Thursday, 16 March 2017 15:00

Menjadi Pelayan Sejati

Suatu ketika, Fatimah az-Zahra, putri Rasulullah SAW, merasakan lelahnya mengurus rumah tangga. Setiap hari ia harus menyiapkan makanan dan segala keperluan dan kebutuhan rumah tangga untuk suami dan anak-anaknya. Mulai dari mencuci pakaian, membuat tepung dan roti, hingga membersihkan rumah sehingga badannya tampak lebih kurus dari biasanya.

Untuk meringankan beban, Fatimah bermaksud mencari seorang pembantu yang mau bekerja di rumahnya. Fatimah mendengar berita bahwa Rasulullah mempunyai beberapa orang tawanan perang. Dia dan suaminya Ali bin Abi Thalib RA menemui Rasul dengan maksud meminta salah seorang dari mereka untuk menjadi pelayannya.

Rasul menolak permintaannya dan kepada keduanya beliau menyatakan, “Bagaimana aku akan memberimu seorang pelayan, sementara Ahlus suffah (para sufi yang tinggal di masjid Nabawi) sedang kelaparan dan aku belum tahu makanan apa yang harus aku hidangkan buat mereka. Namun demikian, aku tunjukkan kepada kalian berdua sesuatu yang lebih baik dari memiliki pelayan. Engkau menyebut subhanallah 33 kali, alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 33 kali selepas shalat itu jauh lebih baik daripada engkau memiliki seorang pelayan.” Sejak mendengar nasihat Rasul tersebut, Ali bin Abi Thalib tidak pernah meninggalkan zikir dan wirid tersebut.

Kisah tersebut mengingatkan kita pada tiga hal. Pertama, larangan memanjakan diri secara berlebihan. Sebaliknya, setiap orang harus mampu mengurus diri sendiri dan rumah tangganya. Rasul SAW tidak ingin putrinya itu bergantung kepada orang lain, selagi mampu melayani diri sendiri.

Pendidikan kemandirian ini sekaligus menanamkan sifat dedikatif untuk mau melayani orang lain dan tidak selalu min ta dilayani. Pendidikan kemandirian ini sekaligus meneguhkan pentingnya model kepemimpinan dedikatif. “Sayyidul qaumi khadimuhum”(sebaik-baik pemimpin adalah yang mau melayani rakyatnya).

Kedua, spiritualisasi orientasi hidup jauh lebih penting da ripada terjebak dalam ‘kenikmatan duniawi’ sesaat yang menipu dan menyesatkan. Bagi seorang putri Rasul, membiasakan zikir dan wirid selepas shalat itu jauh lebih baik daripa da memiliki seorang pelayan. Tidakkah pada era sekarang banyak orang tua salah orientasi dalam mendidik dan membesarkan anak-anak mereka dengan menyerahkan pengasuhannya kepada pembantu? Berzikir kepada Allah setelah shalat merupakan bentuk pelayanan diri sendiri yang terbaik karena dapat membebaskan diri dari segala bentuk keluh kesah dan masalah.

Ketiga, menentukan skala prioritas. Rasul tahu persis apa yang menjadi kebutuhan putrinya maupun umatnya. Rasul menolak permintaan putrinya karena di Masjid Nabawi masih banyak hamba-hamba Allah yang kelaparan. Mereka lebih membutuhkan uluran tangan.

Kebijakan Rasul ini mempertegas komitmen seorang pemimpin untuk memahami realitas yang dihadapi rakyatnya dan bukan mengutamakan pribadinya. Pemimpin yang memiliki sense of crisis, kepedulian sosial, dan tidak mengedepankan pencitraan inilah yang harus diteladankan pada umatnya. Wallahu a’lam.

Sumber: republika

Dalam hidupnya, Rasulullah SAW selalu bersifat rendah hati dan pemaaf. Tiada terhitung banyaknya cacian dan hinaan yang diterima Beliau dari kaum kafir Quraisy.

Namun, Beliau tetap berbuat baik terhadap orang-orang yang menghinanya itu. Salah seorang yang sangat membenci Nabi Muhammad SAW adalah seorang Nenek tua Yahudi. Kebetulan jika Nabi ke Masjid selalu melewati rumah si Nenek.

Suatu hari Rasulullah lewat, si nenek sedang menyapu rumahnya. Buru-buru si nenek mengumpulkan sampah dan debu dari rumahnya. Ketika Rasulullah lewat di depan jendela, maka dilemparkan sampah dan debu itu ke Rasulullah.

Rasulullah terkejut, namun ia tidak marah begitu tahu siapa yang melemparnya. Malah Rasulullah mengangguk sambil tersenyum. “Assalamu’alaikum!” sapa Rasulullah. Nenek itu malah melotot kepada Rasulullah. “Enyah, kau!” kata si Nenek.

Keesokan harinya, Rasulullah lewat lagi di depan rumah si nenek. Masya Allah, ternyata si nenek sudah bersiap-siap lagi melempar Rasulullah dengan kotoran. Kali ini dia juga meludahi Rasulullah.

Bagaimana sikap Nabi Muhammad? Lagi-lagi, Rasulullah hanya tersenyum dan berusaha membersihkan pakaiannya. Si Nenek menjadi tambah marah karena Rasulullah SAW tidak terpengaruh.

Begitulah, beberapa hari Rasulullah lewat di depan rumah si nenek tersebut. Setiap kali itu pula ia menerima lemparan sampah dan debu. Rasulullah tetap saja tidak marah.

Suatu kali Rasulullah SAW, lewat lagi di depan rumah sang nenek. Tapi, kali ini lain. Si nenek tidak kelihatan. Padahal, Rasulullah sudah bersiap-siap menyapanya. “Aneh,” pikir Rasulullah, “Pasti ada sesuatu yang terjadi pada si nenek.”

