Saturday, 21 April 2018 13:50

Kartini, Pejuang Pendidikan Kaum Perempuan

SOLOPEDULI.ORG - Siapa yang tak mengenal Kartini, sosok pahlawan perempuan Indonesia yang memperjuangkan nasib perempuan Indonesia kala itu. Kartini tidak berjuang dalam perang melawan penjajah seperti Cut Meutia. Namun, RA Kartini lebih memperjuangkan kaum perempuan pribumi yang tidak diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Ia berjuang dengan mendirikan sekolah gratis khusus perempuan, juga melalui tulisan yang ia tulis kepada temannya yang berada di Belanda. Dari surat-surat itulah, awal mulai “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Kartini, adalah sosok yang ingin memajukan perempuan Indonesia supaya memiliki hak mendapatkan pendidikan sama halnya dengan laki-laki. Kartini, juga merupakan sosok yang senang berkawan, namun larangan-larangan dari pihak keluarga membuatnya mengalami hambatan untuk bergaul luas, bahkan untuk menimba ilmu.

Ketika, ia sudah lulu ELS (sekolah setingkat sekolah dasar pada waktu itu), Kartini harus rela dipingit oleh kedua orangtuanya sampai menjelang ia menikah. Namun, hal tersebut tidak menghalangi Kartini untuk terus berjuang untuk perempuan-perempuan pribumi. Ia mendirikan sekolah gratis untuk perempuan, sekolah yang mengajari cara menjahit, menyulam dan sebagainya. Bahkan, Kartini sempat mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di Belanda, ia berniat belajar sebagai pendidik yang lebih baik sehingga dapat mendidik perempuan-perempuan Indonesia dengan cara yang lebih baik pula. Namun lagi-lagi, ia terhalang restu orang tua, yang akhirnya membuat ia harus dinikahkan dengan bupati Rembang saat itu, Raden Adipati Joyodiningrat.

Tak mau menyerah walau sudah menikah, Kartini masih berjuang di jalannya. Ia banyak bergaul dengan orang-orang terpelajar, dan membaca buku-buku tentang kemajuan perempuan-perempuan Eropa. Ia juga kembali mendirikan sekolah perempuan di Rembang, juga masih sering bersurat dengan sahabat-sahabatnya di Belanda mengenai pemikiran-pemikirannya untuk memajukan perempuan di Indonesia.

Sosok Kartini memberikan kita pencerahan, betapa pentingnya ilmu dan pengetahuan. Tidak hanya terbatas pada kaum adam saja, kaum hawa juga berhak menuntut ilmu. Tak peduli berapa usia, semua bukan alasan untuk tidak memperoleh pendidikan. Kondisi masyarakat Indonesia yang pada saat itu masih memegang teguh adat Jawa, di mana seorang perempuan tidak dibebaskan keluar rumah.

Dalam Islam, menuntut ilmu ialah kewajiban. Tidak berbatas untuk kaum adam saja, atau bangsawan saja. Semua orang islam diperbolehkan menuntut ilmu, bahkan sampai negeri China sekalipun. “Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki, maupun muslim perempuan.” (HR. Ibnu Abdul Barr)

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia, maka wajib bagunya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat, maka wajib bagunya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu.” (HR. Tirmidzi)

Perjuangan Kartini, menjadi salah satu contoh yang nyata, betapa mencari ilmu dahulu tak semudah sekarang. Zaman sekarangpun, masih ada saudara-saudara kita yang terjebak dalam keadaan yang membuat mereka tidak bisa mengenyam pendidikan.

Semoga dapat bermanfaat dan menumbuhkan semangat untuk kita dalam mencari ilmu. Selamat memperingati Hari Kartini.

 

Referensi: Kumparan

 

Friday, 20 April 2018 13:38

Kisah Jenaka Nu’aiman

SOLOPEDULI.ORG - Bercanda atau tertawa bukanlah hal yang dilarang dalam Islam. Asalkan candaan serta tertawanya tidak berlebihan, karena Allah tidak menyukai yang berlebihan. Rasulullah pun juga suka bercanda dan tertawa sekadarnya. Pernah ada sahabat Rasulullah yang orangnya jahil, Nu’aiman namanya.

