Friday, 24 November 2017 09:56

Miskin yang Sabar Vs Kaya yang Bersyukur

Dalam perjalanan panjang sejarah kehidupan manusia, Allah telah mencipatakan dua tipe manusia, agar dijadikan panutan bagi masyarakat generasi berikutnya.

Allah ciptakan Nabi Ayub sebagai sosok yang dikenal sangat penyabar, di tengah ujian sangat berat yang beliau alami. Terkadang ada orang yang diberi nikmat harta namun tidak memiliki nikmat sehat. Dia tidak bisa menikmati hartanya, karena sakit-sakitan.

Sebaliknya, ada yang diberi nikmat sehat wal-afiyat tapi tidak berharta. Ketika dia menginginkan untuk menikmati banyak hal, namun tidak bisa terwujud. Karena kantongnya tidak cukup untuk menjangkaunya. Yang terjadi pada Nabi Ayub, beliau mendapatkan kedua-duanya. Beliau menderita kemiskinan sangat parah, dan sakit fisik yang juga sangat mengenaskan. Allah sebutkan doa Ayub,

“Ingatlah hamba Kami, Ayub. Ketika dia berdoa memanggil Rabnya, ‘Sesnngguhnya setan menimpakan kemadharatan kepada dengan nusb dan adzab’.” (QS. Shad: 41)

Sebagian ahli tafsir menyebutkan,

Makna nusb     : musibah sakit yang beliau derita

Makna adzab   : musibah yang membersihakn semua harta dan anaknya.

Sebelumnya, Ayub adalah oang soleh yang sangat kaya, hartanya melimpah dan memiliki banyak anak. Allah mengujinya, dengan membalik keadaannya. Hebatnya, datangnya semua ujian itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Semua anaknya diambil berikut hartanya.

Sanak kerabatnya menjauhinya, hingga beliau harus keliling dari satu sampah ke sampah untuk mendapatkan sesuap makanan. Sampai akhirnya beliau sakit parah, tidak ada bagian kulit seluas titik jarum yang sepi dari penyakit. Semua orang menjauhinya, selain satu istrinya yang setia mendampinginya, karena imannya kepada Allah. Semoga Allah meridhai istri Ayub. Menurut catatan Ibnu Katsir, ini terjadi selama 18 tahun. (Tafsir Ibn Katsir, 7/74).

Di sisi lain, Allah ciptakan Nabi Sulaiman sebagai sosok yang dikenal sangat pandai bersyukur, di tengah melimpahnya fasilitas dunia yang beliau miliki. Beliau menjadi raja  yang kekuasaan meliputi alam manusia, jin, dan binatang. Itulah doa beliau yang Allah kabulkan, sehingga beliau menjadi penguasa paling top markotop diantara manusia.

“Sulaiman berdoa, wahai Rabku, berikanlah aku kerajaan yang tidak layak untuk dimiliki oleh seorangpun sesudahku. Sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Pemberi.” (QS. Shad: 35)

Dua model manusia ini, Allah sandingkan ceritanya dalam surat Shad, antara ayat 30 sampai 44. Dan keduannya, baik Ayub maupun Sulaiman, Allah sebut di akhir cerita,

Dia (Sulaiman dan Ayub) adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia orang yang suka bertaubat.” (QS. Shad: 30 dan 44).

Artinya, baik miskin yang sabar maupun kaya yang bersyukur, di sisi Allah statusnya sama-sama hamba yang baik. Tinggal selanjutnya, siapa yang lebih bertaqwa diantara mereka, itulah yang terbaik. Allah berfirman,

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa.”  (QS. al-Hujurat: 13).

Sumber: pengusahamuslim[dot]com

Monday, 13 November 2017 15:33

Kebahagiaan dalam Rumah Tangga

Imam al-Ghazali dalam bukunya al Durrah al-Fakhirah fi Kashf ‘Ulum al-Akhirah, menjelaskan, kebahagiaan ditafsirkan sebagai penyatuan antara ilmu, amal, rohani dan jasmani. Dimana ilmu-ilmu teori (ilmu mengenal Allah, Malaikat, Kitab, Rasul dan ilmu akidah) dan ilmu praktis (sosial, undang-undang, politik, syariah, ekonomi dan sebagainya) digabungkan akan memberi kebaikan serta kenikmatan kepada hidup manusia, sedangkan rohani dan jasmani senantiasa cendrung kepada kebenaran sehingga bila keempat hal ini digabungkan akan membawa kepada kebahagiaan. Intinya, kebahagiaan itu adalah kebaikan dan kenikmatan hidup manusia yang dilandasi dengan ilmu teori dan praktis dan membuat rohani dan jasmani kita senantiasa cenderung kepada kebenaran yang ujungnya adalah kedekatan kepada Sang Pencipta SWT.

Bila hal ini diaplikasikan dalam kehidupan berumahtangga tentunya akan membawa kepada kebaikan dimana suami dan isteri akan selalu bersikap baik yang akhirnya akan melahirkan rasa tenang dan tentram serta senantiasa dekat kepada Allah SWT.

Kebanyakan ilmuan masa kini beranggapan bahwa kebahagiaan itu sendiri sangat subjektif sifatnya. Senang dan bahagia itu didasarkan pada pengalaman hidup masing-masing. Sehingga yang dapat menentukan seberapa bahagia adalah orang itu sendiri.