Rasulullah lalu mendatangi tetangga si nenek. “Apakah engkau tahu apa yang terjadi dengan Nenek di sebelah rumah ini ? Aku tidak melihatnya hari ini,” tanya Rasulullah.

“Mengapa engkau begitu peduli pada dia, Wahai Rasulullah? Bukankah selama ini ia selalu menghinamu?”. Rasulullah hanya tersenyum mendengar pertanyaan tetangga si nenek. Tetangga itu lalu menjelaskan bahwa si nenek itu tinggal sebatang kara, dan kini sedang sakit keras.

Maka, bergegaslah Nabi Muhammad menuju rumah si nenek yang sedang sakit. Di rumah itu, Rasulullah membantu memasak makanan, mengambilkan air dari sumur dan membersihkan debu–debu di rumah. Si nenek heran melihat ada orang yang membantunya. Ia berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Akhirnya, tahulah ia siapa sebenarnya yang membantunya.

Begitu melihat wajah Rasulullah yang sangat tulus, si nenek menitikkan air mata. Selama ini tidak ada yang mau merawat dirinya. Tapi, justru orang yang selama ini dihinanya, dengan penuh kasih sayang telah peduli dan mau merawatnya. “Sungguh mulia hati orang ini,” pikir si nenek. Lalu nenek tua renta itu meminta maaf kepada Rasulullah.

Begitulah salah satu kisah tentang kemuliaan dan kebeningan hati Nabi Muhammad SAW. Karena itu, Para sahabat dan orang-orang yang pernah mengenal Beliau begitu menyayangi Beliau. Ketika Beliau wafat, orang segagah ‘Umar bin Khattab juga menangis tersedu-sedu.

Akhirnya, si nenek yang selalu melempar sampah, debu bahkan kotoran itu masuk Islam. Ia kemudian menjadi salah seorang muslimah yang taat dimasa Rasulullah.

Wednesday, 15 March 2017 20:30

Doa Revo vs Doa Umi

Kadang butuh waktu lama untuk mewujudkan sesuatu atau menghilangkan sesuatu. Ini tentang Revo, sholat dan game.  Kami melakukannya dengan usaha dan doa. Ya doa.

Sampai ulang tahunnya yang ke 7 kemarin Revo masih sulit untuk anteng dalam melaksanakan sholat. Ia tak tahan untuk diam dan kalau berjamaah di masjid seringkali pulang duluan saat jamaah lain baru rekaat pertama atau ke dua.

Di rumah pun seringkali meninggalkan acara sholat berjamaah dengan saya. Ia membubarkan diri saat rekaat pertama atau kedua dengan kalimat

“Nanti aku sholat sendiri saja...”

Saya terus saja mendoakan dan membujuknya melalui dialog. Jika malam hari ia tengan tidur pulas, saya elus dadanya dan kepalanya sambil mendoakan agar ia mudah bangun pagi dan mau sholat dengan tertib. Saya juga membisikkan kata-kata motivasi. Saya meyakini fisiknya memang tidur, tetapi jiwanya tidak tidur.

Adapun diantara dialog kami misalnya:

“Po, sholat itu tiket untuk masuk surga lho...maukan sayang-sayangan sama Umi di surga?”

Atau begini:

“Po kalau sholatnya bener itu, doa dan keinginan akan lebih mudah dikabulkan.”

Mungkin penjelasan ini masuk juga ke fikirannya. Sudah beberapa pekan ini ia rajin pergi ke masjid, setidaknya sholat maghrib. Di rumah juga sholat dengan tertib baik sendiri maupun berjamaah.

Apakah ada hubungannya dengan keinginannya agar internet wifi di rumah dihidupkan lagi...entahlah.

Kemarin siang ia bercerita.

"Umi tadi aku berdoa terus dikabulkan..." kata Revo yang akhir-akhir ini sudah sholat dengan bener.

Bener minimalnya seluruh bacaan yang wajib dan sunah dibaca dari takbir sampai salam. Seluruh gerakan dilakukan tanpa menengok atau melirik. dan bacaan favoritnya surat Al-Ghoshiyah dan Al Fajr.

"O ya doamu apa?"

"Aku berdoa agar skorku tinggi dan skorku memang paling tinggi."

Memang Revo dapat skor tertinggi saat olah raga melempar sasaran.

"Alhamdulillah...kalau sholatnya bener doanya in sya Allah dikabulkan..."

kataku sambil menghadiahi pelukan dan ciuman.

"Kalau Umi kok doanya ada yang belum dikabulkan....?"

Ia menyeletuk mengagetkan. Maksudnya Uminya kalau sholat bener, tapi doanya tidak dikabulkan.

"Apa ya...?" tanyaku mencari arah pembicaraannya.

"Itu Umi kan selalu berdoa agar aku lupa pada game...aku enggak lupa-lupa...hehe aku masih seneng main game..."

"O iya soalnya kamu terus berdoa ya biar tetep bisa main game...?" Revo mengiyakan sambil cekikikan.

"Mungkin Umi itu kebanyakan doa...jadi yang dikabulkan sudah banyak..." kata Revo..Gantian saya yang terbahak dengan analisanya.

"Kalau aku kan doanya cuma satu jadi langsung dikabulkan...."

Haha...aku makin tergelak. Ada-ada saja.

Memang saya terkadang mengeraskan doa dan harapan kebaikan untuk Revo selepas kami sholat atau kalau akan tidur.

Misal doa saya:

"Ya Allah jadikan Revo anak solih, rajin mengaji, rajin sekolah, sayang keluarga. Lupa sama game dan internet..."

Dan Revo akan menimpali doaku.

"Ya Allah jadikan aku tetep seneng sama game dan internetnya bisa hidup..."

Walaupun sebagian doa kami bertentangan tetapi kami tetap berpelukan dan tertawa-tawa.

Memang sudah berbulan-bulan speedy di rumah dimatikan dan saya tak pernah online di hadapan Revo. Saya ngenet menggunakan PC hanya jika Revo sekolah atau Revo sudah tidur.

