita cintai pertama kali, mana yang menjadi prioritas dalam mencintai dari yang paling utama hingga yang paling akhir.

 

1. Tingkatan Tatayyum

Tatayyum (Penghambaan) adalah tingkatan tertinggi dalam mencintai, dan hanya hak Allah semata. Tiada lain yang berhak kita cintai pada tingkatan ini, kecuali Allah SWT. Mungkin banyak kerap melontarkan kata-kata rayuan pada pasangan, memang tidak sepenuhnya salah, terlebih untuk menjaga keharmonisan. Namun, perlu diingat mencintai pasangan kita berbeda dengan mencintai Allah.

Pada tingkat inilah harus dibedakan. Karena yang patut kita cintai hanya Allah semata.

 

2. Tingkatan ‘Isyk

‘Isyk atau kemesaraan, adalah cinta yang menjadi hak Rasulullah SAW, cinta kepada teladan kita, kepada junjungan kita hingga menjadikan kita untuk selalu berusaha mengikuti apa yang beliau lakukan, mengerjakan sunnah-sunnahnya, dan selalu bershalawat padanya.

“Katakanlah jika kalian cinta kepada Allah, maka ikutilah aku (Nabi) maka Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian (Q.S : Ali imran 3)”

Kecintaan kita kepada Rasulullah SAW adalah kecintaan yang Allah perintahkan. Semoga dengan mengetahui hal ini kita menjadi lebih bangga lagi menjadi umat Rasulullah SAW serta dengan bangga pula menjalankan serta menyerukan sunnah-sunnahnya.

 

3. Tingkatan Syauq

Syauq (kerinduan) adalah cinta antara satu mukmin dengan mukmin lainnya namun lebih dekat secara kekeluargaan. Seperti cinta ayah dan ibu kepada anaknya, cinta kakak kepada adik, cinta antara suami kepada istrinya. Karena cinta ini jugalah manusia saling berkembang meneruskan keturunannya. Pada tingkatan inilah, cinta kita terhadap sesama keluarga.

 

4. Tingkatan Shababah

Shababah atau empati adalah cinta sesama muslim dalam lingkup yang lebih luas. Walau tak saling mengenal, tidak ada kedekatan secara darah, daerah, bahkan bangsa sekalipun namun dipersatukan oleh satu kalimat tauhid “Laa ilaha illallah” .

Hubungan yang didasari oleh ikatan cinta shababah inilah yang menguatkan kita sesama muslim untuk bisa saling merasakan satu sama lain. Untuk saling menolong dan membantu satu sama lain jika saudara kita terkena ancaman atau musibah.

 

5. Tingkatan ‘Athf

‘’Athf  (simpati) bicara tentang sisi kemanusiaan, jadi pada tingkatan ini adalah bagaimana kita bersimpati kepada sesama manusia tanpa melihat apapun suku, bangsa bahkan agamanya sekalipun. Maka jika dia dalam kesulitan, maka alasan sesama manusia cukup bagi kita untuk memberikan bantuan serta pertolongan padanya.

 

6. Tingkatan Aqalah

Aqalah adalah tingkatan terendah dalam tingkatan-tingkatan cinta, apa itu aqalah? Cinta yang tidak begitu dalam, yakni hubungan biasa. Bisa saja cinta kita terhadap harta benda, dan kehidupan duniawi yang hanya bersifat sementara.

Dengan mengetahui tingkatan-tingkatan dalam cinta, semoga dapat membuat kita lebih mencintai Allah lebih dari apapun, dan menempatkan cinta kita kepada Allah di tingkat tatayyum. Dan, menempatkan cinta kita sesuai dengan tingkatannya, dan tidak ada keberlebihan yang membuat kita melalaikan kewajiban.

Semoga bermanfaat.

