Wednesday, 08 March 2017 14:00

Sudahkah Kita Punya Jiwa Sosial yang Tinggi?

Manusia merupakan makhluk sosial yang terlahir dengan sempurna.  Kesempurnaan manusia dapat dilihat dari penciptaan manusia itu sendiri. Jika memperhatikan diri kita masing-masing dan kita bandingkan dengan makhluk ciptaan Allah yang lainnya, maka kita akan menyadari begitu sempurnanya manusia itu.

Mulai awal penciptaan manusia dari saripati tanah menjadi segumpal darah, dari segumpal darah menjadi daging yang kemudian dibentuk dengan tulang belulang hingga menjadi wujud manusia, setelahnya Allah Tiupkan ruh sehingga menjadi wujud manusia yang sempurna. Semua itu adalah anugerah Allah SWT yang patut kita bersyukur kepada-Nya.

Sebagai orang tua, jiwa sosial anak selayaknya sudah mulai ditanamkan semenjak dia dilahirkan ke dunia, diajarinya ia berbicara, diajarinya ia makan dan diajarinya ia berjalan. Sang buah hati begitu senang dan gembira dengan didikan orang tua.

Pun sebagai seorang muslim yang telah dikaruniai banyak anugerah. Kita harus mempunyai jiwa sosial yang tinggi sebagai bentuk syukur kita kepada Sang Pencipta. Mengapa? Karena landasan rukun Islam kita sudah mengajarkan bagaimana kita berjiwa sosial. Ada perintah syahadat dengan kita mengakui bahwa Rasululloh SAW sebagai teladan yang harus kita contoh. Ada juga sholat yang harus kita kerjakan sehingga menjauhkan diri dari kemaksiatan.

Selanjutnya dalam kewajiban kita puasa, terdapat rasa kepedulian kepada sesama, ada zakat untuk saling berbagi kepada fakir dan miskin. Ibadah haji dapat mengajarkan nilai sosial kepada kita bahwa dihadapan Allah bahwa semua hamba adalah sama, yang membedakan adalah amal sholihnya.

Selama ini sudahkan kita melakukan rukun Islam dengan memahami filosofi yang terkandung didalamnya? Jika belum, maka kita patut sadar diri untuk segera mewujudkan rasa kepedulian kita kepada sesama. Kita merasakan bagaimana mereka, kaum fakir dan miskin, sehari-hari mengais rejeki di pinggir-pinggir jalan untuk menjajakan dagangannya, buruh-buruh kuli panggul yang harus berkorban punggung menahan berkilo-kilo beban demi menyekolahkan anaknya.

Cukupkah kita hanya melihat mereka? Atau cukupkah kita hanya ikut prihatin saja? Sahabat Peduli, tidak cukup hanya itu. Kita harus hadir di dalam hidup mereka, berjalan bersama menggandeng mereka, memberikan senyuman yang manis, mendengarkan keluh kesah mereka, memberikan jalan keluar dari kemiskinan yang menimpanya dengan jalan yang terbaik.

Bersama lembaga atau organisasi yang kompeten yang akuntabilitasnya diakui dengan program-program pemberdayaan untuk pengentasan kemiskinan yang terukur dalam menghimpun, menjaga dan menyalurkan wujud bantuan pemberdayaan yang produktif dan modern untuk sedikit menahan tetasan air mata mereka, menahan cucuran keringat sang pengais rejeki pinggiran jalan, ibu-ibu kuli panggul, anak-anak yatim dan orang-orang jompo untuk menikmati kebahagaian bersama.

Bagi kita semua, mari mulai membangun jiwa sosial dengan mengubah pola pikir bahwa sebenarnya kita butuh bersosialisasi dengan orang lain, kita mampu menumbuhkan jiwa sosial dengan berinteraksi dengan masyarakat. Jika hanya berpangku tangan, melihat dari kejauhan berharap suatu keajaiban datang untuk mengubah masyrakatnya tanpa kita beraksi, maka hasilnya akan nol besar.

Mulailah kita praktek dan beraksi melihat dengan dekat, membantu dengan tenaga, memberikan solusi dengan ide-ide solutif dan memberikan pendampingan kepada mereka yang membutuhkan untuk lebih mandiri. Kita harus percaya diri, ramah kepada mereka, meringankan bebannya sedikit demi sedikit. Itulah wujud tanggung jawab sosial kita kepada masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan. Mereka sangat membutuhkan uluran tangan kita.

Hal sederhana dalam menumbuhkan jiwa sosial yang tinggi dalam menjalani kehidupan di masyarakat adalah dengan melakukan hal-hal ringan. Seperti memperbanyak silaturrohim ke rumah tetangga, hadir di pertememuan warga, ikut berpartisipasi dalam agenda gotong-royong, menyisihkan harta kita untuk sedekah rutin, serta masih banyak yang lainnya. Hal ini seringkali kali kita tunda karena alasan kesibukan atau pekerjaan kita. Namun cara-cara seperti inilah yang sesungguhnya merupakan awal dari cara menumbuhkan jiwa sosial kita di masyarakat.

Direktur Pelaksana Solopeduli

Tugiman, S.Pd.I

Save

Solo peduli News