Revo menjalankan diet internet dan diet game untuk mengembalikan aktivitas yang lebih sehat dan terarah.

Game di mana saja

Kemarin Revo berkata:

"Umi, sepertinya doanya umi sekarang dikabulkan..."

"Doa apa Po?"

"Doa agar aku lupa sama game...aku berhari-hari enggak main game dan aku tetap senang-senang..."

"Alhamdulillah..." Aku memeluknya senang.

"Sekarang kamu bantu doanya terus berlanjut ya...kamu juga doa agar lupa sama game..."

"Iya aku bantu doanya..."

Dan kami berpelukan lagi. Banyak pelukan...banyak ciuman, itu terapi cinta untuk Revolusi.

Semoga seterusnya ya Allah, jauhkan putraku ini dari game dan pengaruh negatif dunia maya. Amiin.

Perjuangan masih panjang. Setidaknya Revo bertambah keyakinannya tentang berdoa. Eh kita orang tua harus makin yakin ya pada kekuatan doa.

Note: sekarang Revo 10 tahun. Alhamdulillah bahagia tanpa internet dan gadget.

 

Sumber: @lailacahyadi

Tuesday, 14 March 2017 15:30

4 Strategi Keuangan Jelang Umur 30 Tahun

Usia 30 tahun sudah tergolong sebagai usia di mana Anda sudah dituntut untuk berkeluarga, memiliki penghasilan tetap dan mapan secara finansial. Usia 30 merupakan usia yang cukup dewasa untuk mapan secara finansial. Tentunya tidak mudah untuk mencapai hal tersebut terutama apabila tidak mempunyai tujuan yang dan cara yang tepat. Berikut adalah beberapa hal yang harus dipersiapkan menjelang umur 30 tahun:

Mandiri secara finansial

Ini berarti harus memiliki rencana keuangan yang telah tersusun dengan baik serta pendapatan yang mapan dan pekerjaan yang stabil. Pada umur 30 tahun, Anda akan menghadapi perubahan besar di dalam hidup seperti menikah, berumah tangga, memiliki keturunan dan tentunya seluruh perubahan ini membutuhkan biaya yang cukup besar.

Mandiri secara finansial dapat diraih dengan meningkatkan kualitas diri. Misalnya dengan terus menambah keahlian yang dibutuhkan demi kemajuan karier. Harus diingat bahwa pendapatan yang akan diperoleh di masa depan sangat dipengaruhi oleh kualitas diri di masa sekarang. Untuk mandiri secara finansial, harus berani berinvestasi pada diri sendiri.

Memiliki rincian pengeluaran

Rincian pengeluaran adalah salah satu hal yang harus dimiliki sebelum usia 30 tahun, agar nantinya ketika kebutuhan makin bertambah tidak akan kewalahan mengaturnya. Mulailah dari menyimpan struk belanjaan, pengeluaran konsumsi atau transportasi setiap harinya. Milikilah buku yang dikhususkan untuk mencatat pengeluaran-pengeluaran tersebut.

Rincian pengeluaran juga dapat membantu melakukan perencanaan keuangan. Perencanaan keuangan ini dapat berupa investasi di masa depan atau simpanan. Dengan memiliki tujuan finansial, Anda akan lebih termotivasi dan dituntut untuk mengembangkan rencana guna mencapai tujuan tersebut.

Tujuan tersebut juga harus ditentukan dengan batas waktu, misalnya saja berencana untuk melunasi biaya pernikahan. Jika memberikan batas waktu, misalnya dalam dua bulan mendatang akan mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk mencapai tujuan tersebut dibandingkan tujuan tanpa waktu yang jelas.

Pos dana darurat

Pos dana darurat sangat penting karena dana tersebut akan dibutuhkan jika terjadi keperluan mendesak. Mempersiapkan pos dana darurat juga membantu untuk lebih tenang memasuki usia 30 tahun.

Jika kesulitan menyisihkan uang untuk pos dana darurat, ini berarti Anda menghabiskan lebih dari yang didapatkan. Hentikanlah kebiasaan belanja boros. Anda harus mengetahui dengan jelas alokasi penghasilan yang didapat tiap bulannya. Kemudian, bedakanlah yang mana kebutuhan dan keinginan. Jika terbiasa untuk menghabiskan uang secara berlebihan pada gaya hidup mewah, mulailah mengalokasikan dana tersebut untuk membayar utang, menabung dan untuk pos dana darurat.

Pos dana pensiun

Memasuki umur 30 tahun, berarti sudah lebih dekat masa pensiun (usia 55 tahun atau 60 tahun). Anda dapat mulai mempersiapkan dana pensiun dengan cara menyisihkan sebagian pendapatan. Tabungan tersebut kemudian dapat digunakan untuk investasi agar tidak termakan oleh inflasi. Investasi yang dapat dipilih dapat berupa investasi emas, obligasi, saham, reksa dana atau properti. Tetapi sebisa mungkin, anda menyesuaikan pilihan investasi dengan jangka waktu investasi.

Jika merupakan lulusan muda, rencana pensiun seharusnya menjadi hal terakhir yang ada di dalam benak. Tidak ada salahnya jika ingin menabung, hanya saja, tabungan tersebut sebaiknya digunakan untuk investasi dan memperoleh pengalaman finansial yang lebih banyak. Walaupun begitu, jika mulai mempersiapkan dana pensiun dari sekarang, uang yang perlu disisihkan setiap bulannya akan menjadi lebih ringan.

Mulailah sejak dini

Bertanggung jawab secara finansial sudah seharusnya dilatih sejak dini, bukan hanya menjelang usia 30 tahun. Jika memang baru lulus universitas, merencanakan masa depan juga tidak ada salahnya. Memiliki masa depan yang aman dapat dimulai dari kapan saja, lebih cepat pastinya akan lebih baik.