Rasul selalu tertawa mendengarkan kisah dari Nu’aiman dan Suwaibith. Dikisahkan, suatu ketika Nu’aiman dan Suwaibith dengan Abu Bakar dalam khalifah berdagang ke Negeri Busra. Suwaibith ditugaskan untuk mengurusi perbekalan. Singkat cerita, mereka berdua ditinggal oleh Abu Bakar karena adanya urusan.

Tinggallah mereka berdua di lapak dagang, dan tiba-tiba Nu’aiman meminta makanan kepada Suwaibith karena lapar. Namun, Suwaibith tidak memberi, dan memintanya untuk menunggu Abu Bakar kembali terlebih dahulu. Nu’aiman kesal dan pergi ke para pedagang budak.  Nu’aiman menawarkan seorang budak yang gagah, tampan dan rajin, siapa lagi kalau bukan Suwaibith. Para pedagang budakpun merasa tertarik. “Tapi budak yang satu ini pintar bicara, mungkin saja nanti dia bilang dia merdeka. Kalian jangan terpengaruh, ikat saja kalau perlu, harganya 10 ekor unta,” ujar Nu’aiman. Para pedagang budak setuju. Bergegaslah Nu’aiman ke lapak membawa 10 ekor unta dengan para pedagang budak itu.

“Kami telah membelimu!” sontak para pedagang budak itu, membuat Suwaibith terkejut. Dia mengelak dan mengatakan dirinya adalah orang yang merdeka. Namun, para pedagang budak itu tidak menghiraukan dan mengikatnya.

Ketika Abu Bakar kembali dari urusannya, barulah dia menjelaskan kepada para pedagang budak dan mengembalikan 10 unta mereka. Selama satu tahun kisah kejahilan dari Nu’aiman selalu berhasil membuat Rasul dan para sahabat tertawa mendengarnya.

Dari kisah tersebut, kita mengetahui bahwa Rasulullah adalah orang yang suka bercanda, tidak selalu kaku dan formal. Banyak kisah jenaka lain tentang Rasulullah dan para sahabat namun jarang terekspos. Semoga dengan cerita ini membuat kita sedikit terhibur.

 

Referensi: Islami

Thursday, 19 April 2018 13:59

Keutamaan Menjalin Silaturahmi

 

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi.

(HR. Bukhari dan Muslim)

 

SOLOPEDULI.ORG - Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, yang mana membutuhkan bantuan orang lain dan tak dapat hidup sendiri. Oleh karena itulah, bersosialisasi dengan orang lain, baik tetangga  teman maupun saudara merupakan sebuah hal yang lumrah. Begitu banyak manfaat yang kita dapatkan dari bersilaturahmi, seperti halnya bertukar informasi, hingga saling bantu membantu. Rasulullah pun juga mencontohkan kita untuk bersilaturahmi. Berikut keutamaan menjalin silaturahmi:

 

1. Pertanggungjawaban Iman kepada Allah SWT

Seorang yang beriman, tentunya memiliki pemikiran yang lebih terbuka dalam menjalin relasi. Baik relasi kerja maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Seorang beriman, pastilah mampu menjalin hubungan silaturahmi dengan sesamanya. Karena silaturahmi merupakan tanda bahwa seorang itu adalah orang yang beriman.

Bukannya beriman, namun enggan bertegur sapa dengan tetangganya, menghindari berkumpul dengan orang-orang yang beriman. Orang yang menjaga silaturahmi adalah salah satu bukti bahwa orang tersebut adalah orang yang beriman.

 

 2. Dipanjangkan Umurnya dan Diluaskan Rezekinya

Bagi orang yang suka bersilaturahmi, maka akan dilancarkan rezekinya. Seperti halnya ketika kita berkunjung ke rumah saudara, kita mendapatkan bingkisan, walau kita tidak meminta. Atau, ketika kita sedang bertemu dengan kawan kita, tiba-tiba saja kawan kita memberikan informasi yang sedang kita butuhkan. Rezeki memang sudah diatur oleh Allah, namun sebagai manusia kita tak tahu kapan, di mana, dan bagaimana rezeki itu datang. Dan, silaturahmi menjadi salah satu jalan untuk mendapatkan rezeki tersebut.

