Saturday, 22 September 2018 11:36

Belajar dari Sosok Ali Bin Abi Thalib

Written by 

Belajar dari Sosok Ali Bin Abi Thalib - Siapa yang tak kenal dengan Ali Bin Abi Thalib? Sosok muslim yang luar biasa itu tidak perlu diragukan lagi kesempurnaannya. Ali Bin Abi Thalib adalah salah satu sahabat Rasulullah yang merupakan Khulafaur Rasyidin yang terakhir. Beliau adalah putra dari Abu Thalib, Paman Rasulullah. Beliau juga menjadi menantu Rasulullah semenjak menikahi putri Rasul, Fatimah Az-Zahra.

Semenjak kecil, Ali sudah mendapatkan didikan langsung dari Rasulullah, dalam semua aspek ilmu Islam. Ali sudah masuk Islam sejak usia 9 tahun. Beliau termasuk ke dalam golongan orang-orang yang pertama kali masuk Islam (Assabiquunal Awwalun) sehingga keislamannya tidak perlu diragukan lagi. Ali juga senantiasa membantu Rasulullah untuk mensyiarkan Islam. Hal ini menjadi bukti ketaatannya kepada Allah dan Rasulullah. Sebagai seorang pribadi, sosok Ali adalah sosok yang sangat adil dan bijaksana. Hal ini bisa dilihat dari pendapat dan keputusannya ketika menjadi khalifah.

Selain itu, sosok Ali Bin Abi Thalib juga dikenal sebagai sosok yang berani. Ketika kecil, beliau pernah menggantikan Rasulullah tidur di ranjangnya untuk mengelabui orang-orang kafir Quraisy yang ingin membunuh Rasul dan menggagalkan hijrahnya. Keberanian Ali juga ditunjukkan di medang perang. Ali sudah menjadi andalan umat Islam sejak perang pertama di zaman Rasulullah bergulir (perang badar), walaupun usianya ketika itu baru mencapai 25 tahun. Keberanian Ali Bin Abi Thalib di medan perang ternyata didukung penuh dengan fisiknya yang sangat kuat, serta kehandalannya dalam mengatur strategi peperangan. Ali selalu mempersiapkan peperangan sebaik mungkin dengan cara melakukan diskusi terlebih dahulu dengan para pemimpin kaum muhajirin dan kaum Anshar sebelum peperangan dimulai.

Di samping itu semua, Ali Bin Abi Thalib ternyata juga dikaruniai Allah SWT kecerdasan intelektual yang luar biasa. Konon, ali pernah memecahkan permasalahan kedua orang musafir yang sedang bertikai karena roti dengan cepat, cerdas, dan bijak.

“Dikisahkan, ada dua orang musafir yang sedang beristirahat untuk makan di tengah perjalanannya. Satu orang musafir mempunyai 5 sisir, sedangkan satu orang lainnya mempunyai 3 sisir.

Tiba-tiba, datang seorang musafir lain yang lewat dan akhirnya diajak makan oleh kedua musafir itu. Kedua musafir itu membagi rotinya menjadi 3 bagian sama rata. Sehingga setiap orang akan mendapatkan delapan bagian roti yang sama. Setelah makan, musafir yang baru datang itu pun memberikan 8 dirham kepada dua musafir yang telah memberinya roti dan segera pergi.

Kedua musafir itu pun bertikai dalam pembagian uang 8 dirham itu. Musafir yang awalnya mempunyai 5 sisir beranggapan bahwa pembagian uangnya ada 5:3 karena dia menyumbang roti lebih banyak. Di satu sisi, musafir lainnya beranggapan bahwa pembagian uang itu harus rata (4:4). Karena kedua musafir itu tetap berpegang teguh pada argumen masing-masing, akhirnya keduanya sepakat untuk menceritakan permasalahan itu kepada Ali yang ketika itu menjabat sebagai khalifah.

Setelah mendengar cerita keduanya, Ali ternyata mempunyai penyelesaian yang berbeda dari keduanya. Beliau meminta agar musafir yang memiliki 5 roti mendapat 7 dirham sementara musafir yang memiliki 3 roti mendapat 1 dirham. Kedua musafir itu pun bingung atas keputusan sang khalifah. Ali pun menjelaskan keputusannya. Jumlah roti yang mereka bertiga makan adalah 24 potong roti (8 sisir yang dibagi 3 sama rata). Musafir yang memiliki 3 roti, rotinya dibuat menjadi 9 potong sedangkan dia makan 8 potong, 1 potong ia berikan ke musafir yang datang. Sedangkan musafir yang memiliki 5 roti, rotinya dibuat menjadi 15 potong sedangkan dia juga mendapat 8 potong, 7 potong ia berikan ke musafir yang datang. Dengan demikian, pembagian yang dilakukan ali sangatlah adil dan bijaksana.”

Kita sebagai umat Islam harus bisa belajar dari sosok Ali Bin Abi Thalib. Selain menjadi muslim yang taat kepada Allah dan Rasul, Ali mampu menjadi agen muslim yang luar biasa karena sikap dan pribadinya yang sangat terpuji. Selain itu, kisah Ali juga mengajarkan kepada kita bahwa pengetahuan juga merupakan salah satu hal yang utama bagi kita, setiap muslim. Kita tidak boleh beralasan bahwa kesibukan kita di bidang akademik membuat kita lupa dengan kewajiban kita sebagai hamba Allah, dan kewajiban kita sebagai khalifah di muka bumi ini. Begitupun sebaliknya, jangan sampai kita sebagai insan akademis lupa bahwa menuntut ilmu dan memperluas wawasan juga merupakan kewajiban kita sebagai umat Islam.



Sumber : dakwatuna

Save

Solo peduli News