Thursday, 27 September 2018 14:28

Menumbuhkan Kesabaran dengan Kisah Ibrahim as

Menumbuhkan Kesabaran dengan Kisah Ibrahim as - Ketaatan sangat membutuhkan kesabaran. Karena ketika datang, kadang perintah Allah swt. bertentangan dan tidak sesuai dengan keinginan kita. Untuk dapat melaksanakannya, kita perlu mengalahkan segala keinginan kita.

 

Makna Sabar

Secara bahasa, sabar bermakna menahan diri. Sedangkan secara syariat, sabar adalah menahan diri dari hal yang tidak diridhai Allah swt., sehingga melaksanakan hal yang diridhai Allah swt. Oleh karena itu, sabar diperlukan dalam melaksanakan setiap perintah Allah swt.

Dalam peperangan, Allah swt. berfirman:

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” [Al-Baqarah: 249].

Dalam melaksanakan shalat, Allah swt. berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” [Thaha: 132].

Dalam beramal kebaikan, Allah swt. berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ

“Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar.” [Al-Qashash: 80].

Dari ayat-ayat di atas, dan masih banyak lainnya, kita memahami bahwa sabar bukanlah sembarang sifat dan sembarang akhlak. Sabar sangat penting, walaupun untuk mewujudkannya memerlukan kekuatan yang sangat besar. Oleh karena itu, hanya pahala kesabaran yang kelak tidak Allah swt. hitung-hitung ketika diberikan kepada hamba-Nya.

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” [Az-Zumar: 10].

Karena hanya dengan kesabaran, segala ketaatan kepada Allah swt. bisa dilaksanakan. Shalat, tilawatul Qur’an, membayar zakat, dan sebagainya hanya bisa dilakukan oleh orang yang sabar. Tanpa kesabaran, tidak ada ketaatan yang bisa dilakukan.

Kesabaran Nabi Ibrahim as.

Nabi Ibrahim as. adalah orang yang sangat penyabar. Kesabaran tersebut dapat dilihat dari banyak sekali musibah dan ujian kehidupan yang menimpanya.

  • Mulai dari dimusuhi keluarga dan kaumnya, padahal semua orang ingin dicintai orang terdekatnya.
  • berhijrah ke tempat yang sangat jauh, padahal semua orang ingin berada dekat dengan orang yang dicintainya.
  • memiliki keturunan setelah berumur sangat tua, padahal semua orang ini mempunyai banyak keturunan, dan ketika mereka masih muda dan kuat.
  • harus membuang keluarganya, tidak ada orang normal yang akan rela membuang anaknya, bahkan kebanyakan orang memanjakan anaknya.
  • dan harus membunuh puteranya, padahal orang tua rela mengorbankan jiwanya demi keselamatan buah hatinya.

Semua ini adalah ujian. Hal-hal yang bertolak-belakang dengan keinginan jiwa semua manusia. Tanpa menahan diri, dari hal yang tidak diridhai Allah swt., tidak dihadapi dengan kesabaran, ujian-ujian itu tidak akan mungkin bisa dilalui dengan selamat.

Marilah kita lihat dengan seksama kesabaran beliau dalam melaksanakan perintah Allah swt. yang sangat berat.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. [Ash-Shaafat: 102].

 

Kalimat “إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ”

Kaliamat ini mempunyai pelajarann yang sangat banyak, di antaranya:

  • Betapa sabar Ibrahim as. dalam melaksanakan perintah Allah swt. walaupun hanya berupa isyarat, bukan perintah yang lugas untuk berkurban. Tapi karena keimanan dan kepasrahannya kepada Allah swt., beliau melaksanakan. Beliau tidak ragu, bertanya, apalagi menolak.
  • Ibrahim as. tidak melaksanakan perintah ini dengan perasaan terpaksa, kecewa, dan gundah. Beliau melaksanakannya dengan penuh ketenangan dan ketabahan. Itu terlihat dari cara beliau berkata kepada anaknya. Datar-datar saja, tidak emosional. Ini adalah kata-kata orang yang sangat menguasai emosinya, tenang dalam menghadapi sesuatu, dan yakin bahwa dia sedang melaksanakan perintah Allah swt.
  • Dalam melaksanakan perintah, Ibrahim as. tidak melakukannya saat Ismail as. lengah, atau tidur. Tapi bahkan sempat membincangkannya dengan Ismail as. seperti hal biasa saja. Dalam benak mereka, ini memang hal biasa; ”Allah swt. berkehendak, dan kehendak-Nya harus terlaksana.” Sederhana. Perbincangan ini bukan untuk memberi Ismail as. kesempatan mengelak, tapi supaya penyembelihan itu bagi Ismail as. juga merupakan ketaatan, bukan keterpaksaan. Ibrahim as. ingin anaknya juga merasakan rasa manisnya ketaatan dan kepasrahan.

 

Kalimat ” يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”

Kalimat ini menunjukkan bahwa Ismail as. menerima perintah itu tidak hanya dengan ketaatan dan kepasrahan, tapi juga dengan kerelaan dan keyakinan:

  • Kata ” يَا أَبَتِ”, dalam kondisi seperti ini, Ismail as. masih sadar, dan tetap hormat kepada ayahnya.
  • Kata ” افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ” menunjukkan bahwa mimpi adalah isyarat, dan isyarat adalah perintah. Orang yang taat memahami isyarat sebagai perintah.
  • Kata ” سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ” sikap yang penuh adab kepada Allah swt. Ismail as. tidak menganggap bahwa ini adalah berkat keberaniannya, tapi berkat hidayah dan taufiq Allah swt.