 

“Barangsiapa yang senang diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi” (HR Bukhari dan Muslim)

 

3. Didekatkan dengan Surga

“Engkau menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahmi.” (HR Bukhari dan Muslim)

 

Menjalin silaturahmi disandingkan dengan menunaikan zakat dan mendirikan salat. Menjalin silaturhami juga dapat membuat kita dekat dan dimudahkan jalan kita menuju surga. Sebaik-baiknya umat adalah umat yang saling menjaga saudaranya, maka Allah akan menjaganya dan memasukkannya ke surga.

“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan (silaturahmi)” (HR Bukhari dan Muslim)

 

4. Kelebihan Bersedekah untuk Keluarga Sendiri

Mengunjungi sanak saudara, membawakan mereka oleh-oleh menjadi salah satu contoh sederhana bersilaturahmi sembari bersedekah dan penuh berkah. Terlebih yang kita beri sedekah adalah keluarga kita sendiri. Bersedekah kepada keluarga lebih diutamakan, untuk menghindari riya’.

 

 “Sedekah terhadap orang miskin adalah sedekah dan terhadap keluarga sendiri mendapat dua pahala: sedekah dan silaturahmi.” (HR Tirmidzi)

 

Meskipun silaturahmi memiliki banyak keutamaan tidak sedikit orang yang meninggalkannya. Menyepelekan bersilaturahmi bukanlah hal yang baik. Meskipun orang yang kita kunjungi berbuat zhalim, melakukan atau memiliki sifat sombong, kita harus tetap menjalin tali silaturahmi yang baik sebagaimana yang disebutkan dalam hadist berikut,“sambunglah orang yang memutuskan (hubungan dengan) mu, berilah kepada orang yang tidak memberi kepadamu, dan berpalinglah dari orang yang berbuat zalim kepadamu.” (HR Ahmad)

Demikianlah itu adalah keutamaan mengapa kita harus menjalin silaturahmi. Mengunjungi saudara tak harus setiap hari, namun alangkah baiknya kita tetap menjaga komunikasi dengan sanak saudara kita demi kebaikan diri kita sendiri, maupun orang di sekeliling kita.

Semoga bermanfaat.

 

Referensi: Dalam Islam

Wednesday, 18 April 2018 10:32

Menjaga Lingkungan Dari Diri Sendiri

 

Tidaklah kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekian alam.

(al-Anbiya: 107)

 

SOLOPEDULI.ORG-Bumi kita dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa. Mulai dari darat hingga laut, mengandung banyak kekayaan alam yang mampu membantu manusia untuk bertahan hidup. Sebagai umat muslim, menjaga kelestarian alam sekitar kita merupakan sebuah hal yang wajar dilakukan, sebagai bentuk syukur kita kepada Sang Pencipta atas anugerah alam yang diberikan.

Kita, manusia diberikan tempat tinggal yang nyaman, seperti bumi. Tidakkah kita harus bersyukur akan itu? Terlebih tanah Indonesia yang amat subur, kekayaan laut yang melimpah, tidakkah itu cukup untuk kita hidup sebagai hamba Allah? Menjaga, melestarikan, dan memanfaatkan kekayaan alam dengan baik dan benar menjadi salah satu perbuatan sederhana yang dapat kita lakukan sebagai manusia.

Keeksotisan alam Indonesia menjadi salah satu anugerah terbesar bagi rakyat Indonesia. Siapa yang tak bangga, jadi salah satu pemilik terumbu karang terbaik dan terindah di dunia? Memang patut dibanggakan, namun yang terpenting adalah pelestariannya yang sulit. Hanya beberapa kalangan masyarakat saja yang peduli. Terkadang tanpa sadar kita masih saja membuang sampah sembarangan, terlalu banyak memakai kantong plastik untuk keperluan yang sepele, atau menghambur-hamburkan kertas tisu. Itu adalah secuil contoh kecil perilaku mayoritas manusia, yang dapat berdampak besar bagi kehidupan alam sekitar. Masih banyak lagi perilaku lain yang tanpa kita sadari sudah menjadi kebiasaan.