Namun jika kita menggunakan parameter Al-Qur’an seperti disebutkan dalam ayat di atas setidaknya tiga parameter ini dapat dijadikan acuan untuk mengukur bahagia tidaknya sebuah keluarga yaitu adanya sakinah (ketenangan), mawaddah (kasih sayang) dan rahmah.

Sahabat, mari kita simak apakah sakinah, mawaddah warohmah itu?

1.Al-Sakinah

Al-Sakinah berasal dari kata bahasa Arab yang bermaksud ketenangan, ketenteraman, kedamaian jiwa yang difahami dengan suasana damai yang melingkupi kehidupan rumahtangga. Ketenangan dan ketentraman inilah yang menjadi salah satu tujuan pernikahan.

Dimana perasaan sakinah itu yaitu perasaan nyaman, cenderung, tentram atau tenang kepada yang dicintai di mana suami isteri yang menjalankan perintah Allah SWT dengan tekun, saling menghormati dan saling toleransi. Dari suasana tenang (al-sakinah) tersebut akan muncul rasa saling mengasihi dan menyayangi (al-mawaddah), sehingga rasa tanggungjawab kedua belah pihak semakin tinggi. Di dalam keluarga sakinah itu pasti akan muncul mawaddah dan rahmah.

2.Al-Mawaddah (Kasih Sayang)

Al-Mawaddah ditafsirkan sebagai perasaan cinta dan kasih sayang. Dimana perasaan mawaddah antara suami isteri ini akan melahirkan keindahan, keikhlasan dan saling hormat menghormati yang akan melahirkan kebahagiaan dalam rumahtangga.

Melalui al-mawaddah, pasangan suami isteri dan ahli keluarga akan mencerminkan sikap lindung melindungi dan tolong menolong serta memahami hak dan kewajiban masing-masing. Sikap al-mawaddah ini akan terpancar tidak hanya sebatas antara suami istri tapi juga meliputi seluruh anggota keluarga dan masyarakat.

3.Al-Rahmah (Belas Kasihan)

Al Rahmah itu sendiri yang mempunyai makna tulus, kasih sayang dan kelembutan. Dari kata-kata tersebut dapat dijelaskan bahwa rahmah berarti ketulusan dan kelembutan jiwa untuk memberikan ampunan, anugerah, karunia, rahmat, dan belas kasih.

Jadi Al-Rahmah itu dimaksudkan dengan perasaan belas kasihan, toleransi, lemah-lembut yang diikuti oleh ketinggian budi pekerti dan akhlak yang mulia. Dengan rasa kasih sayang dan perasaan belas kasihan ini, sebuah keluarga ataupun perkawinan akan bahagia. Kebahagiaan amat mustahil untuk dicapai tanpa adanya rasa belas kasihan antara anggota keluarga.

Sahabat, semoga keluarga kita termasuk keluarga yang memiliki ketiga hal ini yaitu adanya sakinah mawaddah warahmah yang akan membawa kita kepada bahagia di dunia dan akhirat. Amin

Wallahu’alam.

Sumber: ummi-oline[dot]com

Saturday, 11 November 2017 13:27

Zuhudnya Imam An-Nawawi

Ada tiga kisah yang paling berkesan, yang mencerminkan kecerdasan dan kezuhudannya. Al-Imam An-Nawawi, bukanlah orang yang sejak kecil selalu bemalas-malasan. Setiap hari, setiap saat, dia selalu belajar dan belajar, mengulang dan mengulang apa yang dihafalkannya. Bahkan, menginjak remaja dia tidak pernah sengaja meletakkan lambungnya di tempat tidur. Artinya, Al-Imam An-Nawawi tidak pernah menyengaja untuk tidur. Dia selalu tertidur di atas tumpukan buku-bukunya.

SERIUS DALAM BELAJAR

Suatu ketika, bersama Ayahnya, Imam Nawawi bermukim di Madinah. Hari-harinya dilalui dengan belajar dua belas mata pelajaran. Dia belajar hadist, tafsir, nahwu, bahkan ilmu kedokteran. Bayangkan! Dua belas mata pelajaran dalam sehari! Jika satu mata pelajaran saja 50 menit, maka muraja- 'ahnya selama itu juga. Belum ibadahnya. Lantas, kapan dia tidur? Dia tidak pernah tidur, kecuali untuk sesaat.

TIDAK PERNAH MAKAN APEL

Pada waktu itu, di Damaskus sedang populer buah apel. Banyak kebun di sana ditanami buah apel. Selain lezat, buah itu mencerminkan strata sosial menengah ke atas atau kalangan orang mampu, tetapi Imam Nawawi tidak pernah makan bu-ah tersebut. Ada seseorang bertanya kepadanya tentang hal itu, “Mengapa buah selezat ini tidak menarik hatimu?” Ternyata, pada waktu itu di Damaskus ada banyak sekali tanah wakaf. Akan tetapi tanah itu banyak yang hilang. Kebanyakan dari tanah itu ditanami buah apel. Imam Nawawi berkata, “Dari semua buah apel, hanya satu dari sepuluh ribu yang ditanam tidak memakai tanah wakaf,” sehingga Imam Nawawi pun enggan memakan hasil dari tanah wakaf yang hilang.