Demikianlah, beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari kisah Nabi Ibrahim as. Kita pun bisa mengusahakannya. Letak sabar adalah hati. Hati manusia bukan milik manusia. Kadang manusia bersedih tanpa diinginkannya. Kadang manusia ingin bersemangat dalam bekerja, tapi tiba-tiba kendur. Hati adalah milik Allah swt. Allah swt. lah yang berkuasa membolak-balikkan hati sekehendak-Nya. Kalau demikian, ketika ingin sabar, yang bisa dilakukan manusia adalah mensuasanakan hatinya sehingga sabar itu hadir dalam hati. Bagaimana caranya?

Kalau kita cinta kepada Allah swt., kita akan melaksanakan semua yang diinginkan-Nya. Kalau kita takut kepada neraka Allah swt., kita akan melakukan apa saja yang dapat melindungi diri kita dari siksaannya. Kalau kita yakin kematian pasti akan datang sewaktu-waktu, kita tidak akan menyia-nyiakan sedikitpun kesempatan mencari bekal untuk perjalanan akhirat. Kalau kita mengakui banyaknya nikmat-nikmat dari Allah swt. yang kita rasakan, kita akan malu dengan ibadah-ibadah kita yang sedikit dan compang-camping

Semoga kita semua bisa meneladaninya, sehingga semua hukum Allah swt. dapat kita laksanakan dengan penuh ketaatan, kesabaran, dan keikhlasan



Sumber : dakwatuna

Wednesday, 26 September 2018 14:38

Teladan Semangat dalam Berderma

Teladan Semangat dalam Berderma - Teladan terbaik bagi kita adalah dari Rasul kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Kita akan saksikan bagaimana Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi contoh bagaimana semangat beliau dalam berderma.

Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik dan paling semangat serta yang lebih semangat untuk berderma.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Shofwan bin Umayyah, ia berkata, “Sungguh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberiku sesuatu yang belum pernah kuperoleh. Padahal awalnya beliau adalah orang yang paling kubenci. Beliau terus berderma untukku sehingga beliau lah saat ini yang paling kucintai.” (HR. Ibnu Hibban, shahih).

Ibnu Syihab berkata bahwa pada saat perang Hunain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan Shofwan 100 hewan ternak, kemudian beliau memberinya 100 dan menambah 100 lagi. Juga disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi Shofwan unta dan hewan ternak sepenuh lembah, lantas Shofwan berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada orang yang sebaik ini melainkan dia adalah seorang Nabi.”

Dari Jabir, ia berkata, “Tidaklah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam diminta sesuatu lalu beliau menjawab, “Tidak.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada Jabir, “Seandainya datang padaku harta, melainkan aku akan memberimu seukuran dua telapak tangan penuh seperti ini (beliau menyebutkan tiga kali). Beliau berkata, “Yaitu dengan dua telapak tangan semuanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits riwayat Muslim diperlihatkan bagaimanakah semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berderma. Jika ada yang meminta sesuatu, pasti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberinya. Maka ketika itu ada seseorang yang menghadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau memberinya kambing yang ada di antara dua bukit. Lantas orang yang telah memperoleh kambing tadi kembali ke kaumnya dan berkata, “Wahai kaumku, masuklah Islam. Karena Muhammad kalau memberi sesuatu, ia sama sekali tidak khawatir akan jatuh miskin.”

Ibnu Rajab dalam Lathoif Al Ma’arif mengatakan, “Demikianlah kedermawanan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semuanya beliau lakukan ikhlas karena Allah dan ingin mengharapkan ridho-Nya. Beliau sedekahkan hartanya, bisa jadi kepada orang fakir, orang yang butuh, atau beliau infakkan di jalan Allah, atau beliau memberi untuk membuat hati orang lain tertarik pada Islam. Beliau mengeluarkan sedekah-sedekah tadi dan lebih mengutamakan dari diri beliau sendiri, padahal beliau sendiri butuh. Sampai-sampai jika kita perhatikan bagaimana keadaan dapur beliau, satu atau dua bulan kadang tidak terdapat nyala api. Suatu waktu pula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menahan lapar dengan mengikat batu pada perutnya.” Lihatlah bagaimana kedermawanan beliau yang luar biasa meskipun dalam keadaan hidup yang pas-pasan? Bagaimana lagi dengan kita yang diberi keluasan harta?!

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih banyak lagi melakukan kebaikan di bulan Ramadhan. Beliau memperbanyak sedekah, berbuat baik, membaca Al Qur’an, shalat, dzikir dan i’tikaf.” (Zaadul Ma’ad, 2/25)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar melakukan kebaikan. Kedermawanan (kebaikan) yang beliau lakukan lebih lagi di bulan Ramadhan yaitu ketika Jibril ‘alaihis salam menemui beliau. Jibril ‘alaihis salam datang menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur’an) hingga Al Qur’an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila Jibril ‘alaihi salam datang menemuinya, tatkala itu beliau adalah orang yang lebih cepat dalam kebaikan dari angin yang berhembus.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan banyak berderma seperti melalui memberi makan berbuka dan sedekah sunnah dibarengi dengan berpuasa, itulah jalan menuju surga. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari ‘Ali, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari diwaktu manusia pada tidur.” (HR. Tirmidzi, hasan). Para ulama memisalkan, “Shalat malam itu mengantarkan kepada separuh jalan menuju kerajaan kebahagiaan. Puasa itu mengantarkan pada depan pintunya. Sedangkan sedekah memasukkan ia pada pintu bahagia.”

Hikmah lain dari bersedekah disebutkan oleh Ibnu Rajab. Beliau rahimahullah mengatakan dalam Lathoif, “Dalam puasa pastilah ada celah atau kekurangan. … Sedekah itulah yang menutupi atau menambal kekurangan yang ada.”

Semoga dengan motivasi kisah di atas semakin membuat kita gemar berderma dan beramal sholeh. Ingatlah sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sedekah tidak mungkin mengurangi harta.” (HR. Muslim). Wallahu waliyyut taufiq.