Namun jangan sampai kita lupa dengan kewajiban kita sebagai umat Islam untuk saling berbagi kepada sesama yang membutuhkan. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Sehingga segala apa yang sudah kita miliki sejatinya adalah hal yang fana. Mengelola keuangan dengan baik, namun jangan sampai melalaikan kita dalam menunaikan hak kaum dhuafa.

Sumber: republika

“Sungguh saya telah berjumpa dengan beberapa kaum, mereka lebih bersungguh-sungguh dalam menjaga waktu mereka daripada kesungguhan kalian untuk mendapatkan dinar dan dirham” (Al-Hasan Basri)

Saudaraku, Waktu adalah salah satu diantara nikmat Allah yang paling berharga dan agung bagi manusia. Cukup bagi kita kesaksian Al-Qur’an tentang betapa agungnya tentang nikmat yang satu ini. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menunjukkan tentang urgensi waktu, ketinggian tingkatannya, dan juga pengaruhnya yang besar. Bahkan Allah telah bersumpah dengan waktu dalam kitab-Nya yang mulia dan ayat-ayat-Nya yang luhur dalam konteks yang berbeda-beda. Allah yang urusan-Nya yang begitu agung telah bersumpah dengan waktu malam, siang, fajar, subuh, saat terbenamnya matahari, waktu dhuha, dan dengan masa.

Hanya orang-orang hebat dan mendapatkan taufik dari Allah, yang mampu mengetahui urgensi waktu lalu memanfaatkanya seoptimal mungkin. Dalam hadits, “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu dalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang (HR. Bukhari). Banyak manusia tertipu didalam keduanya, itu artinya, orang yang mampu memanfaatkan hanya sedikit. Kebanyakan manusia justru lalai dan tertipu dalam memanfaatkannya.

Saudaraku, Allah memberikan kita setiap hari “modal” waktu kepada semua manusia di muka bumi ini adalah sama, yaitu 24 jam sehari, 168 jam seminggu, 672 jam sebulan, dan seterusnya. Namun kenapa prestasi bisa berbeda? Dalam waktu yang sama, Mereka mampu berbuat dan berkarya seperti berikut:

  1. Rasulullah SAW : Dalam waktu 23 tahun bisa membangun peradaban Islam yang tetap ada sampai sekarang. Ikut 80 peperangan dalam tempo waktu kurang dari 10 tahun, santun terhadap fakir miskin, menyayangi istri dan kerabat, dan yang luar biasa adalah beliau seorang pemimpin umat yang bisa membagi waktu untuk umat dan keluarga secara seimbang!
  2. Zaid bin Tsabit RA : Sanggup menguasai bahasa Parsi hanya dalam tempo waktu 2 bulan! Beliau dipercaya sebagai sekretaris Rasul dan penghimpun ayat Quran dalam sebuah mush’af
  3. Abu Hurairah : Masuk Islam usia 60 tahun. Namun ketika meninggal di tahun 57 H, beliau meriwayatkan 5374 Hadits! (Subhanallah!)
  4. Anas bin Malik : Pelayan Rasulullah SAW sejak usia 10 tahun, dan bersama rasul 20 tahun. Meriwayatkan 2286 Hadits.
  5. Abul Hasan bin Abi Jaradah (548 H) : Sepanjang hidupnya menulis kitab-kitab penting sebanyak tiga lemari.
  6. Abu Bakar Al-Anbari : Setiap pekan membaca sebanyak sepuluh ribu lembar.
  7. Syekh Ali At-Thantawi : Membaca 100-200 halaman setiap hari. Kalkulasinya, berarti dengan umurnya yang 70 tahun, beliau sudah membaca 5.040.000 halaman buku. Artikel yang telah dimuat di media massa sebanyak tiga belas ribu halaman. Dan yang hilang lebih dari itu.
  8. Ibnu Jarir Ath-Thabari, beliau menulis tafsir Al-Qur’an sebanyak 3.000 lembar, menulis kitab Sejarah 3.000 lembar.Setiap harinya beliau menulis sebanyak 40 lembar selama 40 tahun.Total karya Ibnu Jarir 358.000 lembar.
  9. Ibnu Aqil menulis kitab yang paling spektakuler yaitu Kitab Al-Funun, kitab yang memuat beragam ilmu, adz-Dzahabi mengomentari tentang kitab ini, bahwa di dunia ini tidak ada karya tulis yang diciptakan setara dengannya. Menurut Ibnu Rajab, sebagian orang mengatakan bahwa jilidnya mencapai 800 jilid.
  10. Al-Baqqilini tidak tidur hingga beliau menulis 35 lembar tulisan.
  11. Ibnu Al Jauzi senantiasa menulis dalam seharinya setara 4 buah buku tulis. Dengan waktu yang dimilikinya, beliau mampu menghasilkan 2.000 jilid buku. Bekas rautan penanya Ibnul Jauzi dapat digunakan untuk memanasi air yang dipakai untuk memandikan mayat beliau, bahkan masih ada sisanya.
  12. Iman An-Nawawi setiap harinya berlajar 12 mata pelajaran, dan memberikan komentar dan catatan tentang pelajarannya tersebut. Umur beliau singkat, wafat pada umur 45 tahun, namun karya beliu sangat banyak dan masih dijadikan sumber rujukan oleh umat muslim saat sekarang ini.

Masih banyak lagi contoh-contoh luar biasa lainnya. Kenapa tidak banyak orang yang bisa menyamai mereka? Padahal waktu yang diberikan Allah kepada mereka sama dengan waktu yang diberikan Allah pada hambaNya yang lain? Jawabannya adalah kecerdasan manajemen waktu.