Parahnya, kita sadar ketika melakukan hal tersebut, namun tidak peduli dengan pikiran “ah hanya sedikit saja”. Apa jadinya kalau setiap orang berpikir demikian? Sampah akan semakin menumpuk, plastik-plastik yang sulit terurai bertebaran di mana-mana. Dalam Al Quran sudah disebutkan, “telah nampak kerusakan di darat dan di lautan yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Rum: 41)

Bukankan itu sudah menjadi peringatan dari Allah untuk kita yang hanya hidup menumpang di bumi-Nya?

Jangan menyalahkan orang lain. Mulailah dari diri sendiri. Biasakan buang sampah pada tempatnya. Membiasakan diri mengurangi pemakaian kantong plastik. Mengurangi polusi udara dengan mengurangi menggunakan kendaraan bermotor untuk jarak yang masih bisa dijangkau dengan jalan kaki maupun sepeda. Nampaknya sepele, tapi dari hal kecil itulah yang akan jadi perubahan besar. Kalau tidak dari diri kita sendiri, dari siapa lagi?

Referensi: Majlisunnah

 

SOLOPEDULI.ORG-Ibnu Ummi Maktum, adalah sahabat Rasulullah yang memiliki keterbatasan. Dia adalah seorang tunanetra, dan kisahnyapun diabadikan dalam surat ‘Abasa.

Ibu Ummi Maktum merupakan seorang pembelajar yang giat, walau ia memiliki keterbatasan. Walaupun memiliki kekurangan pada penglihatan, ia dianugerahi pendengaran dan daya ingat yang jauh lebih baik. Dengan pendengaran dan daya ingatnya itulah ia belajar, hebatnya dia mampu mengingat apapun yang ia dengar untuk waktu yang cukup lama. Ia adalah putra dari bibi Siti Khadijah binti Khuwalid. Dan, ia hidup sendiri di tengah hiruk pikuk Kota Mekkah.

Ketika itu ia mendengar desas-desus warga mengenai dakwah seorang yang menerima wahyu dari langit, yakni Rasulullah SAW. Dengan segera ia mengambil tongkatnya dan mencari keberadaan Rasulullah. Secara sembunyi-sembunyi Ibnu Ummi Maktum mendengarkan ceramah Rasulullah. Benar saja, Ibnu Ummi Maktum amat terkagum dengan dakwah dari Rasulullah, dan berniat untuk mempelajari islam. Saat itu, Rasulullah sedang berdakwah di hadapan para petinggi Quraisy. Tiba-tiba Ibnu Ummi Maktum memegang tangan Rasulullah dan mengatakan, “tolong ajarkan aku, apa yang Tuhanmu ajarkan kepadamu.”

Rasulullah mengabaikan Ibnu Ummi Maktum, karena merasa tersinggung pembicaraannya dipotong. Dan Rasulullah kembali melanjutkan perbincangannya dengan tamu-tamunya. Selepas kejadian tersebut dan setelah usai menjamu para tamunya, Rasulullah bergegas pergi. Setelah itu, Rasulullah menerima wahyu surat ‘Abasa, seketika merasa hati beliau tercekik.

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya…” (‘Abasa: 1-10)
 

Begitu kira ayat 1 hingga 10 surat ‘Abasa yang diwakhyukan oleh Allah, kepada Rasulullah. Dan, hal tersebut membuat Rasulullah langsung meminta ampun kepada Allah. Dengan segera, Rasulullah menemui Ibnu Ummi Maktum dan memberikan pedoman hidup yang lurus kepadanya, Al-Quran. Dan setelahnya, Rasulullah amat memuliakan sahabatnya yang buta ini dengan menyapanya dengan sapaan yang khas, “selamat datang, wahai orang yang dititipkan Tuhanku untuk diperlakukan baik!”

Sejak itu, diriwayatkan bahwa Ibnu Ummi Maktum adalah orang yang sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya. Begitu banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari seorang Ibnu Ummi Maktum yang tunanetra. Salah satu yang terkenal adalah perjuangan dan pengorbanannya ketika perang. Suatu ketika, saat pasukan muslimin berangkat menuju Al-Qadisiyah, Ibnu Ummi Maktum bertemu dengan sang komandan perang, “wahai kekasih Allah, sahabat Rasulullah, pahlawan perang, serahkan bendera perang itu padaku. Aku seorang buta, tak mungkin bisa lari. Nanti, tempatkanlah aku di antara kedua pasukan yang berperang.”