MENOLAK MENGELUARKAN FATWA DHOLIM

Di Damaskus, pada masa pemerintahan Raja Zahir Bebres, raja menghendaki sebuah fatwa dari para ulama agar dapat menghimpun dana dari rakyat untuk membeli senjata guna menghadapi serangan bangsa Tartar. Seluruh ulama memberikan fatwa tersebut, kecuali satu. Dialah Al-Imam An-Nawawi. Zahir Bebres geram. Dia memerintahkan utusannya untuk menjemput Imam Nawawi. Setelah Imam Nawawi sampai di Istana, ditanyalah dia oleh Raja Zahir Bebres, “Mengapa engkau tidak mau memberikan fatwa untuk mengumpulkan  musuh islam?” Imam Nawawi menjawab, “Ketahuilah, dulu engkau hanyalah budak. Sekarang saya melihatmu memiliki banyak harta, pelayan, tanah dan perkebunan. Jika semua itu telah engkau jual untuk membeli senjata, kemudian habis sedangkan engkau masih memerlukan dana untuk mempersiapkan kaum muslimin, maka saya akan memberikan fatwa itu padamu.” Murkalah Zahir Bebres. Dia memerintahkan kepada pengikutnya agar gaji Imam Nawawi dipotong dan diturunkan dari segala kedudukannya. Ternyata, dikabarkan kepada Raja, Imam Nawawi selama mengajar tidak pernah digaji, dan dia tidak pernah menduduki posisi apapun. Dia bukanlah seorang menteri, hakim, atau apapun. Maka raja pun tersentak. Pengikutnya menyarankan untuk membunuhnya, “Engkau mempunyai kedudukan, tuanku, mengapa Engkau tidak membunuhnya saja?” Tetapi, apa kata raja? “Saya segan kepada ulama yang satu ini.” Lalu pengikutnya menyarankan untuk mengusirnya keluar dari Damaskus. Maka raja pun memerintahkan demikian. Akhirnya Imam Nawawi pergi ke suatu desa bernama Nawa. Dari sanalah dia dikenal sebagai An-Nawawi.

Ketika para ulama mengetahui bahwa Imam Nawawi diusir keluardari Damaskus, mereka berontak kepada raja. “Kami tidak mampu hidup tanpa Imam Nawawi!” Raja pun membalas, “Kembalikan dia ke Damaskus lagi!” Akan tetapi Imam Nawawi menolak kembali ke Damaskus dan berkata, “Demi Allah, saya tidak akan kembali ke Damaskus selama raja Zahir Bebres masih berada di sana.” Sebulan kemudian Imam Nawawi kembali ke Damaskus, karena Allah telah meniadakan Raja Zahir Bebres dari muka bumi.

Sumber: Majalah Al-Arabiy

Saturday, 11 November 2017 10:03

Jangan Melaknatnya karena Minum Khamar

Seburuk apa pun perilaku seseorang, pastilah ia tetap memiliki sisi baik meskipun sedikit. Kalaulah kita bisa mendapatkan kunci kebaikan, tentu lebih baik.

Ada beberapa penjahat menyatroni rumah orang dan menjarah harta bendanya untuk diberikan kepada kaum papa dan anak yatim, atau disumbangkan untuk membangun masjid.

Ada orang yang tidak tahan melihat anak yatim mengerang kelaparan, lalu ia berzina untuk mendapatkan sesuap nasi pengganjal perut mereka.

Tidak sedikit orang yang telah membawa belati untuk membunuh, tetapi rintihan bocah kecil atau wanita meluruhkan niat hatinya. Belati pun ia lemparkan ke tempat yang jauh.

Jadi, perlakukanlah orang sesuai kebaikan yang engkau ketahui, sebelum engkau berburuk sangka pada mereka.

Di antara keluhuran budi Rasulullah saw. adalah memaafkan orang salah dan berbaik sangka pada pendosa.

Jika menghadapi pelaku maksiat, beliau melihat sisi-sisi keimanannya sebelum menelisiki sisi syahwat dan maksiatnya. Beliau tidak berburuk sangka pada siapa pun. Setiap orang beliau perlakukan seperti anak dan saudara. Beliau menghendaki kebaikan buat mereka, seperti beliau kehendaki untuk diri sendiri.

Pada zaman Rasulullah saw., seseorang terbiasa menenggak khamar. Suatu hari ketika mabuk karena minum khamar, ia diseret menghadap Rasulullah saw. Maka, beliau perintahkan orang itu dicambuk.

Beberapa hari kemudian, orang itu minum lagi. Untuk kedua kali ia diseret dan dicambuk lagi.

Beberapa hari kemudian, orang itu diseret karena ketahuan minum lagi. Maka, ia pun dicambuk kembali. Ketika orang itu hendak pulang, salah seorang sahabat berkata, “Semoga Allah melaknatnya, karena ia terlampau sering diseret kemari.”

Rasulullah menoleh ke arah orang itu. Raut wajah beliau berubah. Beliau bersabda padanya, “Ianganlah engkau melaknatnya. Demi Allah, engkau tidak tahu bahwa ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Al-Bukhari & Muslim)

Jadi, jika engkau berinteraksi dengan orang lain, berusahalah untuk bersikap adil. Sebutkan kebaikan yang dimiliki orang itu.

Buat orang itu merasa bahwa keburukan yang dilakukan tidak sampai membuatmu melupakan kebaikannya. Cara seperti ini membuatnya tetap dekat denganmu.

Oleh: Dr. Muhammad Al-Arifi/Nikmati Hidupmu

Thursday, 09 November 2017 13:42

5 Manfaat Rajin Minum Air Putih

Tahukah Anda bahwa 50% lebih tubuh kita ini terdiri dari air? Tanpa adanya air, kita tidak bisa menjaga suhu tubuh normal, melumasi sendi, atau membuang zat yang tidak terpakai dalam tubuh melalui keringat, urin, dan air besar.

