Saturday, 10 March 2018 13:40

Kejujuran Yang Berbuah Manis

Written by 

Konten islami kali ini akan mengisahkan tentang seorang bernama, Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi’ bin Muhammad al-Bazar. Seorang pemuda yang tinggal di pinggiran kita Mekkah dan betapa jujurnya ia.

Suatu ketika ia kelaparan namun tidak memiliki apapun untuk dimakan. Tanpa ia duga, ia menemukan sebuah bungkusan berbalut kain sutra diikat kaos kaki yang terbuat dari kain sutra pula. Diambilnya bungkusan itu dan ia bawa pulang. Betapa terkejut ia ketika membuka bungkusan itu, yang ternyata berisi seuntai kalung mutiara.

Setelah meletakkan kembali kalung mutiara itu ke dalam kantung sutra, Al-Qadhi keluar rumah. Dan, ia mendengar ada seorang kakek yang mencari bungkusan yang ia temukan tadi, “barangsiapa menemukan bungkusan berisi kalung mutiara, maka uang 500 dinar ini akan aku berikan sebagai imbalan kepada penemunya,” kata si kakek itu. Qadhi bingung, di sisi lain dia sangat butuh uang untuk memenuhi kebutuhannya, tapi ia harus mengembalikan barang yang bukan miliknya. “Akan aku kembalikan,” kata Qadhi mantap.

Qadhi kemudian mengajak sang kakek ke rumahnya. Kakek itu kemudian menyebutkan ciri-ciri barang yang ia cari dengan sangat detail. Kemudian, Qadhi menyerahkan bungkusan yang ia temukan tadi kepada sang kakek, dan Qadhi diberi imbalan 500 dinar seperti yang dijanjikan. Namun, Qadhi menolak. “Sudah menjadi kewajibanku untuk mengembalikan barang yang kutemukan kepada pemiliknya tanpa mengambil upah,” kata Qadhi.

Kakek itu membujuk Qadhi untuk menerima uang yang ia berikan, namun Qadhi terus menolak. Dan, Qadhi terus mengatakan tidak, hingga kakek itu menyerah dan meninggalkan Qadhi.

Lama setelah kejadian itu, Qadhi meninggalkan Mekkah dengan menumpang sebuah perahu. Namun, bencana datang dan perahu itu oleh. Orang-orang bercerai berai menyelamatkan hartanya. Atas karunia Allah, Qadhi selamat dengan berpegangan pada papan perahu. Berhari-hari Qadhi terombang-ambing di laut tanpa arah, hingga akhirnya ia terdampar di sebuah pulau. Pulau itu berpenduduk, tapi tak ada satupun dari mereka yang bisa baca-tulis.

Ketika Qadhi pergi ke masjid untuk membaca Al-Quran, ada beberapa dari penduduk itu menghampiri Qadhi dan memintanya untuk mengajari mereka membaca Al-Quran. Suatu ketika ada yang bertanya pada Qadhi, “apa kamu bisa menulis?” dan Qadhi mengiyakan, lalu sebagian dari mereka meminta untuk diajarkan cara menulis. Dari taklimnya itu, Qadhi bisa mengumpulkan uang.

Suatu hari masyarakat di sana menawarkan sesuatu kepada Qadhi, “kami mempunyai seorang gadis yatim sangat kaya, bagaimana jika kamu menyuntingnya?” Qadhi awalnya menolak, tetapi masyarakat terus membujuknya, dan akhirnya Qadhi menyetujui. Ketika walimah, Qadhi terkejut melihat calon isterinya, bukan karena penampilan fisik tapi karena kalung yang melingkar di lehernya. Sebuah kalung mutiara yang dulu pernah ia temukan di dekat rumahnya. Qadhi kemudian menceritakan kepada semua warga yang hadir mengenai kalung itu.

Para warga sontak mengucap tahlil dan bertakbir, aku kebingungan.. “Kakek yang mengambil kalung darimu itu adalah ayah gadis ini. Kala itu kakek tersebut berkata, ‘seumur hidupku, aku tidak pernah bertemu dengan seorang pemuda muslim yang baik seperti dia!’ dan kakek itu berdoa supaya dipertemukan kembali dengan pemuda itu dan dapat menikahkan ia dengan anak gadisnya. Sekarang doa itu telah dikabulkan Allah!” cerita salah satu dari warga yang hadir.

Kemudian, Qadhi tinggal bersama isterinya dan dikaruniai dua anak laki-laki. Namun, isterinya meninggal dunia terlebih dahulu dan mewariskan kalung mutiara itu kepada Qadhi dan kedua anaknya.

(Dzail Thabaqatul Hanafiah, 1-196)

 

Sebuah cerita menakjubkan. Berawal dari menemukan barang dan mengembalikannya tanpa menerima imbalan yang diberikan, Qadhi justru menjadi pemilik dari yang ia temukan dulu. Sungguh cerita Allah memang tiada yang mengira. Sebagai manusia kita hanya dapat berbuat baik dengan sesama kita tanpa meminta imbalan, melainkan meminta ridha dari Allah.

 

Referensi: kisahislam (dengan perubahan redaksional, tanpa mengurangi isi cerita)

Save

Solo peduli News