Tuesday, 07 November 2017 13:44

Zakat Memerdekakan dari Kemiskinan

Written by 

Oleh: M. Amin Rois, Lc.

Saudaraku yang diahmati Allah Subhanahu Wata’ala.

Dari Adam hingga Muhammad, Allah mengajarkan syariat nabi-nabinya untuk berzakat. Adam mengajari Habil dan Qabil untuk berbagi dari hasil peternakan dan pertanian. Sayyidunal Musthofa wal Mujtaba Muhammad mengajarkan umat Islam untuk mengayomi dan menyantuni  8 golongan yang berhak dari zakat. Oleh karena itu, Abu Bakar pun bertekad untuk memerangi mani’uz zakah pasca meninggalnya Nabi tercinta. Semua itu untuk melanggengkan zakat agar ia menjadi ibadah yang diwariskan turun temurun kepada umatnya.

Zakat adalah dimensi ibadah yang sempurna, kenapa demikian? Karena zakat menggabungkan dimensi vertikal dan horizontal, dimensi khaliq dan makluk, dimensi ‘abid dan ma’bud. Saat harta benda kita salurkan kepada kaum papa dan pra-sejahtera, niat tulus hamba akan diterima oleh Allah Swt. Saat sedekah makanan kita dinikmati seorang anak yatim, Allah pun melihat dan mencatatnya. Saat sedekah baju kita dipakai oleh orang miskin, Allah pun menyiapkan pahala berlimpah bagi kita. Saking mulianya ibadah zakat, di dalam Al-Quran, sebanyak 82 kali, kata-kata zakat disandingkan dengan ayat-ayat mendirikan shalat.

Saudaraku yang saya cintai karena Allah, 72 tahun sudah kita merayakan kemerdekaan, 72 tahun kita semarakkan upacara, dan tidak lupa euforia kemerdekaan dengan hura-hura. Namun, sadarkah kita bahwa, menurut data dari BPS, ada  sekitar 27 juta lebih saudara-saudara kita hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka terdiri atas kaum papa, anak yatim yang ditinggal orangtuanya, anak yatim karena konflik keluarga, dan banyak orang sakit yang perlu bantuan kita.

Maka, di balik lantangnya teriakan merdeka kita, mari selalu kita ingat semangat untuk selalu dan selalu memerdekakan manusia dari himpitan kehidupan dunia. Karena di balik teriakan lantang merdeka, ada jeritan orang-orang miskin yang butuh uluran tangan kita.

Saudaraku, zakat adalah ibadah sekaligus cara istimewa yang diajarkan Allah untuk memerdekakan dan mengentaskan manusia dari kemiskinan. Di mana kita tahu bahwa kemiskinan itu sangat dekat dengan kekufuran; kaadal faqru an yakuuna kufron. Maka ingatlah tentang Umar bin Abdul Aziz, sosok yang kadang dinisbahkan kepadanya gelar khalifah yang kelima. Melengkapi khulafa’urasyidin, hanya dengan 2 tahun ia memerdekakan manusia dari jurang kemiskinan. Semua itu ia lakukan dengan memaksimalkan ajaran agama kita; sedekah dan zakat. Dan mari kita ingat, Utsman dengan wakaf kebun kurma dan sumur yang ia beli dari Yahudi. Ingatlah Abu Bakar yang telah menyedekahkan semua hartanya saat paceklik datang.

Kemudian, mana yang lebih baik, zakat sendiri atau melalui lembaga? Dalam hal ini kita bisa mengambil inspirasi dari surat Al-Baqarah 261-264. Di mana dalam ayat tersebut Allah setelah memotivasi hambanya untuk bersedekah dan berzakat, kemudian Allah mewanti-wanti manusia agar tidak menjadikan zakatnya ternoda dengan kata-kata kesombongan dan bahkan riya’. Lembaga Amil Zakat (LAZ) sejatinya berupaya untuk menghilangkan perasaan-perasaan sombong dan riya’ dari zakat kita. Insya Allah sedekah maupun zakat kita pun akan lebih tulus hanya untuk Allah. Mengapa demikian? Sebab kita terhindar dari kontak langsung dengan orang yang kita bantu, sehingga kita pun tidak perlu merasa jumawa di hadapannya.

Selanjutnya, Apabila kita merujuk pada surat At Taubah:64, kita bisa ambil plajaran bahwa hndaknya ada amil-amil yang mengambil dan mendistribusikan potensi zakat yang sangat besar ini. Menurut data dari Baznas, ada sebesar 271 triliun potensi zakat bangsa Indonesia. Dana sebesar itu, sangat mungkin dapat diberdayakan untuk pemerataan kesejahteraan rakyat Indonesia. Potensi zakat sebasar itu belum sepenuhnya tercapai.  Bisa jadi disebabkan oleh kurangnya kesadaran untuk berzakat atau bisa jadi disebabkan kurang ilmu berkaitan dengan kewajiban-kewajiban berzakat. Dana itu akan dikelola secara maksimal, bila kita melibatkan kebersamaan semua orang dan diwujudkan dalam sebuah lembaga bersama.

Saudaraku, dengan keberkahan zakat ini kita berharap agar pemerintah bersama umat Islam di Indonesia benar-benar mendapatkan rahmat dan kasih sayang dari Allah Swt. Menjadi negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Insya Allah kita akan menjadi bangsa yang lebih besar, negara yang tidak akan lagi dijajah oleh kemiskinan dan kebodohan. Karena itu, zakatlah dan merdekakanlah...

Demikian yang bisa sampaikan. Ada inspirasi positif itu datangnya dari Allah, dan banyak kekurangan itu dari kelemahan saya pribadi. Kepada Allah kita berserah diri dan kembali.

Save

Solo peduli News