 

Sumber : rumaysho

Tuesday, 25 September 2018 13:18

Manfaat Belajar Sejarah Hidup Nabi Muhammad

Manfaat Belajar Sejarah Hidup Nabi Muhammad - Allâh ‘Azza wa Jalla telah menentukan nabi terakhir dan menjatuhkan pilihan-Nya pada diri Muhammad bin `Abdillâh shallallahu ‘alaihi wasallam . Beliau mendapatkan berbagai keistimewaan dari Allâh ‘Azza wa Jalla yang tidak dimiliki oleh orang lain, sebagaimana umat Islam juga memiliki keistimewaan yang tidak ada pada agama sebelumnya.

Dalam Shahîh Muslim, Rasûlullâh shallâllahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ

“Sesungguhnya Allâh memilih Kinânah dari keturunan (Nabi) Ismail. Dan memilih suku Quraisy dari (bangsa) Kinânah. Kemudian memilih Bani Hâsyim dari suku Quraisy dan memilih diriku dari Bani Hâsyim” (HR Muslim no. 4221).

Melalui hadits yang mulia ini, dapat diketahui bahwa Rasûlullâh shallâllahu ‘alaihi wasallam merupakan pokok dari seluruh intisari kebaikan melalui tinjauan kemuliaan nasab, sebagaimana pada beliau shallâllahu ‘alaihi wasallam juga terdapat pokok dari intisari-intisari keutamaan dan ketinggian derajat di sisi Allâh ‘Azza wa Jalla ( Min Akhlâqir Rasûl, Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad).

Manfaat dirasah (mempelajari) Siroh Nabawi

Mempelajari Siroh (sejarah hidup) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berguna sebagai nutrisi bagi hati dan sumber keceriaan bagi jiwa serta penyejuk bagi mata. Bahkan hal itu merupakan bagian dari agama Allah Ta’ala dan ibadah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Sebab, kehidupan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sarat merupakan kehidupan dengan mobilitas tinggi, ketekunan, kesabaran, keuletan, penuh harapan, jauh dari pesimisme dalam mewujudkan ubudiyah (penghambaan diri) kepada Allah Ta’ala dan mendakwahkan ajaran agama-Nya.

Faedah dan manfaat mempelajari Sirah Nabawi tersimpulkan pada poin-poin berikut:

1. Mengenal teladan terbaik bagi seluruh manusia dalam aqidah, ibadah dan akhlak. Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah“. (QS. Al-Ahzab/33:21).
Dan usaha meneladani Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bisa lepas dari mengetahui sejarah hidup dan petunjuk-petunjuk beliau.

2. Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi mizan (timbangan) amal perbuatan manusia. Tentang ini, Imam Sufyan Ibnu ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah timbangan paling inti. Maka, segala sesuatu ditimbang dengan akhlak, siroh dan petunjuk beliau. Yang sesuai, maka itulah yang benar, dan yang berlawanan dengannya, maka itulah kebatilan”. (Diriwayatkan al-Khathib al-Baghdadi dalam muqaddimah kitab al-Jami li Akhlaqir Rawi wa Adabi as-Sami’).

3. Mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membantu dalam memahami Kitabullah, karena kehidupan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan pengamalan nyata terhadap al-Qur`an. Hal ini berdasarkan keterangan Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ditanya tentang akhlak beliau, “Akhlak beliau adalah al-Qur`an”. Dan yang dimaksud dengan akhlak di sini adalah pengamalan agama beliau, beliau telah mengerjakan petunjuk al-Qur`an dengan sempurna, dalam hal perintah dan larangan serta adab-adab al-Qur`an.

4. Mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memperkuat cinta seorang Muslim kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Penanaman cinta dan penguatannya pada hati seorang Muslim menuntutnya untuk mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, supaya cintanya kian subur di hatinya terhadap sosok yang mulia ini. Dan selanjutnya, cinta tersebut akan mendorongnya menuju setiap kebaikan dan ittiba’ kepada beliau.

5. Mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan pintu menuju peningkatan keimanan.

6. Mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membantu memudahkan memahami Islam dengan baik dalam aspek aqidah, ibadah dan akhlak. Dan sejarah telah mencatat bahwa beliau memulai dakwah dengan tauhid dan perbaikan aqidah dan menekankan pada masalah tersebut.

7. Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menggariskan manhaj (metodologi) dalam berdakwah di atas bashirah (ilmu). Dan seorang dai sejati adalah orang yang menguasai petunjuk, langkah dan sejarah hidup beliau. Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata” (QS. Yusuf/12:108).

8. Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri sudah merupakan bukti kebenaran nubuwwah dan kerasulan beliau.

9. Mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan pintu berkah menuju gerbang kebahagiaan. Bahkan kebahagiaan seseorang tergantung pada sejauh mana ia mengetahui petunjuk-petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab tidak ada jalan menuju kebahagiaan bagi seorang hamba di dunia dan di akhirat kecuali melalui petunjuk para rasul. 

10. Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan bahwa perilaku dan sejarah hidup beliau shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan jalan hidup bagi setiap Muslim yang mengharap kebaikan dan kehidupan mulia di dunia dan akhirat. Generasi Islam akan mengalami kemerosotan bila sebagian mereka lebih mengenal sejarah hidup orang-orang yang tidak pantas diteladani.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantungkan kebahagiaan dunia dan akhirat pada ittiba kepada beliau, dan menjadikan celaka di dunia dan akhirat disebabkan menentang beliau”. (Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad 1/36).

Ibnul Qayyim rahimahullah juga mengklasifikasikan sikap manusia terhadap sejarah hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi tiga golongan: mustaktsir (banyak tahu), muqill (kurang peduli), mahrum (jauh darinya). Tiga jenis manusia yang disebutkan Ibnul Qayyim ini otomatis menjadi realita yang ada di tengah umat.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا لَا يَرْتَدُّ وَنَعِيْمًا لَا يَنْفَدُ وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ أَعْلَى جَنَّةِ الْخُلْدِ.