Faktanya secara medis, tubuh kita memerlukan air atau cairan yang berguna untuk memproses pencernaan, penyerapan zat atau kandungan makanan untuk energi, sirkulasi darah atau pencernaan dan lainnya, transportasi nutrisi, memproduksi cairan atau air ludah, serta mempertahankan suhu tubuh.

Kita perlu banyak mengonsumsi air agar tubuh tidak dehidrasi atau kekurangan air, yang bisa menyebabkan tubuh lemas, otot lemah dan kram, tidak fokus, meningkatkan risiko kelelahan karena panas, dan bahkan stroke!

Berapa banyak harusnya kita minum air putih? Bukan 8 gelas per hari

Seperti dijelaskan dalam WebMD, umumnya kita sering mendengarkan nasihat atau artikel bahwa kita perlu minum air putih sebanyak 8 gelas air setiap hari, yang setara dengan 1,5 liter. Namun, Institut of Medicine’s Food and Nutrition Board merekomendasikan bahwa wanita sebenarnya memerlukan 2,6 liter air setiap hari dan pria memerlukan sekitar 3,7 liter setiap hari.

Anda bisa mendapatkan cakupan air yang cukup setiap hari dengan meminum air putih dan mengonsumsi cairan seperti sup dan minuman ringan, bersama dengan buah dan sayuran yang mengandung air. Jangan lupa juga, bila Anda berolahraga atau berlari, Anda akan memerlukan air yang lebih banyak, sebelum, saat, dan setelah melakukannya.

Di samping setiap harinya kita memerlukan asupan air putih sesuai yang telah direkomendasikan Institut of Medicine’s Food and Nutrition Board, ada beberapa fakta lain yang perlu Anda ketahui mengapa kita perlu minum banyak air putih, seperti dilansir Kompas.com di bawah ini:

Membangkitkan otot

Sel-sel otot yang tidak memiliki cairan yang cukup tidak akan mampu mempertahankan cairan dan elektrolit, sehingga otot akan kelelahan. Otot tidak akan berfungsi dengan baik dan kemampuannya akan berkurang. Kita juga memerlukan air yang banyak saat berolahraga, menurut American College of Sports Medicine. Beberapa ahli dari kampus tersebut merekomendasikan bahwa kita harus meminum 0,5 liter air, 2 jam sebelum mulai berolahraga.

Menjaga kulit tetap bercahaya

Kulit kita sebenarnya mengandung banyak sekali air, yang berfungsi sebagai benteng untuk mencegah hilangnya cairan tubuh berlebihan. Akan tetapi, jangan harap kalau kelebihan cairan tubuh bisa jadi cara ampuh menghilangkan kerutan dari garis pada kulit.

Mengendalikan kalori

Minum banyak air putih biasanya dilakukan orang yang sedang diet untuk menurunkan berat badan. Meski efeknya tidak langsung, menggunakan air putih sebagai pengganti minuman berkalori tinggi tentu saja akan sangat membantu.

“Program diet akan berhasil jika Anda memilih air atau minuman non-kalori sebagai pengganti minuman berkalori. Lalu, diet dengan makanan kayak cairan yang lebih sehat pun akan membantu Anda memangkas kalori,” tutur peneliti dari University State of Pennsylvania dan juga penulis buku The Volumetrics Weight Control Plan, Barbara Rolls PhD.

Memelihara fungsi ginjal

Cairan tubuh adalah “alat” transportasi sisa atau limbah yang keluar masuk ke dalam sel. Racun utama dalam tubuh adalah nitrogen urea darah, sejenis cairan yang bisa melewati ginjal untuk kemudian diproses dan dikeluarkan dalam bentuk urin. Saat cairan tubuh mencukupi, urin akan mengalir bebas, jernih, dan bebas bau. Ketika cairan tubuh tidak cukup, konsentrasi urine, warna, dan baunya akan lebih kentara karena ginjal harus menyerap cairan ekstra untuk menjalankan fungsinya. Inilah kenapa kalau kita kurang minum air putih, risiko Anda terkena batu ginjal akan meningkat, apalagi pada iklim panas atau hangat.

Mempertahankan fungsi usus yang normal

Bila kita minum air putih yang cukup, makanan yang kita konsumsi bisa dengan lancar melewati saluran pencernaan dan mencegah terjadinya sembelit. Namun, bila konsumsi air kita tidak cukup, usus akan menyerap cairan dari feses atau tinja untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi, sehingga kita akan sulit untuk buang air besar.

Nah, kebayang kan kalau kita jarang minum air putih masalah kesehatan apa saja yang bisa menghampiri kita? Jangan lupa untuk terus minum air putih setiap hari, ya.

Sumber: hellosehat[dot]com

Tuesday, 07 November 2017 13:44

Zakat Memerdekakan dari Kemiskinan

Oleh: M. Amin Rois, Lc.

Saudaraku yang diahmati Allah Subhanahu Wata’ala.

Dari Adam hingga Muhammad, Allah mengajarkan syariat nabi-nabinya untuk berzakat. Adam mengajari Habil dan Qabil untuk berbagi dari hasil peternakan dan pertanian. Sayyidunal Musthofa wal Mujtaba Muhammad mengajarkan umat Islam untuk mengayomi dan menyantuni  8 golongan yang berhak dari zakat. Oleh karena itu, Abu Bakar pun bertekad untuk memerangi mani’uz zakah pasca meninggalnya Nabi tercinta. Semua itu untuk melanggengkan zakat agar ia menjadi ibadah yang diwariskan turun temurun kepada umatnya.