Saudaraku, bercermin kepada genarasi salafus shalih umat ini, dimana mereka telah menorehkan contoh-contoh yang mengagumkan dalam memanfaatkan waktu, detik-detik umur dan setiap hembusan nafas untuk amal kebajikan. Dengan mengetahui jalan hidup orang-orang saleh dan kesungguhan mereka mereka dalam memanfaatkan detik-detik umur mereka dalam ketaatan, memiliki pengaruh besar dihati seorang muslim, yaitu pengaruh dalam menumbuhkan dan membangun gairah untuk memanfaatkan waktu dan memaksimalkan deti-detik usia dalam perkara-perkara yang mendekatkannya kepada Allah. Mari kita telusuri kisah indah dan uniknya mereka dalam memaksiamalkan waktu:

Para genarasi salafus shaleh umat ini sangat bersemangat untuk menjaga waktu hingga dalam keaadaan sakit dan sakratul maut

Al Biruni, (362H—440H), seorang ahli ilmu falak dan ilmu eksakta, ahli sejarah, dan menguasai lima bahasa yaitu bahasa Arab, Suryani, Sanskerta, Persia dan India. Saat detik-detik terakhir hidup beliau, tetap mempelajari masalah faraidh (waris). Lalu seorang berkata kepada beliau, layakkah engkau bertanya dalam kondisi seperti ini? Beliau menjawab, kalau aku meninggalkan dunia ini dalam kondisi mengetahui ilmu dalam persoaalan ini, bukankah itu lebih baik dari pada aku hanya sekedar dapat membayangkannya saja, tidak tahu ilmu tentangnya. Tidak lama setelah itu beliau wafat.

Ibrahim bin Jarrah berkata, “Imam Abu Yusuf Al Qadli rahimahullah sakit. Saya Menjeguknya. Dia dalam keadaan yang tidak sadarkan diri. Ketika tersadar, dia berkata kepadaku, ‘hai Ibrahim, bagaimana pendapatmu dalam masalah ini?’ Saya menjawab, ‘Dalam kondisi ini seperti ini?’ Dia menjawab, ‘Tidak apa-apa, kita terus belajar. Mudah-mudahan ada orang yang terselamatkan karenanya.’ Lalu aku pulang. Ketika aku baru sampai di pintu rumah, aku mendengar tangisan. Ternyata ia telah wafat.”

Syaikh Ibnu Taimiyah selalu menelaah dan memetapi pelajarannya saat beliau sakit atau berpergian. Ibnu Qayyim berkata, Syaikh kami Ibnu Taimiyah pernah menuturkan kepadaku, “Ketika suatu saat aku terserang sakit, maka dokter mengatakan kepadaku,‘Sesungguhnya kesibukan anda menelaah dan memperbincangkan ilmu justru akan menambah parah penyakitmu’. Maka saya katakan kepadanya, ‘Saya tidak mampu bersabar dalam hal itu. Saya ingin menyangkal teori yang engkau miliki. Bukankah jiwa merasa senang dan gembira, maka tabiatnya semakin kuat dan bisa mencegah datangnya sakit?’ Dokter itu pun menjawab, ‘Benar.’ Lantas saya katakan, ‘Sungguh jiwaku merasa bahagia dengan ilmu, dan tabiatku semakin kuat dengannya. Maka, saya pun mendapatkan ketenangan.’ Lalu dokter itu menimpali, ‘Hal ini diluar model pengobatan kami.’

Oleh: Ahmad Bin Ismail Khan/Eramuslim

Monday, 13 March 2017 10:29

Perempuan Dan Tulang Rusuk Yang Bengkok

Abu Hurairah RA merekam nasihat Rasulullah SAW soal cara yang baik dalam menasihati perempuan. Rasulullah SAW bersabda, “Sampaikanlah pesan kebaikan kepada kaum perempuan karena sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika kalian ingin meluruskannya, maka kalian mematahkannya, jika kalian biarkan saja, niscaya ia akan tetap bengkok.” (Muttafaq ‘Alaih).

Syekh Salim bin Id Hilali dalam Syarah Riyadhush Shalihin mengungkapkan kandungan dari hadis agung di atas. Pertama, hendaknya seorang lelaki bersikap lemah lembuh kepada kaum wanita kerena kelemahan mereka dan kelemahan akal mereka. Perempuan mungkin tidak akan selamanya lurus dalam suatu keadaan. Karenanya, hendaknya para lelaki menyesuaikan diri agar kehidupan rumah tangga bisa harmonis.

Perempuan digambarkan diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Sifat ini tak bisa dimungkiri. Maka, jangan sekali-kali seorang lelaki memaksakan kehendaknya kepada wanita. Karena jika ia bersikeras meluruskannya, tulang tersebut akan patah. Namun, jika seorang lelaki memilih jalan nabi, bersabar dan menerima segala kekurangannya, maka wanita akan menjadi partner hidup yang sempurna. Sadari dan terima kekurangan, kelemahan akal dan perangainya serta kebengkokan-kebengkokan lainnya.

Dengan menyadari kondisi wanita secara psikologis tersebut, mudahlah seorang lelaki untuk menyesuaikan diri. Untuk bersikap terbaik, berusaha mengejar akhlak mulia yang dicontohkan Sang Baginda SAW.

Janganlah para lelaki membenci semua yang ada pada wanita bersebab pada kelemahan yang ada padanya. Bisa jadi seorang wanita memiliki kekurangan. Amat mungkin banyak kekurangan. Namun, di balik kekurangan, pastilah terdapat kelebihannya. Mari, sekali lagi kita simak anjuran Nabi SAW. “Janganlah seorang mukmin laki-laki memarahi seorang mukminat. Jika ia merasa tidak senang terhadap satu perangainya, maka ada perangai lain yang dia sukai.” (HR Muslim).

Sumber: republika

Saturday, 11 March 2017 08:30

Kenali Gejala Dehidrasi Selain Haus

Sekira dua pertiga bagian atau 70 persen tubuh manusia terdiri dari cairan. Karena itu, sangat penting memenuhi kebutuhan cairan tubuh dengan minum cukup air supaya tak mengalami dehidrasi.