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keimanan yang tidak akan lepas, nikmat yang tidak pernah habis dan menyertai Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di Surga Khuld yang paling tinggi”. (HR. Ahmad dan lainnya. Al-Albani menilai hadits ini berderajat hasan. Ash-Shahihah no.2301).



Sumber : muslim

Saturday, 22 September 2018 11:36

Belajar dari Sosok Ali Bin Abi Thalib

Belajar dari Sosok Ali Bin Abi Thalib - Siapa yang tak kenal dengan Ali Bin Abi Thalib? Sosok muslim yang luar biasa itu tidak perlu diragukan lagi kesempurnaannya. Ali Bin Abi Thalib adalah salah satu sahabat Rasulullah yang merupakan Khulafaur Rasyidin yang terakhir. Beliau adalah putra dari Abu Thalib, Paman Rasulullah. Beliau juga menjadi menantu Rasulullah semenjak menikahi putri Rasul, Fatimah Az-Zahra.

Semenjak kecil, Ali sudah mendapatkan didikan langsung dari Rasulullah, dalam semua aspek ilmu Islam. Ali sudah masuk Islam sejak usia 9 tahun. Beliau termasuk ke dalam golongan orang-orang yang pertama kali masuk Islam (Assabiquunal Awwalun) sehingga keislamannya tidak perlu diragukan lagi. Ali juga senantiasa membantu Rasulullah untuk mensyiarkan Islam. Hal ini menjadi bukti ketaatannya kepada Allah dan Rasulullah. Sebagai seorang pribadi, sosok Ali adalah sosok yang sangat adil dan bijaksana. Hal ini bisa dilihat dari pendapat dan keputusannya ketika menjadi khalifah.

Selain itu, sosok Ali Bin Abi Thalib juga dikenal sebagai sosok yang berani. Ketika kecil, beliau pernah menggantikan Rasulullah tidur di ranjangnya untuk mengelabui orang-orang kafir Quraisy yang ingin membunuh Rasul dan menggagalkan hijrahnya. Keberanian Ali juga ditunjukkan di medang perang. Ali sudah menjadi andalan umat Islam sejak perang pertama di zaman Rasulullah bergulir (perang badar), walaupun usianya ketika itu baru mencapai 25 tahun. Keberanian Ali Bin Abi Thalib di medan perang ternyata didukung penuh dengan fisiknya yang sangat kuat, serta kehandalannya dalam mengatur strategi peperangan. Ali selalu mempersiapkan peperangan sebaik mungkin dengan cara melakukan diskusi terlebih dahulu dengan para pemimpin kaum muhajirin dan kaum Anshar sebelum peperangan dimulai.

Di samping itu semua, Ali Bin Abi Thalib ternyata juga dikaruniai Allah SWT kecerdasan intelektual yang luar biasa. Konon, ali pernah memecahkan permasalahan kedua orang musafir yang sedang bertikai karena roti dengan cepat, cerdas, dan bijak.

“Dikisahkan, ada dua orang musafir yang sedang beristirahat untuk makan di tengah perjalanannya. Satu orang musafir mempunyai 5 sisir, sedangkan satu orang lainnya mempunyai 3 sisir.

Tiba-tiba, datang seorang musafir lain yang lewat dan akhirnya diajak makan oleh kedua musafir itu. Kedua musafir itu membagi rotinya menjadi 3 bagian sama rata. Sehingga setiap orang akan mendapatkan delapan bagian roti yang sama. Setelah makan, musafir yang baru datang itu pun memberikan 8 dirham kepada dua musafir yang telah memberinya roti dan segera pergi.

Kedua musafir itu pun bertikai dalam pembagian uang 8 dirham itu. Musafir yang awalnya mempunyai 5 sisir beranggapan bahwa pembagian uangnya ada 5:3 karena dia menyumbang roti lebih banyak. Di satu sisi, musafir lainnya beranggapan bahwa pembagian uang itu harus rata (4:4). Karena kedua musafir itu tetap berpegang teguh pada argumen masing-masing, akhirnya keduanya sepakat untuk menceritakan permasalahan itu kepada Ali yang ketika itu menjabat sebagai khalifah.

Setelah mendengar cerita keduanya, Ali ternyata mempunyai penyelesaian yang berbeda dari keduanya. Beliau meminta agar musafir yang memiliki 5 roti mendapat 7 dirham sementara musafir yang memiliki 3 roti mendapat 1 dirham. Kedua musafir itu pun bingung atas keputusan sang khalifah. Ali pun menjelaskan keputusannya. Jumlah roti yang mereka bertiga makan adalah 24 potong roti (8 sisir yang dibagi 3 sama rata). Musafir yang memiliki 3 roti, rotinya dibuat menjadi 9 potong sedangkan dia makan 8 potong, 1 potong ia berikan ke musafir yang datang. Sedangkan musafir yang memiliki 5 roti, rotinya dibuat menjadi 15 potong sedangkan dia juga mendapat 8 potong, 7 potong ia berikan ke musafir yang datang. Dengan demikian, pembagian yang dilakukan ali sangatlah adil dan bijaksana.”

Kita sebagai umat Islam harus bisa belajar dari sosok Ali Bin Abi Thalib. Selain menjadi muslim yang taat kepada Allah dan Rasul, Ali mampu menjadi agen muslim yang luar biasa karena sikap dan pribadinya yang sangat terpuji. Selain itu, kisah Ali juga mengajarkan kepada kita bahwa pengetahuan juga merupakan salah satu hal yang utama bagi kita, setiap muslim. Kita tidak boleh beralasan bahwa kesibukan kita di bidang akademik membuat kita lupa dengan kewajiban kita sebagai hamba Allah, dan kewajiban kita sebagai khalifah di muka bumi ini. Begitupun sebaliknya, jangan sampai kita sebagai insan akademis lupa bahwa menuntut ilmu dan memperluas wawasan juga merupakan kewajiban kita sebagai umat Islam.