Menurut Qatadah, Anas bin Malik berkata, “dalam perang Al-Qadisiyah, Abdullah bin Ummi Maktum memegang bendera perang hitam dan mengenakan baju besi.” Dan berdasarkan riwayat, Ibnu Ummi Maktum tidak meninggal di medan perang, melainkan di Madinah. Semoga Allah merahmatinya.

Sungguh perjuangan yang luar biasa, di tengah kondisi tubuhnya yang tidak sempurna, Ibnu Ummi Maktum rela mengorbankan nyawanya untuk kemahsyuran Islam kala itu. Yang dapat kita pelajari dari seorang Ibnu Ummi Maktum adalah jiwa pembelajar dan ketekunannya dalam belajar.

Semoga bermanfaat.

Referensi: Muslimah Daily

SOLOPEDULI.ORG - Perjalanan penuh keajaiban yang ditempuh semalam berakhir setibanya di langit dunia. Begitu banyak keajaiban yang lihat oleh Rasulullah selama perjalanan. Mulai dari ditunjukkannya neraka dan surga, hingga gambaran siksaan untuk para manusia yang membangkang dan berbuat tercela selama di dunia.

Setibanya di dunia, Rasulullah menceritakan apa yang dialaminya dalam semalam. Namun, kisah-kisah yang diceritakan oleh Rasulullah tidak begitu saja dapat diterima oleh orang lain. Orang pertama yang mempercayai cerita beliau adalah Abu Bakar., dengan begitu kini kita mengenal Abu Bakar dengan sebutan As Shidiq.

Bagi para umat Rasulullah kala itu, kisah Rasulullah mengenai perjalanan malamnya yang penuh keajaiaban bagaikan karangan fiksi yang penuh imajinasi. Bagaimana bisa orang biasa kala itu membayangkan hewan buroq, pintu langit, surga dan neraka? Ditambah lagi, kala itu adalah tahun kesedihan atau biasa disebut Am al Huzn. Di mana di tahun itu, Rasulullah harus kehilangan orang-orang yang dicintainya, yakni paman yang mengasuhnya sejak beliau yatim piatu, Abu Thalib. Dan juga kepergian  istrinya yang beliau cintai, Khadijah.

Banyak yang beranggapan (ketika itu), dengan beralasan Rasulullah sedang berkabung sehingga apa yang ia sampaikan dinilai kurang rasional untuk ukuran manusia saat itu. Bahkan banyak yang mendustakan dan mengejek Rasulullah tentang cerita yang dibawanya sepulang bertemu dengan Sang Maha Pencipta.

Alasan yang paling nyata atas kisah Isra Miraj, difirmankan Allah dalam surat Al Isra ayat 1, “agar Kami perlihatkan kepadaya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran Kami).”

Mendengar suatu kabar tidak sama dengan melihat langsung dengan mata kepala sendiri. Memang sulit mengemban beban di jalan Allah, dan harus menghadapi dunia. Betapa tugas Nabi dan Rasul begitu berat di benak kita. Meyakini mereka menjadi salah satu jalan meyakini bahwa kita berada di jalan Allah.

Semoga bermanfaat.

 

Rerefensi: Referensi : Islam Cendikia, Tirto.id, Sirah Nabawiyah

 

SOLOPEDULI.ORG - Muhammad’s Night Journey to Heaven, begitu kiranya istilah kerennya dari Miraj. Digambarkan Rasulullah menuju langit yang dihiasi taburan bintang, bulan dan planet, seperti halnya wisata angkasa. Namun, Rasulullah pergi bukan untuk berwisata, akan tetapi sebuah tugas spiritual untuk bertemu Sang Pencipta, Allah SWT. Ada tujuh lapisan kangit yang harus dilewati oleh Rasulullah malam itu.