 

Referensi: Elmina dan Hadilla

Saturday, 07 April 2018 15:36

Cara Mudah Hidup Sehat

SOLOPEDULI.ORG - Bertepatan dengan Hari Kesehatan Sedunia, kali ini konten islami akan mengulas sedikit tentang bagaimana menerapkan hidup sehat. Karena, “mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan.” (HR. Muslim)

Kesehatan adalah hal yang paling penting bagi kita. Bahkan dalam islam, sehat adalah sebuah kenikmatan. Dan, kita diajarkan untuk tidak menyianyiakan kenikmatan yang telah diberi oleh Allah kepada kita. Jadi, sebagai umat muslim kita harus menjaga kesehatan kita. Berikut adalah cara mudah untuk menerapkan pola hidup sehat,

 

1. Perbanyak minum air putih

Mengonsumsi air putih jadi salah satu cara mudah untuk menjaga tubuh kita tetap sehat. Karena dengan minum air putih yang cukup, kebutuhan tubuh akan air terpenuhi dan terhindar dari dehidrasi. Takaran kebutuhan air dalam tubuh setiap manusia berbeda-beda, kurang lebih 8-10 gelas perhari.

 

2. Makan makanan yang sehat dan halal

Seperti halnya yang dicontohkan Rasulullah SAW, beliau hanya memakan makanan yang halal dan baik, seperti: ikan laut segar, buah-buahan (tin, zaitun, kurma, anggur, delima), madu, daging, susu dan biji-bijian (gandum). Pada pagi hari, Rasulullah SAW sarapan dengan segelas air yang dicampur oleh sesendok madu asli. Selain dapat menjaga daya tahan tubuh, madu juga dapat menjadi obat bagi berbagai macam penyakit.

Menu makanan yang sederhana seperti yang dicontohkan Rasulullah, terbukti mampu menjaga kesehatan, selain juga dapat memenuhi gizi yang diperlukan oleh tubuh.

 

3. Tidur yang cukup

Rasulullah selalu tidur selepas sholat isya’, dan bangun di sepertiga malam. Secara medis memang dianjurkan untuk tidur cukup, supaya tubuh dapat beristirahat. Namun, di zaman millennium ini, banyak yang memilih tidur larut dan bangun terlambat. Justru itu yang tidak dianjurkan oleh Rasulullah, karena dapat menganggu kerja tubuh, dan yang terpenting mengganggu jadwal untuk sholat. Maka, sebaiknya kita mengatur jam tidur kita dengan baik, jangan terlalu malam begadang, atau malah bangun terlambat.

 

4. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan

Selain tiga hal di atas, menjaga kesehatan tubuh yang paling penting adalah kebersihan. Baik kebersihan pada diri sendiri maupun lingkungan sekitar kita. Karena dengan kondisi tubuh yang bersih serta lingkungan yang tak kalah bersih, penyakit yang disebabkan kuman maupun virus akan menjauh.

 

Selain empat hal di atas, masih banyak lagi cara yang dilakukan untuk menerapkan hidup sehat yang sederhana. Tanpa harus mengeluarkan banyak biaya. Kesehatan adalah investasi masa depan yang paling berharga, mari jaga kesehatan kita.

 

Selamat Hari Kesehatan Sedunia!

 

Referensi : Urusandunia

Friday, 06 April 2018 15:48

Memupuk Berkah Melalui Sedekah

SOLOPEDULI.ORG - Diriwayatkan ari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda (yang artinya), “pada suatu ketika, ada seseorang yang sedang berjalan di padang pasir yang tiba-tiba mendengar suara dari dalam awan, ‘siramilah kebun si Fulan.’ Kemudian awan itu menuju ke arah suatu tempat yang banyak batunya, lantas menuangkan airnya.

Pada tempat yang banyak batunya tersebut, ada sebuah parit yang penuh dengan air hingga parit itu pun ikut mengalirkan air. Kemudian, di situ ada seorang lelaki yang berada di tengah-tengah kebunnya sedang membagi-bagi air, dengan alat pengukur tanah. Ia bertanya kepada orang itu, ‘Wahai hamba Allah, siapakah namamu?’ Orang itu menjawab, ‘Fulan.’ Nama yang sama dengan yang pernah didengarnya dari dalam awan tadi.

Kemudian, Fulan bertanya kepadanya, ‘kenapa kamu menanyakan namaku?’ Ia menjawab, ‘sesungguhnya saya tadi mendengar suara dari dalam awan, yang kemudian menuangkan air ini. Suara itu berkata, ‘siramilah kebun si Fulan,’ persis dengan namamu. Memangnya apa yang telah kamu perbuat?’