Tidak hanya perasaan haus, tanda-tanda dehidrasi rupanya bisa hadir dalam berbagai bentuk mengejutkan. Apa saja?

Konsultan diet Helen Bond mengatakan, tanda dehidrasi lain yang perlu dikenali adalah temperamen yang tiba-tiba memburuk. “Dehidrasi bisa memengaruhi mood sehingga seseorang mudah marah. Studi juga telah menunjukkan bahwa orang yang terhidrasi dengan baik umumnya lebih bahagia dan terfokus,” ujar Bond kepada laman Express.

Bibir dan kulit kering juga merupakan salah satu ciri dehidrasi, yang harus diatasi dengan segera minum. Susah konsentrasi, pusing, dan sakit kepala termasuk tanda yang diakibatkan seseorang tak cukup makan atau minum sehingga level gula darahnya menurun.

Gejala dehidrasi lain, apabila seseorang merasa amat lelah baik secara fisik maupun mental. Tanda umum selanjutnya termasuk merasa sangat cemas tanpa alasan, tertekan, serta warna urine menggelap dan lebih bau.

Jumlah air minum harian yang direkomendasikan ialah tiga liter untuk pria dan 2,2 liter untuk wanita. Layanan kesehatan nasional (NHS) Inggris mengatakan, jumlah air dalam tubuh harus senantiasa cukup guna menyeimbangkan mineral yang memengaruhi fungsi tubuh.

“Dehidrasi terjadi ketika air yang keluar dari tubuh lebih banyak daripada yang masuk. Air sangat penting untuk melumasi sendi dan mata, membantu pencernaan, mendorong keluar limbah dan racun, serta menjaga kulit tetap sehat,” ungkap pernyataan resmi NHS.

Sumber: republika

Shalat dhuha adalah amal istimewa. Banyak keajaiban seputar rezeki menghampiri mereka yang rutin menjalankan shalat Dhuha. Salah satunya pemuda ini, sebut saja namanya Abdullah.

Awalnya, Abdullah tidak terlalu perhatian dengan shalat dhuha. Apalagi, pekerjaannya di sebuah perusahaan swasta di Surabaya sangat padat di waktu dhuha.

Ketika ia berpindah kerja yang lebih longgar waktunya, secara kebetulan ia juga mengetahui keutamaan sholat dhuha. Bahwa shalat dhuha diwasiatkan Rasulullah untuk senantiasa dikerjakan, shalat dhuha dua rakaat senilai 360 sedekah, shalat dhuha empat rakaat membawa kecukupan sepanjang hari, bahkan shalat dhuha berpahala umrah.

Jadilah Abdullah memulai shalat Dhuha. Dan keajaiban demi keajaiban pun mengalir sejak hari-hari pertama.

Selang sekitar tiga jam setelah Abdullah menunaikan shalat Dhuha, seorang rekan kerja mentraktirknya. “Alhamdulillah, makan siang gratis,” kata Abdullah mensyukuri nikmat di hari pertama ia berkomitmen merutinkan shalat dhuha. Mungkin bagi orang lain mendapat traktiran makan siang bukanlah rezeki, namun bagi Abdullah, ia mulai menghubungkannya dengan shalat dhuha. Terlebih di hari kedua ada rezeki lain yang datang.

“Ini untuk apa, Bos?” Abdullah terkejut mendapatkan amplop dari atasannya.
“Semacam bonus lah,” jawab atasannya sembari tersenyum.
Jika ditraktir adalah hal sangat biasa bagi banyak orang, mendapatkan rezeki nomplok berupa bonus yang tak diperkirakan sebelumnya benar-benar keajaiban bagi Abdullah. Ini membuatnya sangat bersemangat merutinkan shalat dhuha.

Di hari ketiga, Abdullah menanti-nanti kira-kira dapat rezeki apa ia hari ini. Sejak pagi diperhatikannya segala hal yang terjadi. “Nggak ada rezeki nomplok nih hari ini,” simpulnya setelah jam kerja hampir usai.

“Astaghfirullah,” Abdullah terhenyak. Mengapa ia jadi sangat materialis memperhitungkan rezeki setelah shalat dhuha. Padahal ia sudah tahu konsep ikhlas; beribadah semata karena Allah, bukan karena ingin mendapatkan dunia. Kalau ia jadi tak semangat shalat dhuha karena tak ada rezeki nomplok, itu adalah indikator ke-tidak ikhlas-an. Jika ikhlas, semestinya amal ibadahnya tak terpengaruh dengan hal-hal duniawi yang ia dapatkan atau tidak.

Abdullah bertekad untuk tidak menghitung-hitung balasan duniawi yang ia dapatkan dari shalat dhuha, meskipun ia masih memiliki keyakinan bahwa salah satu faedah shalat dhuha adalah memperlancar rezeki. Ia berusaha lebih ikhlas, meskipun ia masih meyakini bahwa meminta kepada Allah tidak harus dipertentangkan dengan keikhlasan.

“Bruakkk!” Abdullah terkejut setengah mati. Sebuah motor menabrak motornya dari belakang. Ia sempat oleng, namun tidak terjadi apa-apa. Justru motor yang menabraknya itu yang jatuh. Seketika lalu lintas di belakangnya menjadi macet. Ia hendak berhenti, tapi sejumlah orang yang sigap menolong penabraknya itu mempersilahkan untuk melanjutkan perjalanan. “Terus saja, Mas. Terus saja. Mas nggak salah. Biar kami urus.”

Rupanya itu keajaiban di hari ketiga. Nilai materi dan keselamatannya lebih besar dibandingkan bonus yang diterimanya di hari kedua.