Zakat adalah dimensi ibadah yang sempurna, kenapa demikian? Karena zakat menggabungkan dimensi vertikal dan horizontal, dimensi khaliq dan makluk, dimensi ‘abid dan ma’bud. Saat harta benda kita salurkan kepada kaum papa dan pra-sejahtera, niat tulus hamba akan diterima oleh Allah Swt. Saat sedekah makanan kita dinikmati seorang anak yatim, Allah pun melihat dan mencatatnya. Saat sedekah baju kita dipakai oleh orang miskin, Allah pun menyiapkan pahala berlimpah bagi kita. Saking mulianya ibadah zakat, di dalam Al-Quran, sebanyak 82 kali, kata-kata zakat disandingkan dengan ayat-ayat mendirikan shalat.

Saudaraku yang saya cintai karena Allah, 72 tahun sudah kita merayakan kemerdekaan, 72 tahun kita semarakkan upacara, dan tidak lupa euforia kemerdekaan dengan hura-hura. Namun, sadarkah kita bahwa, menurut data dari BPS, ada  sekitar 27 juta lebih saudara-saudara kita hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka terdiri atas kaum papa, anak yatim yang ditinggal orangtuanya, anak yatim karena konflik keluarga, dan banyak orang sakit yang perlu bantuan kita.

Maka, di balik lantangnya teriakan merdeka kita, mari selalu kita ingat semangat untuk selalu dan selalu memerdekakan manusia dari himpitan kehidupan dunia. Karena di balik teriakan lantang merdeka, ada jeritan orang-orang miskin yang butuh uluran tangan kita.

Saudaraku, zakat adalah ibadah sekaligus cara istimewa yang diajarkan Allah untuk memerdekakan dan mengentaskan manusia dari kemiskinan. Di mana kita tahu bahwa kemiskinan itu sangat dekat dengan kekufuran; kaadal faqru an yakuuna kufron. Maka ingatlah tentang Umar bin Abdul Aziz, sosok yang kadang dinisbahkan kepadanya gelar khalifah yang kelima. Melengkapi khulafa’urasyidin, hanya dengan 2 tahun ia memerdekakan manusia dari jurang kemiskinan. Semua itu ia lakukan dengan memaksimalkan ajaran agama kita; sedekah dan zakat. Dan mari kita ingat, Utsman dengan wakaf kebun kurma dan sumur yang ia beli dari Yahudi. Ingatlah Abu Bakar yang telah menyedekahkan semua hartanya saat paceklik datang.

Kemudian, mana yang lebih baik, zakat sendiri atau melalui lembaga? Dalam hal ini kita bisa mengambil inspirasi dari surat Al-Baqarah 261-264. Di mana dalam ayat tersebut Allah setelah memotivasi hambanya untuk bersedekah dan berzakat, kemudian Allah mewanti-wanti manusia agar tidak menjadikan zakatnya ternoda dengan kata-kata kesombongan dan bahkan riya’. Lembaga Amil Zakat (LAZ) sejatinya berupaya untuk menghilangkan perasaan-perasaan sombong dan riya’ dari zakat kita. Insya Allah sedekah maupun zakat kita pun akan lebih tulus hanya untuk Allah. Mengapa demikian? Sebab kita terhindar dari kontak langsung dengan orang yang kita bantu, sehingga kita pun tidak perlu merasa jumawa di hadapannya.

Selanjutnya, Apabila kita merujuk pada surat At Taubah:64, kita bisa ambil plajaran bahwa hndaknya ada amil-amil yang mengambil dan mendistribusikan potensi zakat yang sangat besar ini. Menurut data dari Baznas, ada sebesar 271 triliun potensi zakat bangsa Indonesia. Dana sebesar itu, sangat mungkin dapat diberdayakan untuk pemerataan kesejahteraan rakyat Indonesia. Potensi zakat sebasar itu belum sepenuhnya tercapai.  Bisa jadi disebabkan oleh kurangnya kesadaran untuk berzakat atau bisa jadi disebabkan kurang ilmu berkaitan dengan kewajiban-kewajiban berzakat. Dana itu akan dikelola secara maksimal, bila kita melibatkan kebersamaan semua orang dan diwujudkan dalam sebuah lembaga bersama.

Saudaraku, dengan keberkahan zakat ini kita berharap agar pemerintah bersama umat Islam di Indonesia benar-benar mendapatkan rahmat dan kasih sayang dari Allah Swt. Menjadi negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Insya Allah kita akan menjadi bangsa yang lebih besar, negara yang tidak akan lagi dijajah oleh kemiskinan dan kebodohan. Karena itu, zakatlah dan merdekakanlah...

Demikian yang bisa sampaikan. Ada inspirasi positif itu datangnya dari Allah, dan banyak kekurangan itu dari kelemahan saya pribadi. Kepada Allah kita berserah diri dan kembali.

Thursday, 02 November 2017 10:49

Akhlaq Rasulullah: Menjadi Pendengar yang Baik

Seni memikat hati orang lain teramat banyak. Sebagian dengan melakukan sesuatu, sebagian dengan meninggalkannya. Senyum bisa memikat hati. Sebaliknya, muka masam juga bisa begitu. Perbincangan yang mengasyikkan dan kelakar ringan bisa memikat hati. Sebaliknya, mendengarkan dengan saksama juga bisa demikian.

Bagaimana jika dalam kesempatan ini kuajak engkau bicara tentang sikap tenang yang menarik hati?!