Sumber : dakwatuna

Menyia-nyiakan Waktu Lebih Berbahaya dari Kematian - Waktu sangatlah berharga. Begitu berharganya waktu, menyia-nyiakannya adalah bentuk puncak kerugian, bahkan lebih berbahaya dari kematian.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

إضاعةُ الوقت أشدُّ من الموت ؛ لأنَّ إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة، والموتُ يقطعك عن الدنيا وأهلها

“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari kematian, karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya”. [Al-Fawaid hal 44]

Apabila waktu di sia-siakan terus-menerus maka untuk apa ia hidup? Waktunya tidak bermanfaat baik untuk dirinya dan orang lain. Waktu hanya digunakan untuk bermain-main dan bersenda gurau saja?

Begitu Berharganya Waktu

Ketika Allah bersumpah dengan salah satu makhluk-Nya dalam Al-Quran, hal ini menunjukkan makhluk tersebut memiliki keistimewaan. Allah bersumpah dengan waktu dalam Al-Quran dalam beberapa ayat. Misalnya “wal-ashri” (demi masa), “wad-dhuha” (demi waktu dhuha), “wal-lail” (demi waktu malam) dan lain-lainnya. Waktu memang sangat berharga dan harus dipergunakan dengan sebaik mungkin untuk hal-hal yang bermanfaat.

Manusia pun sepakat bahwa waktu itu berharga. Misalnya orang barat mengatakan “time is money”. Pepatah Arab juga menyebutkan waku itu penting:

اَلْوَقْتُ أَنْفَاسٌ لَا تَعُوْدُ

“Waktu adalah nafas yang tidak mungkin akan kembali.”

Orang sukses dunia-akhirat akan sangat menyesal jika waktunya terbuang percuma tanpa manfaat dan faidah. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

ﻣَﺎ ﻧَﺪِﻣْﺖُ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﻲْﺀٍ ﻧَﺪَﻣِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﻳَﻮْﻡٍ ﻏَﺮَﺑَﺖْ ﴰَﺴْﻪُ ﻧَﻘَﺺَ ﻓِﻴْﻪِ ﺃَﺟَﻠِﻲ ﻭَﱂَ ْﻳَﺰِﺩْ ﻓِﻴْﻪِ ﻋَﻤَﻠِﻲ

“Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, ajalku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.” (Lihat Miftahul Afkar)

Mereka juga pelit dengan waktu mereka, Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

أَدْرَكْتُ أَقْوَامًا كَانَ أَحَدُهُمْ أَشَحَّ عَلَى عُمْرِهِ مِنْهُ عَلَى دِرْهَمِهِ

“Aku menjumpai beberapa kaum, salah satu dari mereka lebih pelit terhadap umurnya (waktunya) dari pada dirham (harta) mereka”(Al-‘Umru was Syaib no. 85)

Sibukkan diri dengan hal positif dan bermanfaat

Perhatikan perkataan emas yang dinukil oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berikut,

وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ

“Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, PASTI akan disibukkan dengan hal-hal yang batil” (Al Jawabul Kaafi hal 156)

Ini adalah kaidah dalam kehidupan. Apabila waktu kita tidak diisi dengan kegiatan positif, pasti diisi oleh kegiatan negatif. Paling minimal diisi dengan hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Buat program, rencana serta target hidup ke depan agar hari-hari kita selalu terisi oleh hal-hal dan kegiatan yang positif.

Hendaknya kita perhatikan dan kita atur dengan baik, waktu dan umur yang telah Allah berikan kepada kita. Mayoritas manusia banyak lalai dan menyia-nyiakan waktu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang” (HR. Bukhari no. 6412)

Demikian semoga bermanfaat



Sumber : muslim

Thursday, 20 September 2018 10:25

Keutamaan Puasa Asyura

Keutamaan Puasa Asyura - Apa saja keutamaan puasa Asyura? Puasa Asyura ini dilakukan pada hari kesepuluh dari bulan Muharram dan lebih baik jika ditambahkan pada hari kesembilan.

Berikut beberapa keutamaan puasa Asyura yang semestinya kita tahu sehingga semangat melakukan puasa tersebut.

1.     Puasa di bulan Muharram adalah sebaik-baik puasa.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163).

Muharram disebut syahrullah yaitu bulan Allah, itu menunjukkan kemuliaan bulan tersebut. Ath Thibiy mengatakan bahwa yang dimaksud dengan puasa di syahrullah yaitu puasa Asyura. Sedangkan Al Qori mengatakan bahwa hadits di atas yang dimaksudkan adalah seluruh bulan Muharram. Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 2: 532. Imam Nawawi rahimahullah berkata bahwa bulan Muharram adalah bulan yang paling afdhol untuk berpuasa. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 50.

Hadits di atas menunjukkan keutamaan puasa di bulan Muharram secara umum, termasuk di dalamnya adalah puasa Asyura.

2.     Puasa Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu

Dari Abu Qotadah Al Anshoriy, berkata,

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162).

Kata Imam Nawawi rahimahullah, yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah dosa kecil sebagaimana beliau penerangkan masalah pengampunan dosa ini dalam pembahasan wudhu. Namun diharapkan dosa besar pun bisa diperingan dengan amalan tersebut. Jika tidak, amalan tersebut bisa meninggikan derajat seseorang. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 46.

Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat secara mutlak setiap dosa bisa terhapus dengan amalan seperti puasa Asyura. Lihat Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 7: 487-501

3.     Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam punya keinginan berpuasa pada hari kesembilan (tasu’ah)

Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.