Pada lapisan pertama, Rasulullah bertemu dengan Nabi Adam dan saling menyapa. Nabi Adampun menetapkan nubuwah kepada Rasulullah. Di lapisan pertama ini juga, Allah juga memperlihatkan dua sisi yang berbeda. Di sisi kanan adalah roh-roh orang yang mati syahid, dan roh-roh orang uang sengsara ada di sisi kiri. Kemudian, Rasulullah naik lagi menuju lapisan langit kedua, dan bertemu Nabi Isa dan Nabi Yahya. Rasulullah memberi salam dan dibalas oleh kedua nabi dengan menetapkan nubuwah Rasulullah.

Rasulullah  kembali naik ke lapisan langit ketiga dan bertemu dengan Nabi Yusuf yang dikenal karena ketampanannya. Rasulullah memberi salam dan dibalas Nabi Yusuf dengan menetapkan nubuwah kepada Rasulullah. Di lapisan langit keempat, Rasulullah bertemu dengan Nabi Idris. Mereka saling memberi salam, dan Nabi Idris juga menetapkan nubuwah.

Berlanjut, Rasulullah naik ke lapisan langit berikutnya, dan bertemu dengan Nabi Harun, dan menetapkan nubuwah Rasulullah. Di langit ke enam, Rasulullah bertemu dengan Nabi Musa dan saling memberi salam. Nabi Musa pun turut menetapkan nubuwah Rasulullah.  Ketika Rasulullah hendak melanjutkan perjalanannya, Nabi Musa menangis. “Aku menangis karena ada seorang pemuda yang diutus sesudahku, yang masuk surga bersama umatnya dan lebih banyak daripada umatku,” tutur Nabi Musa.

Rasulullah melanjutkan perjalanannya ke lapisan langit ke tujuh dan bertemu dengan Nabi Ibrahim, saling mengucap salam dan menetapkan nubuwah Rasulullah. Dan, sampailah Rasulullah di Sidratul Muntaha, kemudian dibawa naik ke Al Baitul Ma’mur. Kemudian dibawa naik menghadap Allah SWT, hingga Rasulullah hanya berjarak sepanjang dua ujung busur. Kemudian, Allah mewahyukan  kepada Rasulullah yakni shalat sebanyak lima puluh kali. Rasulullah menerima wahyu itu, dan kemudian turun ke lapisan langit bawahnya.

Hingga sampailah Rasulullah di lapisan langit ke enam dan bertemu kembali dengan Nabi Musa. Nabi Musa bertanya apa yang diperintahkan Allah kepada Rasulullah, “shalat lima puluh kali,” jawab Rasulullah. “Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup melakukannya. Kembalilah menemui Rabb-mu dan mintalah keringanan kepada-Nya bagi umatmu,” kata Nabi Musa. Rasulullah pun kembali menghadap Allah, dan  jumlah shalat dikurangi sepuluh.

Rasulullah kembali turun dan menyampaikan kepada Musa tentang keringanan salat. Namun, Nabi Musa kembali menyarankan untuk kembali meminta keringanan, membuat Rasulullah mondar-mandir bertemu Nabi Musa dan Allah SWT, hingga akhirnya jumlah shalat menjadi lima. Dan, Rasulullah berkata, “aku sudah malu kepada Rabb-ku. Aku sudah ridha dan bisa menerimanya.” Begitulah, kisah di balik jumlah shalat dalam sehari.


Lanjut ke bagian ke tiga.

SOLOPEDULI.ORG - Isra Miraj adalah perjalanan Rasulullah SAW bertemu dengan Allah SWT untuk menerima wahyu. Di sepanjang perjalanan, Rasulullah ditunjukkan oleh hal-hal yang menakjubkan, yang tak bisa dijabarkan dengan perkataan secara detail dan rinci.

Isra terdiri dari dua kata, Isra yang berarti perjalanan malam dan Miraj yang berarti naik ke atas. Isra merujuk pada perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, sedangkan Miraj mengarah pada perjalanan Rasulullah ke Sidratul Muntaha.