Abdullah tertegun. Betapa Maha Pemurahnya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Baru saja ia merutinkan shalat dhuha, keajaiban demi keajaiban telah dirasakannya. Dan itu terus berlanjut di hari, bulan dan tahun berikutnya. Semoga Abdullah mau menuturkannya kembali kepada Bersamadakwah untuk dibagikan kepada pembaca.

Anda juga pernah mengalami keajaiban shalat Dhuha?

Oleh: Muchlisin BK / BersamaDakwah

Thursday, 09 March 2017 11:04

Menyiapkan Hari Esok

Imam Ahmad meriwayatkan dari al-Mundzir bin Jarir, dari ayahnya, ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah SAW pada permulaan siang. Lalu, ada suatu kaum yang mendatangi beliau dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian, membungkus diri dengan kulit macan atau sejenis mantel dengan menyandang pedang. Kebanyakan mereka berasal dari Mudhar, bahkan seluruhnya berasal dari suku Mudhar.”

Maka, (raut) wajah Rasulullah pun berubah ketika melihat keadaan mereka yang demikian miskin itu. Kemudian, beliau masuk, lalu keluar lagi dan memerintahkan Bilal mengumandangkan azan. Maka, Bilal mengumandangkan azan, kemudian iqamah. Lalu, Rasulullah SAW mengerjakan shalat, setelah itu beliau berkhutbah.

“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu,”-sampai akhir ayat-Lalu, beliau membaca ayat (yang artinya), “Dan, hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”

Kemudian, seseorang menyedekahkan sebagian dari dinar, dirham, pakaian, satu sha’ gandum, dan satu sha’ kurma.-hingga akhirnya Rasulullah SAW bersabda, “… meskipun hanya dengan satu belah kurma.” (HR Muslim).

Demikianlah yang ditulis oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya sebelum menjelaskan tentang makna atau kandungan dari surah al-Hasyr ayat 18 yang memerintahkan setiap Muslim untuk menyiapkan hari esok, yang ternyata bukan soal menimbun harta, melainkan justru menyedekahkannya kepada orang-orang yang sangat membutuhkan.

Dengan demikian, bisa diambil pemahaman, sedekah kepada orang yang sangat membutuhkan adalah cara terbaik seorang Muslim untuk benar-benar bahagia pada hari esok (dunia-akhirat). Dan, bersegera dalam sedekah, meski itu hanya satu belah kurma, sudah cukup untuk mempermudah kehidupan kita pada hari esok yang sekaligus menyolusikan kesulitan sesama.

Dengan kata lain, peka dan peduli terhadap kebutuhan sesama (dengan bersegera melakukan sedekah), utamanya mereka yang memang benar-benar membutuhkan pertolongan adalah wujud nyata keimanan seorang Muslim. Bahkan, itulah manivestasi dari ketakwaan seorang Muslim.

“(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS al Baqarah: 3).

Inilah salah satu perkara yang setiap Muslim harus perhatikan setiap harinya. Ibnu Katsir menjelaskan, “Dan lihatlah apa yang telah kalian tabung untuk diri kalian sendiri berupa amal saleh untuk hari kemudian dan pada saat bertemu dengan Rabb kalian.”

Maka, sungguh tidak mengherankan jika sahabat-sahabat Rasulullah, seperti Khadijah, Abu Bakar, Utsman, dan Abdurrahman bin Auf, berlomba-lomba untuk menyedekahkan hartanya di jalan Allah.
Ternyata, semua itu adalah wujud kesungguhan mereka dalam mempersiapkan kebahagiaan kehidupan mereka pada hari kemudian.

Subhanallah, demikian indahnya ajaran Islam. Kebahagiaan hari esok ternyata tidak semata-mata ditentukan oleh kualitas ibadah kita secara pribadi.

Tetapi, juga dipengaruhi oleh sejauh mana kepedulian kita kepada sesama yang membutuhkan. Dan, itulah tabungan masa depan yang sesungguhnya. Wallahu a’lam.

Oleh: Imam Nawawi

Sumber: republika

Wednesday, 08 March 2017 20:00

Membudayakan Membaca

Kebiasaan masyarakat Indonesia dalam membaca dan menulis masih terbilang sangat rendah. Tak usah jauh menelisik pada masyarakat Eropa seperti Inggris, Prancis, Jerman, atau bahkan di Amerika, di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) saja, kebiasaan membaca dan menulis juga terbilang rendah. Indonesia menempati urutan ketiga terbawah di kawasan ASEAN, atau berada di atas Kamboja dan Laos.

Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan. Berdasarkan indeks nasional, tingkat minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,01. Sedangkan rata-data indeks tingkat membaca di negara-negara maju berkisar antara 0,45 hingga 0,62.

Merujuk pada hasil survei United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2011, indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, hanya ada satu orang dari 1000 penduduk yang masih ‘mau’ membaca buku secara serius (tinggi). Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi 124 dari 187 negara dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Lebih Gemar SMS

Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia ini makin menyebabkan kualitas dan mutu pendidikan di Indonesia juga hanya jalan di tempat (stagnan) dan cenderung mundur. Berdasarkan beberapa penelitian, penyebab rendahnya budaya baca ini karena masyarakat Indonesia lebih suka menonton televisi (TV), mendengarkan radio, dan bergelut pada dunia maya (internet dan media sosial) dibandingkan membaca buku. Istilahnya, masyarakat Indonesia lebih suka mengirim SMS atau BBM-an, Facebook-an atau Twitter-an dibandingkan membaca buku

Bila kondisi ini terus berlangsung dan tak diantisipasi sejak dini, maka kita tidak bisa berharap banyak pada mutu dan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Lalu apa yang bisa dilakukan pemerintah?

Sudah semestinya pemerintah mendorong dan lebih maksimal lagi dalam menumbuhkan dan meningkatkan budaya membaca masyarakat Indonesia. Mulai dari memperbanyak kegiatan membaca, baik di sekolah maupun di rumah, hingga pengadaan sarana dan prasarana seperti penyediaan buku-buku bacaan dan pelajaran, baik di perpustakaan sekolah, perpustakaan daerah, maupun memperbanyak taman-taman bacaan masyarakat.