“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan,

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)– kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan,

فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134)

Kenapa sebaiknya menambahkan dengan hari kesembilan untuk berpuasa? Kata Imam Nawawi rahimahullah, para ulama berkata bahwa maksudnya adalah untuk menyelisihi orang Yahudi yang cuma berpuasa tanggal 10 Muharram saja. Itulah yang ditunjukkan dalam hadits di atas. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 14.

Hanya Allah yang memberi taufik untuk beramal shalih.



Sumber : rumaysho

Saturday, 15 September 2018 10:13

Cara Menahan Emosi dalam Islam Ajaran Rasulullah

Cara Menahan Emosi dalam Islam Ajaran Rasulullah - Emosi, adalah salah satu cara syetan dalam menyesatkan manusia. Emosi adalah sifat dasar setan yang mana manusia tidak patut memilikinya. Menjadi manusia sabar memang susah, namun agama Islam menuntut agar kita berusaha menjadi orang yang sabar dalam menghadapi kehidupan ini. Segala masalah harus dihadapi dengan kepala dingin. Emosi hanya menambah rumit masalah. Salah satu cara menahan emosi dalam Islam adalah dengan membaca doa dan amalan tertentu, dimana setelah kita berdoa maka hati menjadi lebih tenang.

Saking pentingnya menahan emosi, Islam sangat menekankan kepada umat manusia untuk berhati-hati ketika tengah emosi. Banyak hadist yang diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar manusia tidak mudah terpancing emosi. Bahkan Allah menjanjikan Surga bagi orang yang mampu menahan amarahnya, dimana bunyi hadist Nabi tersebut yaitu :

لا تغضب ولك الجنة

 “Jangan marah, bagimu surga.” (HR. Thabrani dan dinyatakan shahih dalam kitab shahih At-Targhib no. 2749)

Kadang kita melihat orang yang emosi akan merusak apapun yang ada di sekitarnya, misalnya membanting gelas, piring, benda-benda lain bahkan memukul orang yang ada di sekitarnya. Parahnya lagi, kadang ia mengeluarkan kata-kata kotor yang tak amat dibenci Allah. Mari kita pelajari cara menahan emosi dalam Islam berikut ini.

Tips dan Cara Menahan Emosi dalam Islam

Ada beberapa cara menahan emosi melalui doa, adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :

1. Baca Taawudz

Segera memohon perlindungan kepada Allah SWT dari godaan setan yang terkutuk yaitu dengan membaca ta’awudz : A-‘UDZU BILLAHI MINAS SYAITHANIR RAJIIM.

Hal ini sesuai dengan ajaran atau anjuran Rasulullah melalui hadistnya yang berbunyi :

إِني لأعلمُ كَلِمَةً لَوْ قالَهَا لذهبَ عنهُ ما يجدُ، لَوْ قالَ: أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ، ذهب عَنْهُ ما يَجدُ

Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang. (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Usahakan Diam dan Jaga Lisan

Cara menahan emosi berikutnya adalah dengan menjaga lisan. Diamlah ketika marah, jangan bicara kepada siapapun. diam merupakan cara mujarab untuk menghindari timbulnya dosa yang lebih besar. hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah SAW yang berbunyi :

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

“Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).

3. Mengambil posisi lebih rendah

Kecenderungan orang emosi adalah nada tinggi, oleh karenanya coba ambillah posisi lebih rendah. Jika anda tengah berdiri, coba duduklah, jika anda duduk maka berbaringlah. Cara menahan emosi ini sesuai dengan hadist Rasulullah yang berbunyi :

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ

Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur. (HR. Ahmad 21348, Abu Daud 4782 dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).

4. Segera berwudhu atau mandi

Cara mengendalikan emosi paling disarankan Rasulullah adalah dengan mengambil wudhu atau mandi. Segeralah wudhu ketika marah maka lihat, emosi anda akan segera mereda dan hati menjadi lebih sejuk. Ada baiknya anda melaksanakan solat sunnah 2 rakaat, misalnya solat hajat, dhuha atau tahajud jika memang sudah waktunya. Atau msialnya anda belum melaksanakan solat wajib maka segeralah solat wajib.

Dari hadist Urwah As-Sa’di radhiyallahu ‘anhu :

إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأ

Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu. (HR. Ahmad 17985 dan Abu Daud 4784)

5. Ingatlah hadist tentang nikmatnya orang yang mampu menahan emosi

Ketika anda marah atau emosi silahkan ingat hadist Ibnu Umar berikut ini :

من كف غضبه ستر الله عورته ومن كظم غيظه ولو شاء أن يمضيه أمضاه ملأ الله قلبه يوم القيامة رضا

Siapa yang menahan emosinya maka Allah akan tutupi kekurangannya. Siapa yang menahan marah, padahal jika dia mau, dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhaan pada hari kiamat.(Diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam Qadha Al-Hawaij, dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

Itulah cara menahan emosi dan mengendalikan emosi dalam Islam ajaran Rasulullah SAW. Semoga bermanfaat untuk anda, Barakallah.

 

Sumber : masrukhan

Cara Meningkatkan Dan Memperkuat Iman Kepada Allah SWT - Iman merupakan bagian yang sangat diutamakan dalam kehidupan. Karena dengan imanlah orang tersebut memperoleh derajat dari Allah SWT, dengan iman orang tersebut ikhlas melakukan perintah Allah SWT, dengan iman pula orang tersebut ikhlas dan sabar menerima cobaan dari Allah SWT. Sehingga dibutuhkan cara atau langkah untuk menjaga iman tersebut. Banyak sekali langkah-langkah atau cara yang diajarkan dalam islam untuk memperkuat iman, agar iman kita tidak mudah goyah, karena iman itu bisa naik dan bisa turun tergantung pendirian kita kepada Allah SWT. 