Ya, ada sebagian orang yang tidak banyak bicara. Suaranya hampir tak terdengar di forum. Bahkan, jika engkau mengawasinya di pertemuan atau wisata, ia hanya menggerakkan kepala dan mata. Sesekali menggerakkan mulut, tetapi sebatas tersenyum, bukan berbicara. Meskipun begitu, banyak orang menyukainya. Mereka senang duduk bersamanya.

Mengapa begitu?! Sebab, ia mempraktikkan sikap tenang yang menarik hati.

Seni mendengar cukup banyak. Bahkan, seseorang bercerita kepadaku bahwa ia menghadiri lebih dari lima belas pelatihan tentang keterampilan mendengarkan.

Coba bandingkan orang-orang berikut ini:

Jika engkau menceritakan kisah yang pernah dialami, dari awal ia sudah memotongmu dengan berkata, “Aku juga mengalami hal serupa”

Kemudian engkau berkata, “Sabar, sampai aku selesai bicara.” Ia pun diam sejenak.

Ketika engkau asyik bercerita, ia kembali memotong pembicaraanmu, “Benar. Benar. Persis seperti yang aku alami. Ya, suatu hari aku pergi ke …”

“Saudaraku, tunggu dulu,” engkau pun memotongnya.

Ia diam. Tidak lama kemudian ia kembali memotong pembicaraanmu, “Memang Memang …”

Ini tipikal orang pertama.

Adapun orang kedua, saat engkau berbicara, ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Sesekali ia mengeluarkan ponsel dari kantong, menulis atau membaca sms. Atau, siapa tahu ia asyik main game lewat ponselnya.

Nah, orang ketiga menguasai seni mendengarkan. Tahu engkau sedang bercerita, ia pusatkan pandangan kepadamu. Engkau pun merasa diperhatikan. Sesekali ia menganggukkan kepala, sesekali tersenyum, dan sesekali menggigit bibir karena takjub. Bahkan, sesekali ia berkomentar, “Sungguh mengagumkan, subhanallah!”

Siapa di antara mereka yang paling kausukai untuk dijadikan teman duduk? Siapa di antara mereka yang paling kausukai untuk dikunjungi? Siapa di antara mereka yang paling kausukai untuk diajak bicara?

Sudah pasti yang terakhir.

Jadi, memikat hati orang tidak melulu dengan memperdengarkan yang mereka suka, tetapi juga menyimak apa yang mereka suka untuk diperdengarkan.

Sebagian orang lupa bahwa Allah menciptakan untukmu satu lidah dan dua telinga supaya engkau lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.

Maka, biasakan diam ketika orang lain bicara. Bahkan, kalaupun engkau berkesempatan untuk bicara, jangan tergesa-gesa.

Pada awal kenabian, umat Islam sangat sedikit. Orang kafir mendustakan Rasulullah, bahkan menjauhkan manusia darinya. Mereka menuduhnya dukun dan pendusta. Mereka bahkan menuduhnya penyihir dan orang gila.

Suatu hari Dhamad datang ke Makkah. Dia bijaksana, menguasai ilmu kedokteran dan pengobatan, termasuk mengobati orang gila dan terkena sihir. Ketika membaur dengan banyak orang, ia mendengar orang-orang kafir berbicara tentang Rasulullah. “Orang gila sudah datang. Kami melihat orang gila.”

“Di mana orang gila itu?” kata Dhamad. “Siapa tahu Allah menyembuhkannya melalui tanganku.” Orang-orang menunjuk pada Rasulullah.

Saat bersitatap muka, Dhamad mengamati wajah Rasulullah. Ternyata bersinar dan tampan. Dhamad berterus terang menyampaikan tujuan kedatangannya, “Wahai Muhammad, aku akan membebaskanmu dari sihir. Sesungguhnya Allah menyembuhkan siapa saja yang dikehendaki di tanganku. Mari, aku akan mengobatimu.”

Dhamad terus bicara tentang kemampuannya mengobati, Nabi menyimaknya dengan saksama. Jika ia bicara, Rasulullah diam.

Tahukah engkau, Nabi diam ketika siapa yang berbicara? Beliau diam mendengarkan orang kafir berbicara. Lebih dari itu, ia mengaku akan mengobatinya dari penyakit gila.

Betapa bijaksananya Rasulullah saw.

Usai Dhamad berbicara, dengan sangat tenang Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah. Kepada-Nya kita memuji dan memohon pertolongan. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak seorang pun dapat menyesatkannya. Dan, barang siapa tersesat, tidak seorang pun dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang patut disembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya.”

Dhamad terhentak. “Ulangi kata-katamu,” pintanya. Rasulullah mengulang kembali kata-katanya.

Dhamad berkata, “Demi Tuhan, aku telah mendengar kata-kata para dukun, tukang sihir, dan penyair, tetapi belum pernah mendengar kata-kata seperti itu. Ulurkan tanganmu, aku akan berbaiat untuk masuk Islam.”

Rasulullah mengulurkan tangan. Sejak saat itu Dhamad melepaskan pakaian kekufuran dan berkali-kali mengucapkan, “Asyhadu an la ilaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu rasuluh. ”

Rasulullah tahu Dhamad sangat dihormati kaumnya. Beliau bertanya, “Apa engkau bersedia menyerukan Islam pada mereka?”

“Aku akan menyerukannya pada kaumku,” jawab Dhamad. Dhamad kembali pada kaumnya, kemudian meretas jalan dakwah.