Fulan menjawab, ‘karena kamu bertanya seperti itu, maka aku jawab. Sebenarnya, aku selalu memperhatikan hasil yang dikeluarkan kebun ini, sepertiga dari hasil itu aku sedekahkan, sepertiga aku makan dengan keluargaku, dan sepertiga lagi aku persiapkan untuk bibit,’ kata Fulan.”

Dari kisah di atas, kita dapat mengambil pelajaran, yakni mengenai sedekah. Orang yang rajin bersedekah akan selalu mendapatkan berkah, bahkan dapat berlipat dari yang disedekahkan.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yag menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun di waktu sempit.” (QS. Ali Imran 133-134)

Lebih-lebih, bila bersedekah di hari Jumat. Niscaya akan dilipatgandakan berkah dari Allah SWT. “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”  (Al Baqarah: 261). Bersedekah di hari Jumat jugadisamakan bersedekah di bulan Ramadhan. Seperti yang disampaikan oleh Ibnu Qayyim,“Sedekah di hari Jumat dibanding dengan sedekah di hari lain adalah seperti sedekah di bulan Ramadhan dibandingkan sedekah di bulan – bulan selainnya.”

Hari Jumat memang memiliki keistimewaannya sendiri. Hari Jumat dianggap sebagai hari yang terbaik di antara hari-hari baik lainnya. Akan lebih istimewa pula, jika kita melakukan yang tebaik di hari yang paling baik. Karena memupuk kebaikan akan menghasilkan kebaikan pula.

 

Semoga bermanfaat.

 

Referensi: Tabunganwakaf, Kisahislam dan Dalamislam

Thursday, 05 April 2018 14:51

Belajar Manajemen Waktu Dari Rasulullah

 

“Dan mereka berkata” kehidupan ini tidak lain saat kita berada di dunia, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan (mematikan) kita kecuali dahr (perjalanan waktu yang dilalui oleh alam).” (QS Al-Jaatsiyah: 24).

  

SOLOPEDULI.ORG - Waktu adalah serangkaian perjalanan. Sebuah kenikmatan yang diberikan oleh Allah, namun terkadang waktu disia-siakan begitu saja.  Dalam HR. Muslim sudah dijelaskan bahwa kita sebagai manusia harus memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin, “Gunakanlah lima perkara sebelum datang yang lima : masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, waktu kayamu sebelum datang waktu miskinmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang ajalmu.”

Kita, manusia, telah diberi modal Allah waktu yang sama. Yakni, sebanyak 24 jam sehari, 168 jam seminggu, dan 672 jam dalam sebulan, dan terus bertambah sampai waktu itu berhenti mengikuti kita hidup di dunia.

Rasulullah SAW, memimpin selama 23 tahun, dan dalam waktu itu pula membawa perubahan besar di Jazirah Arab. Manajemen waktu menjadi salah satu kunci keberhasilan beliau. Berikut adalah beberapa rahasia manajemen waktu Rasulullah,

1. Shalat Fardhu

Shalat sudah menjadi kewajiban bagi semua umat Islam. Ternyata, di balik shalat fardhu banyak terdapat manfaat bagi yang mengerjakan. Salah satunya adalah dapat membentuk watak dan tonggak ritme hidup, sehingga terdapat pemilihan waktu dalam sehari yang jelas. Isya’, Subuh, Dhuhur, Ashar, dan Maghrib, sebagai penanda waktu umat islam.

2. Investasi

Yang dimaksudkan di sini adalah berpola pikir investasi, bukan manajemen waktu yang instan. Mempersiapkan segalanya dengan baik, mengelola waktu dengan teliti dan berpikiran jauh ke depan. Karena dengan persiapan yang baik akan mendapatkan hasil yang baik pula.

3. Produktif

Waktu luang adalah kenikmatan. Namun, jangan sampai dipergunakan secara sia-sia dan tidak menghasilkan apapun. Memanfaatkan waktu dengan produktif, jadi salah satu manajemen waktu yang dilakukan oleh Rasulullah.

4. Manfaatkan Peluang dan Kesempatan

“Aji Mumpung” jadi salah satu tips manajemen waktu yang dapat dilakukan. Jangan pernah menyia-siakan kesempatan dan peluang yang ada di hadapan kita. Karena bisa saja peluang dan kesempatan itu adalah pintu awal keberhasilan.

