Wednesday, 11 July 2018 07:13

Tetap Berkarya Saat Pensiun

Written by 

SOLOPEDULI.ORG | Tetap Berkarya Saat Pensiun - Pensiun bisa saja menjadi momok. Ini beralasan karena pensiun berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan penghasilan, pendapatan secara teratur, bahkan fasilitas yang diperoleh selama menjadi karyawan atau pegawai akan berhenti, selesai, berakhir.

Namun pensiun sejatinya hanyalah sebuah status. Kalau mengacu Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) maka pensiun maknanya adalah tidak bekerja lagi karena masa tugasnya sudah selesai. Itu saja. Mengapa berakhir? Hal itu sesuai aturan perusahaan yang sudah ditetapkan.

Karena umur yang telah sampai pada masanya untuk mengakhiri tugas sebagai karyawan atau pegawai. Jika selama ini Anda adalah seorang karyawan, pegawai, pekerja dalam sebuah institusi perusahaan, maka pensiun tidak bisa dihindari. Oleh siapa pun, dalam pekerjaan apapun.

Masa pensiun pasti tiba. Ketika usia sudah tua, produktivitas menurun. Pensiun, cepat atau lambat pasti datang. Karena tidak ada orang yang bisa bekerja sepanjang hayat. Siapa pun bakal pensiun. Setiap orang kerja pasti bakal jadi pensiunan. Begitulah. Akan tetapi, perlu diingat bahwa pensiun bukan berarti berakhir segalanya.

Pensiun bukan kiamat. Apalagi bagi mereka yang masih memiliki tanggungan keluarga, merasa badan masih mampu bekerja, otak masih mampu menghasilkan karya. Pensiun itu bukanlah alasan untuk tak lagi berkarya. Pensiun hanyalah sebuah keadaan, kondisi, dan sekali lagi, sekadar status akibat berakhirnya hubungan kerja seseorang dengan instansi tempatnya dulu bekerja. Setelah itu, pensiunan harus melanjutkan hidup dan kehidupannya.

Pensiun dari pekerjaan, bukan berarti “pensiun” menjadi manusia. The show must go on… hingga ajal menjemput. Bulan April lalu, saya secara resmi dipensiun sebagai seorang karyawan. Bahkan sepuluh tahun silam, ketika saya berada di puncak karier, setidaknya karena diamanahi menjadi Pemimpin Redaksi Harian Solopos, tiba-tiba saya mengalami kecelakaan dan membuat saya lumpuh sepanjang hayat. Beruntunglah saya, dalam kondisi lumpuh tetap dipekerjakan, tidak langsung diberhentikan.

Semua itu tentu selain kepedulian dari banyak orang, rasa optimis pada diri sendiri untuk terus melanjutkan hidup dan kehidupan dengan rasa syukur serta bahagia, menjadi kunci utama agar bisa mengatasi segala permasahan yang harus dihadapi. Alhamdulillah, hingga hari ini saya bisa terus berkarya, berkat kiprah masa lalu yang ternyata berbuah di masa sekarang.

Bersyukur, Jangan Mengeluh Bersyukur adalah bagian terpenting dalam menjalani kehidupan, sebagaimana firman Allah Swt, Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu menyatakan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(Q.S. Ibrahim (14): 7)

Sejalan dengan firman Allah, saya juga sepakat dengan Dr. H. Agus Ali Fauzi PGD Pall Med, yang videonya baru-baru ini viral di dunia maya saat dia menjadi pembicara dalam Silaturahmi Direktur Human Capital BRI dengan Persatuan Pensiunan BRI Cabang Surabaya. “Kalau sudah pensiun jangan kemudian merasa lelah, meskipun tua harus tetap berkarya dan tetap bahagia. Karena jika tidak, maka orang yang stres akan bisa mati mendadak... kik!” katanya.

Menurut Kepala Instalasi Paliatif dan Bebas Nyeri RSU dr Soetomo Surabaya ini, kunci agar tetap sehat, bahagia dan sejahtera di usia senja adalah selalu bersyukur. “Pokoknya jangan pernah mengeluh. Begitu Anda mengeluh, dengan kata ‘waduh… wahh…’ maka itu akan menghasilkan hormon kortisol. Inilah hormon yang memicu munculnya diabet, jantung, darah tinggi… lalu kik! Mati,” kata Agus Ali Fauzi. Dari berbagai referensi yang ada, hormon kortisol atau juga dikenal secara luas sebagai hormon stres, akan diproduksi lebih banyak saat tubuh mengalami stres, baik fi sik maupun emosional.

Hormon kortisol berperan pada penggunaan gula atau glukosa dan lemak dalam metabolisme tubuh untuk menyediakan energi. Selain itu, hormon kortisol berfungsi mengendalikan stres yang dapat dipengaruhi oleh kondisi infeksi, cedera, aktivitas berat, serta stres fi sik dan emosional. Hormon kortisol ini sebenarnya akan membantu mempertahankan tekanan darah tetap normal, sekaligus mengendalikan kadar gula darah dengan melepaskan insulin.

Namun jika hidupnya berkeluh kesah maka hormon kortisol diproduksi yang memicu penyakit karena pengeluaran hormon kortisol dipicu oleh alarm tubuh, keluh kesah. Sedangkan bagi orang yang senantiasa bersyukur, maka hormon tubuh yang dihasilkan adalah hormon endorfin. Hormon endorfin adalah zat kimia seperti morfin yang diproduksi sendiri oleh tubuh.

Endorfin memiliki efek mengurangi rasa sakit dan memicu perasaan senang, tenang, atau bahagia. Hormon ini diproduksi oleh sistem saraf pusat dan kelenjar hipofisis. Hormon Endorfin terdiri dari neuropeptida opioid endogen. Dokter Agus menekankan betapa pentingnya mengendalikan hati. Semakin tua, hendaknya semakin bijaksana, semakin sabar, kian tenang, penuh rasa syukur.

Hindari rasa jengkel, berkeluh kesah, suka mengeluh. “Jangan takut dengan makanan. Karena makanan itu hanya 20 persen. Asal hatinya ditata, penyakit diabet (diabetes militusred), darah tinggi insya Allah tidak akan terjadi, semua itu sumbernya dari hati,” katanya.

Oleh : Mulyanto Utomo (Majalah Hadila Bulan Juli 2018)

Save

Solo peduli News