Jadilah pendengar yang baik. Diam dan gerakkan tanganmu. Beri tanggapan yang baik dengan bahasa wajahmu, seperti mengerutkan kening, mengangkat alis, tersenyum, dan berdecak kagum.

Lihatlah pengaruh sikap semacam itu terhadap orang yang berbicara denganmu, baik ia sudah besar maupun masih kecil. Engkau akan menyaksikannya memerhatikanmu, dan menyerahkan sepenuh hati kepadamu.

Oleh: Dr. Muhammad Al-Arifi
Dalam buku: Nikmati Hidupmu

Saturday, 21 October 2017 10:31

Kisah Istighfar Sang Pedagang Roti

Imam Ahmad rahimahullah merupakan salah satu ulama madzhab 4 yang namanya mahsyur hingga saat ini. Pada zamannya, Ia begitu dielu-elukan oleh banyak orang. Dalam sebuah kisah yang ditulis Imam al Jauzi rahimahullah dalam buku tentang Imam Ahmad dikisahkan bahwa saat sang Imam memasuki usia senja beliau begitu ingin pergi ke Negeri Syam.

Namun anehnya Imam Ahmad sama sekali tidak memiliki tujuan yang jelas kenapa Ia ingin pergi ke tempat itu. Padahal Ia harus menempuh perjalanan jauh dari kediamannya di Baghdad menuju Syam. Sesampainya di Syam, Imam Ahmad berhenti untuk menunaikan salat dzuhur. Tidak ada yang mengenalinya, mengingat zaman dahulu teknologi tidak secanggih saat ini.

Ia menunggu di masjid tersebut hingga menjelang salat Ashar. Setelah Ashar, sang Imam membaca Alquran untuk menunggu waktu Magrib dan Isya. Setelah habis malam, Imam Ahmad kemudian ingin tidur dan beristirahat di masjid tersebut.

Namun penjaga masjid tidak mengizinkan Ia tidur disana.

“Wahai syekh, anda tidak boleh tidur disini, ini peraturan silahkan pergi,” kata penjaga

Namun Imam Ahmad menolak, “Saya musafir, saya ingin istirahat disini” jawab sang Imam.

Namun sang penjaga tetap menolak dan memintanya untuk keluar lalu kemudian mengunci pintu masjid. Setelah penjaga tersebut pergi, Imam Ahmad kembali beristirahat di pelataran masjid.

Tapi, sang penjaga kembali datang dan lagi-lagi mengusirnya hingga mendorongnya menuju ke jalanan. Lalu ada tukang roti yang rumahnya tidak jauh dari masjid melihat kondisi tersebut. Tukang Roti tersebut memanggilnya

“Hai syekh, kemarilah beristirahatlah di toko ku, ”

Kemudian Iman Ahmad masuk ke toko roti tersebut. “Rumahku tidak jauh dari sini, ini toko roti ku, dibelakang sana, ada ruangan  untuk beristirahat. Beristirahatlah malam ini dan besok pagi engkau bisa melanjutkan perjalanan lagi”

Setelah masuk ke toko tersebut, Imam Ahmad kemudian memperhatikan aktivitas sang penjual roti. Dan ada satu hal yang paling menarik perhatian beliau dari lelaki ini. Yakni ucapan dzikir dan doa istighfar yang terus meluncur dari mulutnya tanpa putus sejak awal ia mulai mengerjakan adonan rotinya.

Imam Ahmad yang kagum lalu bertanya “Sejak kapan Anda selalu beristighfar tanpa henti seperti ini?”

Ia menjawab, “Sejak lama sekali. Ini sudah menjadi kebiasaan rutin saya, hampir dalam segala kondisi.”

Lalu Imam Ahmad bertanya lagi “Lantas apa hasilnya”

“Ya, Allah mengabulkan semua permintaan ku” Jawabnya.

“Lalu apa permintaanmu yang belum dikabulkan Allah?” tanya Sang Imam.

Si lelaki saleh ini pun melanjutkan jawabannya dan berkata, “Sudah cukup lama saya selalu berdoa memohon kepada Allah untuk bisa dipertemukan dengan seorang ulama besar yang sangat saya cintai dan agungkan. Beliau adalah Imam Ahmad bin Hanbal!”

“Allahu Akbar! karena  Istighfarmu lah Allah SWT mendatangkan saya datang ke kota mu ini tanpa alasan yang jelas, karena Istighfarmu lah Marbot Masjid melarang saya tidur di Masjid, karena Istighfarmulah engkau menawarkan aku istirahat ditempatmu. Saya lah Ahmad bin Hanbal…

Masya Allah, Allah SWT mendatangkan Imam Ahmad ke rumahnya karena Istighfarnya.

Siapa tak kenal Umar bin Abdul Aziz. Insan dengan sejarah menawan akan masa kepemimpinannya saat menjabat sebagai khalifah. Ia membalikkan 180 derajat keadaan hidupnya dari yang bermewah harta menjadi penuh dengan keterbatasan ketika dirinya diangkat sebagai khalifah. Ia juga yang dikenal sebagai khalifah yang mampu mengembalikan kesejahteraan umat Islam, hingga hampir saja pembagian zakat tak menemui si penerima karena kesejahteraan tiap muslim di kala itu. Ia juga yang menjadi penyelamat wajah Daulah Umayah di mana para raja berkuasa semena-mena dan perpecahan terjadi di mana-mana.