5. Stop menunda-nunda

Menunda-nunda pekerjaan, tanpa sadar sering kita lakukan, dari yang paling sederhana, makan, minum dan sebagainya. Rasulullah tidak mengajarkan kita menunda pekerjaan, terlebih kewajiban kita. Berhenti menunda-nunda, karena dapat menunda rezeki kita pula.

6. Evaluasi

Secara rutin melakukan evaluasi. Baik itu evaluasi diri, maupun dalam kelompok. Apa saja yang sudah kita lakukan selama seharian ini, apa saja yang sudah kita hasilkan dalam sehari, dan masih banyak lagi bahan evaluasi diri yang dapat dilakuakan. Hal ini dilakukan supaya kita dapat menjalani waktu-waktu berikutnya jadi lebih bermanfaat dan tidak sia-sia begitu saja.

 

Waktu terkadang berjalan begitu cepat, namun kadang terasa lambat. “Dan (ingatlah) akan hari (yang waktu itu) Allah mengumpulkan mereka (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah tinggal (di dunia) melainkan sesaat saja di siang hari (yang waktu itu) mereka saling berkenalan” (QS Yunus: 45).

Waktu adalah kehidupan, jangan sampai tersiakan percuma. Mari berkehidupan bersama waktu dengan penuh manfaat dan kebaikan.

Semoga bermanfaat.

 

Referensi: Republika dan Dakwatuna

Wednesday, 04 April 2018 13:31

Karena Warna Kita Tak Sama

 

“Seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya,
memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti,
memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan,
kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi.”


SOLOPEDULI.ORG - Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.

Di padang gembalaan  tak jauh darinya, berdiri sebuah gubuk kecil berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantunkan Al Quran, dengan  menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki yang berlarian itu dan  ia mengenalnya, “Masya Allah” ia berseru, ”bukankah itu Amirul Mukminin?”


”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu gubuknya, “apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!” Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.

 

”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!” Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya menggema memenuhi lembah dan bukit di sekalian padang.


“Masuklah kemari!” seru Utsman lagi, “akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”

”Tidak!” balas Umar, “masuklah ‘Utsman! Masuklah!” Umar bersikukuh tak ingin masuk ke gubuk Utsman. “Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.” Utsman mencoba meyakinkan Umar untuk masuk ke gubuknya.

“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!” tolak Umar, benar saja angin makin kencang membawa butiran pasir membara. Utsman pun masuk dan menutup pintu gubuknya. Dia bersandar di baliknya & bergumam, ”demi Allah, benarlah Dia & Rasul-Nya. Engkau memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”

Umar memang bukan Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki. Umar, jagoan yang biasa bergulat di Ukazh, tumbuh di tengah bani Makhzum nan keras & bani Adi nan jantan, dan kini memimpin kaum mukminin. Sifat-sifat itu dibawa Umar,  dan menjadi ciri khas kepemimpinannya.

Sedangkan, Utsman, lelaki pemalu, anak tersayang kabilahnya, datang dari keluarga bani ‘Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman sentosa. Umar tahu itu. Maka ia tak meminta Utsman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan diri. Rasa malulah yang menjadi akhlaq cantik Utsman. Kehalusan budi perhiasannya. Kedermawanan yang jadi jiwanya. Andai Utsman jadi menyuruh sahayanya mengejar unta zakat itu, sang budak pasti dibebaskan karena Allah & dibekalinya bertimbun dinar.

Itulah Umar. Dan inilah Utsman. Mereka berbeda. Kuduanya adalah muslim yang taat. Mereka berjalan dengan gaya mereka masing-masing, dan tidak menuntut satu sama lain untuk memiliki gaya yang sama. Yang terpenting dalam kehidupan ini adalah toleransi, karena kita tidak bisa menyamakan setiap manusia di dunia ini dengan gaya yang sama. Setiap orang memiliki gayanya masing-masing, seperti halnya Umar dan Utsman, yang memiliki “cara” berbeda dalam menyikapi unta zakat yang kabur.

 

Sumber: Kisahinspirasi (oleh Salim A. Fillah – Karena Ukuran Kita Tak Sama)

Save

Solo peduli News