Perjalanannya dimulai dari Masjidil Haram  menuju Masjidil Aqsa, dengan mengendarai buroq, kendaraan yang digambarkan begitu besar, berwarna putih dan mengenakan pelana seperti kuda. Sebelumnya, Rasulullah dibelah dadanya oleh Malaikat Jibril, dan membasuhnya dengan air zam-zam. Setelahnya, dimulailah perjalanan Rasulullah menuju Masjidil Aqsa. Selama perjalanan, Rasulullah menjumpai bermacam keajaiban, salah satunya adalah kemuncullan Jin Ifrit yang berusaha mengejar dan mencelakai nabi. Namun, dengan kekuatan doa, Jin Ifrit terbakar dengan sendirinya.

Di tengah perjalanan, Rasulullah merasa haus, dan meminta minum kepada Malaikat Jibril. Ada dua pilihan yang ditawarkan oleh Malaikat Jibril, susu dan khamr. Dan, Rasulullah memilih susu. Malaikat Jibril berkata, “sungguh, Engkau memilih fitrah yaitu Islam. Kalau engkau pilih khamr, niscaya umat engkau akan menyimpang dan sedikit yang mengikuti syariat.”

Sesampainya di Masjidil Aqsa, Rasulullah ditemani Malaikat Jibril, menunggangi buroq untuk menuju ke Sidratul Muntaha. Sebelumnya, Rasulullah menegakkan shalat dua rekaat bersama para nabi, dan menjadi imam atas bimbingan Malaikat Jibril. Kemudian, Rasulullah melanjutkan perjalanannya menuju Sidratul Muntaha.

 

Lanjut ke bagian ke dua.

Referensi : Islam Cendikia, Tirto.id, Sirah Nabawiyah

Thursday, 12 April 2018 09:19

Berhemat Dengan Bekal

SOLOPEDULI.ORG - Makan memang sudah menjadi kebutuhan pokok manusia. Dalam memenuhi kebutuhan ini, kadang kita harus mengeluarkan banyak biaya, lebih-lebih kalau makan di tempat yang mahal. Inilah yang tanpa kita sadari membuat pengeluaran kita membengkak. “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak Menyukai orang yang berlebih- lebihan.”(Al-A’raf:31)

Tak perlulah kita berlebihan dalam memilih makanan, terlebih ketika bosan dengan menu yang disediakan di kantin. Mau tidak mau makan di “luar”. Untuk menghemat biaya makan ketika berada di luar rumah, seperti di sekolah, kantor, maupun dalam perjalanan, bekal bisa menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan.

Banyak keuntungan yang kita dapatkan dari membawa bekal. Kita bisa memilih sendiri bekal yang akan kita bawa sesuai dengan keinginan, selain itu bekal juga dapat membuat kita mengurangi pengeluaran untuk makan. Namun, kita harus meluangkan sedikit waktu untuk menyiapkan bekal. Konten Islami kali ini akan memberikan sedikit tips untuk menyiapkan bekal, supaya hemat waktu dan biaya.

 

  1. Buatlah daftar bekal, dan sesuaikan dengan jadwal sekolah atau kerja anda. Buat daftar semenarik mungkin, dan tidak monoton dengan menu yang hampir sama setiap hari. Sesuaikan dengan keinginan dan biaya yang dikehendaki.
  2. Siapkan bahan makanan pada malam  harinya, sehingga pada pagi hari kita tidak tergesa-gesa. Untuk makanan dengan tingkat pembuatan yang lama, bisa memakai tips. Namun, bila anda ingin makanan yang segar tanpa harus memanaskannya terlebih dahulu, ada di tips ketiga.
  3. Memilih makanan yang sederhana, dan mudah untuk dibuat. Sehingga tidak akan menghabiskan waktu untuk memasak.

 

Tiga tips mudah untuk membawa bekal. Namun tidak ada salahnya untuk makan di luar, apalagi kalau sudah gajian. Perlu diingat, Allah tidak menyenangi umatnya yang suka berlebihan. Begitu pula ketika membawa bekal, tak perlulah masak makanan yang membutuhkan waktu dan tenaga yang besar. Cukup buat makanan yang sedehana, sehat, dan yang terpenting halal.

 “Hai sekalian manusia makan-makanlah yang halal lagi baik dariapa yang terdapatdi bumi dan jangan kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena syaitan musuh yang nyata bagimu.” (Al Baqarah: 168)

 

Selamat Hari Bawa Bekal Nasional!