Agar pendirian kita tetap kepada Allah SWT, berikut tips atau kiat-kiat untuk memperkuat iman yaitu:

Pertama: Faktor Primer (utama) merupakan tips yang paling utama dalam kehidupan yaitu berupa tindakan nyata yang harus dilakukan oleh seseorang yang ingin memperkuat keimanannya. Di antaranya yaitu:

1) Akrab dengan Al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan petunjuk utama untuk memperoleh keteguhan iman, dan merupakan penghubung yang amat kokoh antara hamba dengan tuhan-Nya. Karena barang siapa yang berpegang teguh kepada al-Qur’an, niscaya Allah akan memeliharanya dan menunjukinya kejalan yang benar.

Allah SWT berfirman:

Artinya: “Wahai manusia sungguh telah datang pelajaran dari Tuhan-Mu (al-Qur’an), sebagai penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57).

2)  Berusaha untuk lebih istiqamah dengan syari’at Islam

Orang yang ber istiqamah terhadap agama Allah, maka kepada orang tersebut akan diturunkan malaikat, agar dia senantiasa merasa tentram didalam hatinya.  Dan dengan beristiqamah maka Allah akan memelihara keimanan kita.

 Allah SWT berfirman:

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata Tuhan kami adalah Allah kemudian dia beristiqamah dengan perkataannya, maka malaikai-malaikat akan turun kepada mereka dan berkata: “janganlah kamu takut dan sedih, berilah kabar gembira dengan surga yang dijanjikan.” (QS. Al-Ahqaf: 13).

3)  Menjauhi perbuatan maksiat

Rasullullah SAW menggambarkan maksiat ibarat sebuah noda yang menempel di hati. Semakin seseorang menjauhi maksiat maka akan bercahayalah hatinya sehingga petunjukpun akan mudah diterimanya. Sebaliknya, jika seseorang sering berbuat maksiat maka hatinya sedikit demi sedikit akan tertutupi hingga cahaya petunjuk pun sulit diraihnya.

4)  Bergaul dengan orang-orang yang sholeh

Berteman dengan orang-orang yang shaleh  merupakan salah satu faktor pendukung yang dapat mewarnai kualitas keimanan seseorang. Allah dan Rasul pun menyuruh kepada kita untuk lebih selektif dalam memilih teman agar tidak menyesal di kemudian hari, Karena teman bisa menjadi tolok ukur baik atau tidaknya agama seseorang. Oleh karena itu pilihlah teman yang bisa mengajak kita kepada kebaikan.

Allah SWT berfirman:

Artinya: “Wahai celaka aku, sekiranya aku dulu tidak menjadikan fulan sebagai teman akrabku.” (QS. Al-Furqan: 28)

Rasulullah SAW bersabda: “Kualitas agama seseorang itu bisa dilihat dari teman akrabnya, maka hendaklah di antara kalian memperhatikan kepada siapa dia berteman.” (HR. Ahmad).

Kedua: Faktor Sekunder merupakan faktor pendukung dari faktor utama (primer), artinya setelah kita melakukan faktor utama tadi seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an, beristiqamah, menjauhi perbuatan maksiat dan bergaul dengan orang-orang yang shaleh. Maka langkah selanjutnya yang kita lakukan adalah menyambungkan usaha tersebut dengan doa. Sebab akan sangat mustahil jika seseorang hanya berdo’a saja, sementara ia tidak melakukan tindakan apapun untuk memperbaiki dan memelihara keimanannya. Begitu juga sebaliknya, seseorang tidak akan berhasil memelihara keimanannya jika ia hanya mendasarkan pada usaha saja dengan meninggalkan doa, karena masalah keimanan ini sangat erat kaitannya dengan Allah SWT selaku Khalik (Allah SWT). 

 

Demikian, langkah-langkah yang dapat kita lakukan untuk memperkuat iman kita, mudah-mudahan Allah senantiasa memelihara iman kita. Amin Ya Rabbal ‘Alamin

 

 

Sumber : akidahislam

Thursday, 13 September 2018 07:31

Bagaimana Menghadapi Kesulitan Hidup?

Bagaimana Menghadapi Kesulitan Hidup? - Kesulitan hidup benar-benar sesuatu yang tidak enak. Tak seorang pun menginginkannya. Setiap orang menghindarinya. Setiap orang menginginkan

hidup dalam kemudahan. Sehingga kebanyakan orang menghindari kesulitan hidup ini. Namun, tidak semua orang mampu menghindari kesulitan hidup ini.

Sebenarnya Hidup itu Indah

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Alam Nasrah: 5-6)

Jika kita membaca ayat ini, mengapa kita harus takut? sebab jika saat ini sedang sulit, maka esok kemudahan lah yang datang. Ayat ini memberikan inspirasi bagi kita untuk percaya bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan. Jadi, jangan lah bersedih jika mengalami kesulitan hidup. Renungi lah ayat di atas selalu.

Ketika Nabi Musa harus menghadapi serangan dari Fir’aun, maka Nabi Musa bersikap tenang seperti di jelaskan pada Alqur’an sebagai berikut.

Maka Fir’aun dan bala tentara dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut

Musa : “sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.” Musa menjawab: “sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku” (QS. Asy Syu’araa’ 60-62)

Jika kita meneladani Nabi Musa kita juga bisa mengatakan bahwa sesungguhnya Allah bersamaku. Jadi jangan lah bersedih dan berputus asa.

Jangan pernah merasa terhimpit karena keadaan akan berubah.