Keseriusan pemerintah dalam mendorong minat baca masyarakat mutlak dibutuhkan. Sebab, kondisi yang sudah ‘mengakar’ dan membudaya akan rendahnya minat baca ini harus dilakukan perbaikan. Pemerintah harus proaktif mengajak masyarakat untuk gemar membaca.

Salah satunya, mendorong peningkatan jumlah produksi buku. Saat ini, angka produksi buku di Indonesia juga terbilang cukup rendah. Setiap tahun, hanya sekitar 7.000-8.000 judul buku yang diterbitkan, Jauh lebih rendah dibandingkan Malaysia yang memproduksi hingga 10 ribu judul buku setiap tahunnya.

Angka itu akan semakin tampak memprihatinkan bila dibandingkan dengan  Jepang yang menerbitkan 44 ribu judul buku per tahun, Inggris 61 ribu judul, dan Amerika Serikat 100 ribu judul buku per tahun.

Artinya, jumlah ketersediaan buku bacaan yang ada, belum mampu memenuhi kebutuhan dasar secara umum masyarakat Indonesia untuk gemar membaca. Jika diakumulasikan, satu buku dibaca oleh tujuh orang warga negara Indonesia.

Budayawan Taufiq Ismail mengeluhkan kondisi masyarakat Indonesia dalam hal membaca. Taufiq menyebutkan, di negara maju siswa SMA diwajibkan menamatkan buku bacaan dengan jumlah tertentu sebelum mereka lulus.

Dicontohkan, di Jerman, Prancis, dan Belanda, para siswa sekolah menengah atas (SMA) diwajibkan untuk menamatkan 22-23 judul buku sebelum mereka lulus sekolah. Sedangkan di Indonesia, kata Taufiq Ismail, sejak tahun 1950 hingga 1997 tak ada kewajiban dari sekolah atau pemerintah kepada para siswanya untuk menamatkan buku bacaan, alias nol buku per tahun.

Kondisi ini jelas bertolak belakang dengan harapan para ‘founding father’ (pendiri) bangsa yang menginginkan masyarakat Indonesia yang cerdas sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, yakni ‘mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bagaimana kita bisa mencerdaskan masyarakat Indonesia bila budaya baca saja sangat rendah? Bagaimana masyarakat bisa mau membaca bila di perpustakaan tak ada buku. Bagaimana buku bisa tersedia di perpustakaan bila produksi buku  masih rendah?

Pertanyaan kemudian, apa sih yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam upaya menumbuhkan minat baca masyarakat ini? Kita pantas mengelus dada menyaksikan fenomena seperti ini.

Alih-alih untuk mencerdaskan anak bangsa, merealisasikan anggaran pendidikan sebesar 20 persen saja masih tarik ulur. Selain itu, masih banyak anak-anak Indonesia yang tak bisa bersekolah karena ketiadaan biaya. Bahkan, sebagian siswa di belahan pelosok negeri ini pun harus berjuang dengan maut karena harus bergelantungan pada kawat dari jembatan yang putus. Sementara, para pejabat pemerintah dan terlibat dalam praktek korupsi. Sungguh sebuah ironi yang sangat mengenaskan.

Karena itu, penulis berharap pemerintah bisa mengatasi semua ini, dan lebih peduli dalam menumbuhkan minat baca masyarakat demi mencerdaskan anak bangsa.

Kita bersyukur karena penerbit buku yang tergabung dalam Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) terus menerus menerbitkan berbagai buku untuk membantu program pemerintah mencerdaskan masyarakat ini. Penerbit juga tak henti-hentinya menyosialisasikan buku-buku yang diterbitkan.

Sayangnya, upaya itu masih bertepuk sebelah tangan. Di saat produksi dan penjualan buku mengalami penurunan, pemerintah tak jua bergerak cepat untuk membantu. Begitu pula dengan sosialisasi ketersediaan buku yang dilakukan penerbit, pemerintah bahkan terkesan tak mau ambil peduli.

Pameran buku di Indonesia, seperti Islamic Book Fair (IBF), Indonesia International Book Fair (IIBF), Jakarta Book Fair (Jakbook), atau lainnya, merupakan sarana bertemunya berbagai stakeholders dunia perbukuan. Sayangnya, itu semua tak berbanding lurus dengan harapan.

Artikel ini diharapkan bisa mendorong pemerintah semakin peduli dan serius dalam upaya menumbuhkan dan meningkatkan budaya membaca masyarakat Indonesia. Sebab, banyak manfaat yang diperoleh dari membaca. Di antaranya; (1) meningkatkan pengembangan diri, (2) meningkatkan intelegensi (intelekual), (3) meningkatkan minat dan pemahaman pada suatu bidang ilmu, (4) wawasan semakin luas, dan (5) menjadikan pembaca mempunyai tutur kata yang sopan.

Banyak upaya yang bisa dilakukan, di antaranya; memotivasi setiap anggota keluarga untuk gemar membaca, mendorong para guru di sekolah untuk menekankan pentingnya membaca buku setiap bulan, minimal satu buku per bulan.

Selanjutnya, meningkatkan ketersediaan buku di perpustakaan dan memperbanyak taman bacaan masyarakat, meningkatkan promosi dan sosialiasi gerakan gemar membaca, memberikan apresiasi pada kelompok atau personal yang gemar membaca, dan menyediakan buku-buku bacaan yang murah dan berkualitas melalui pameran buku.

Dengan upaya ini semua, diharapkan budaya masyarakat untuk membaca semakin tinggi, sehingga harapan pemerintah untuk mencerdaskan anak bangsa bisa terwujud. Semoga.

Oleh : Syahruddin El-Fikri
Sumber : Republika

Save

Solo peduli News