 

Referensi: Lifestyle Kompas

 

SOLOPEDULI.ORG - Kenikmatan hidup di dunia ini memang patut untuk disyukuri, entah bagaimanapun kenikmatan itu adalah anugerah dari Allah SWT. Maka, wajiblah kita untuk bersyukur atas nikmat Allah yang telah diberikan.

Konten kali ini akan membahas mengenai kisah tiga orang Bani Israil, yang memiliki kekurangan. Orang pertama terjangkit penyakit lepra, kedua mengalami kebotakan, dan orang ke  tiga ialah orang yang buta. Allah menguji hambanya dengan dikirimkannya malaikat kepada mereka.

Pertama, malaikat mendatangi orang yang menderita lepra, “apakah ada sesuatu yang paling kamu inginkan?” tanya malaikat. Orang itu menjawab, “rupa yang bagus, kulit yang indah, dan penyakit yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku.” Malaikat langsung mengusap orang itu, dan berubahlah ia menjadi rupa yang bagus dan kulit yang indah. “Lalu, kekayaan apa yang paling kamu inginkan?” tanya malaikat lagi. “Unta atau sapi,” jawab orang itu dan kemudian diberikannya unta yang sedang hamil, “semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan unta ini,” kata malaikat.

Orang ke dua, malaikat mendatangi si botak, dan menanyakan hal yang sama. “Rambut yang indah, dan apa yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku,” pinta orang itu. Segera malaikat mengusapnya, dan tumbuhlah rambuh yang indah. “Harta apa yang kamu senangi?” tanya malaikat, “sapi atau unta,” jawabnya. Maka munculah seekor sapi yang sedang hamil, “semoga Allah memberkahimu dengan sapi ini.”

Terakhir, malaikat mendatangi si buta, dan menanyakan hal yang sama. “Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang,” doa si buta, maka diusaplah wajahnya, dan seketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya. “Harta apakah yang paling kamu senangi?” tanya malaikat, “kambing” jawabnya. Kemudian diberikanlah seekor kambing yang sedang hamil.

Ketiganya pun mengembangbiakkan ternak mereka. Hingga suatu ketika, malaikat kembali kepada mereka dengan menyerupai wujud mereka sebelum diberi kenikmatan oleh Allah. Malaikat mendatangi si penderita lepra dengan wujudnya ketika terkena penyakit tersebut, dan bertanya padanya, “aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku untuk mencari rizki dalam perjalananku ini, sehingga tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan anda. Demi Allah yang telah memberi anda rupa yang tampan, kulit yang indah, dan kekayaan ini, aku minta kepada anda satu ekor unta saja untuk bekal meneruskan perjalananku.”

Namun, orang itu menjawab, “hak-hak tanggunganku masih banyak.” Malaikat masih mengujinya, “sepertinya aku pernah mengenal anda, lagi pula anda miskin. Kemudian Allah memberikan kepada anda harta kekayaan.” Dengan bangganya orang itu justru mengelak, “harta kekayaan ini aku warisi turun temurun dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.” Mendengar orang itu berdusta, malaikat berkata, “jika anda berkata dusta niscaya Allah akan mengembalikan anda kepada keadaan anda semula.”

Kemudian malaikat mendatangi orang yang sebelumnya berkepala botak, dan menanyakan hal yang sama. Namun, orang itu juga berkata dusta. Dan, pada akhirnya malaikat mendatangi orang yang dulunya buta, dan menanyakan hal yang sama. Orang itu menjawab, “sungguh aku dulunya buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang anda sukai, dan tinggalkan apa yang tidak anda sukai. Demi Allah, sekarang ini aku tidak akan mempersulit anda dengan memintamu mengembalikan sesuatu yang telah anda ambil karena Allah.” Dan, malaikat tadi berkata, “peganglah kekayaan anda, karena sesungguhnya kalian ini hanya diuji oleh Allah. Allah telah ridha kepada anda, dan murka kepada kedua teman anda.”

Begitu kiranya kisah tiga Bani Israil yang menceritakan tentang mensyukuri nikmat Allah. Maka, perbanyaklah bersyukur atas apa yang dimiliki.

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (QS. An-Nahl: 78)

Referensi: Remajaislam

Save

Solo peduli News