Hikmah kesulitan hidup

Daripada tenggelam dengan kesedihan dalam hidup, mengapa kita tidak berusaha mengambil hikmah dari kesulitan itu tersebut? Hikmah dari

kesulitan dalam hidup ini mungkin adalah :

  1. Agar memiliki hati yang lebih kuat, sebab kesulitan menguatkan hati kita.
  2. Agar sadar dengan segala kekurangan dan kesalahan sehingga kita selalu bertaubat dan dosa kita di ampuni.
  3. Bebas dari rasa ujub, kesulitan adalah bisa saja sebagai teguran karena kita merasa bisa dan merasa pintar.
  4.  Agar senantiasa tidak lalai
  5. Lebih banyak mengingat Allah
  6. Lebih sabar dalam hidup.

Tips Menghadapi Kesulitan Hidup

Bagaimana menghadapi kesulitan hidup? Caranya adalah dengan mengoptimalkan diri Anda kemudian bersabar dan berserah diri pada Allah. Serahkan semua kesulitan Anda pada Allah.

Dengan mengoptimalkan potensi diri Anda untuk menghadapi dan mengatasi kesulitan dalam hidup Anda sendiri maka Anda akan mampu mengatasi

kesulitan hidup Anda. Dalam kondisi yang kepepet Anda akan terdesak untuk mengoptimalkan segala daya dan upaya Anda untuk mengatasinya.

Setelah Anda sudah mengoptimalkan segala cara untuk mengatasinya? langkah selanjutnya adalah Anda serahkan semuanya pada Allah SWT.

Kemudiaan bersabarlah pada hasilnya. InsyaAllah dengan cara itu Anda akan bisa menghadapi sekaligus mengatasi kesulitan Anda. Apa pun kesulitan Anda.

Kesulitan itu sebenarnya kecil bagi Allah. Sehingga serahkan lah semuanya pada Allah Yang Maha Kuat dan Maha Kaya. Jika kita ingin mampu menghadapi dan mengatasi kesulitan hidup.

 

 

Sumber : ilawati

Tuesday, 11 September 2018 06:30

Mengapa Dinamakan Bulan Muharram?

Mengapa Dinamakan Bulan Muharram? - Muharram atau yang dikenal masyarakat jawa dengan sebutann bulan Suro, adalah salah satu dari empat bulan suci dalam Islam, ada Dzulqa’dah, Dzulhijah, Muharram dan Rajab. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah ta’ala,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram” (QS. At Taubah : 36).

Diterangkan dalam hadis yang diriwayatkan dari sahabat Abu Bakroh, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Satu tahun ada 12 bulan. Empat bulan diantaranya adalah bulan haram (suci), tiga diantaranya beurutan, yaitu , Dzulhijah dan Muharram. Kemudian Rajab Mudhar yang diapit bulan Jumada (al akhir) dan Sya’ban” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bulan ini juga terpilih menjadi bulan pertama dalam kalender hijriyah, setelah sahabat Umar bin Khathab pada tahun ke 16 Hijriyah selaku khalifah pada saat itu, bermusyawarah dengan para pemuka sahabat. Kemudian diputuskanlah bulan Muharom sebagai bulan pembuka untuk kalender hijriyah. Alasan memilih bulan ini sebagai bulan pertama dalam penanggalan hijriyah karena pada bulan inilah muncul tekad/azam untuk berhijrah ke kota Madinah. Sebagaimana diterangkan Ibnu Hajar –rahimahullah– dalam Fathul Bari (7/335).

Begitu mulianya bulan ini sampai Nabi menyebutnya sebagai Syahrullah (bulan Allah),

فْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Seutama-utama puasa setelah Ramadlan ialah puasa di bulan Allah yakni bulan Muharram, dan seutama-utama shalat sesudah shalat fardlu, ialah shalat malam” (HR. Muslim).

Lantas mengapa bulan suci ini dinamai Muharram?

Ada dua pendapat yang menjelaskan alasan penamaan bulan ini :

Pertama, dinamakan Muharram dari kata haram yang maknanya adalah larangan, sebagai penegasan terhadap keharaman berperang di bulan ini. Karena dahulu orang-orang Arab mengubah-ubah urutan bulan ini, mereka menghalalkan perang pada suatu tahun kemudian mengharamkan pada tahun berikutnya.

Kedua, dinamakan Muharram karena bulan ini termasuk salah satu dari empat asyhur al hurum (Bulan-bulan haram) yang disinggung dalam surat At Taubah ayat 36 di atas. Imam Ibnu Katsir –rahimahullah– menyatakan,

ذَكَرَ الشَّيْخُ عَلَمُ الدِّينِ السَّخَاوِيُّ فِي جُزْءٍ جَمَعَهُ سَمَّاهُ «الْمَشْهُورُ فِي أَسْمَاءِ الْأَيَّامِ وَالشُّهُورِ » أَنَّ الْمُحَرَّمَ سُمِّيَ بِذَلِكَ لِكَوْنِهِ شَهْرًا مُحَرَّمًا، وَعِنْدِي أَنَّهُ سُمِّيَ بِذَلِكَ تَأْكِيدًا لِتَحْرِيمِهِ ؛ لِأَنَّ الْعَرَبَ كَانَتْ تَتَقَلَّبُ بِهِ فَتُحِلُّهُ عَامًا وَتُحَرِّمُهُ عَامًا

“Syaikh Alamuddin As Sakhowi menyebutkan dalam salah satu jilid karya yang beliau kumpulkan, yang beliau beri judul al masyhur fi asma-i al ayyam wa asy-syuhur, bahwa dinamakan Muharram karena bulan ini termasuk bulan haram. Adapun menurutku, dinamai Muharom sebagai penekanan terhadap keharaman berperang di bulan tersebut. Karena kaum Arab dahulu mengubah-ubah urutan bulan ini, mereka menghalalkan perang di suatu tahun lalu mengharamkan di tahun berikutnya” (Tafsir Ibnu Katsir 4/146).

Damikian, semoga tulisan ringkas ini memberikan manfaat. Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa aalihi washahbihi wa sallam.

***



Sumber : muslim

Save

Solo peduli News