Tentu akan ada banyak karakteristik seorang mukmin yang bersemayam dalam diri Umar bin Abdul Aziz hingga dirinya ditaati sebagai pemimpin dan namanya tertera dalam daftar sejarah kebanggaan umat muslim. Termasuk salah satu di antaranya adalah sifat tawadhu’ beliau.

Tawadhu’ sendiri berasal dari wada’a yang berarti ‘merendahkan’. Tawadhu; merupakan perangai merendahkan kelebihan, menundukkan hati agar tidak menunjukkan ia lebih baik dari pada orang lain.

Belajar memiliki karakter tawadhu’ menjauhkan seseorang dari sifat sombong. Perangai ini penting bagi seorang pemimpin karena karakter sombong membuat si sombong merasa orang yang ada di sekitarnya punya kedudukan tidak lebih baik dari dirinya, membuat ada tembok pemisah antara si sombong dan orang-orang di sekitarnya, yang akhirnya menjauhkan orang-orang di sekitarnya dari si sombong.

Dalam Al Quran surat As-Syu’araa’ ayat 215, Allah menyuruh seorang muslim untuk merendahkan dirinya di hadapan para pengikutnya yang beriman. Ayat ini menjadi dasar bagi seorang pemimpin untuk merendahkan diri di hadapan para rakyatnya yang beriman, bukan menyombongkan diri.

Namun Allah bukan hanya menjadikan tawadhu’ sebagai tuntutan bagi umat muslim, tetapi juga akan Allah naikkan derajat seorang muslim yang berperangai tawadhu’. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda “Sedekah tidak mungkin mengurangi harta. Tidaklah seseorang suka memaafkan, melainkan ia akan semakin mulia. Tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ (rendah diri) karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya. “[HR. Muslim]. Sehingga tidak akan merugi orang yang memiliki sifat tawadhu’, ia akan mulia di mata Allah, juga mulia di mata manusia.

Berikut sepenggal kisah hidup Umar bin Abdul Aziz menggambarkan betapa tawadhu’nya beliau sebagai seorang pemimpin. Kisah tersebut terjadi ketika suatu malam ada seseorang yang bertamu ke rumah Umar bin Aziz. Kala itu sang khalifah sedang menulis di tengah kondisi cahaya lampu yang mulai redup. Sang tamu yang melihat keadaan itu kemudian ingin memperbaiki lampu tersebut, namun hal itu dicegah oleh sang khalifah. Khalifah Umar bin Abdul Aziz ingin memuliakan tamunya sehingga tidak memperbolehkan tamunya merepotkan diri untuk membenahi lampu yang mulai redup itu. Sang tamu tak berhenti sampai di situ, ia kemudian menganjurkan agar Umar bin Abdul Aziz membangunkan pembantu beliau, namun anjuran si tamu juga ditolak oleh sang khalifah. Khalifah Umar bin Abdul Aziz tidak ingin mengganggu pembantunya beristirahat. Hingga pada akhirnya sang khalifah sendiri yang turun tangan memperbaiki lampu tersebut.

Kisah di atas menunjukkan betapa rendah hatinya khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ia tidak sombong atas kedudukannya sebagai khalifah yang sebenarnya bisa saja menyuruh si tamu yang berkunjung untuk memperbaiki lampunya dengan kedudukan beliau sebagai khalifah, namun beliau lebih memilih memuliakan tamu tersebut. Atau bisa saja sang khalifah membangunkan pembantu beliau yang sesudah beristirahat, namun sang khalifah lebih memilih untuk tidak mengganggu istirahatnya si pembantu.

Begitulah para pemimpin umat Islam terdahulu mengajarkan keteladanan pada kita. Umar bin Abdul Aziz memberikan gambaran keindahan tawadhu’, ketika seseorang menurunkan egonya untuk menyamakan dirinya di hadapan manusia dan merendahkan dirinya di hadapan Allah Azza wa Jala, maka ia dapatkan kemuliaan dirinya, penghargaan di hadapan manusia, dan ketinggian derajat diberikan oleh Allah.

Sumber: dakwatuna

Monday, 16 October 2017 15:31

Bergeraklah untuk Maju!

Ada seorang mahasiswa di Universitas Bunn, namanya Roger Banastar. Dia adalah juara Olimpiade untuk kategori lari 100 meter, 200 meter, dan 300 meter. Ketika masih menjadi mahasiswa, dia pernah berkata kepada kawan-kawannya, “Apakah kalian pernah melihat orang yang berlari sejauh satu mil hanya dengan waktu empat menit?” Mereka saling melihat satu dengan lainnya dan menertawakan Banastar. “Tidak ada orang yang mempunyai kemampuan untuk lari satu mil dalam empat menit. Hal tersebut sangat tidak masuk akal.” kata mereka kepada Banastar. Banastar tidak menghiraukan perkataan mereka. Dia langsung melesat lari membuktikan ucapannya.

Dia tidak menjawab pertanyaan teman-temannya yang tidak bergerak. Dia mengambil tindakan dengan bergerak cepat. Benar, dia mampu berlari sejauh satu mil dalam waktu empat menit. “Coba, ulangi lagi! Ulangi lagi!” kata mereka kepada Banastar. Maka Banastar tanpa banyak bicara mengulanginya sampai empat belas kali. Kekuatan dan kemampuan telah mematahkan mitos. Dalam satu tahun, ada lebih dari enam belas mahasiswa yang bisa melakukan apa yang dia lakukan.

Sekarang, lebih dari 32 ribu mahasiswa yang bisa melakukan hal tersebut. Sebabnya adalah satu, yaitu dia telah memutuskan dan menerima dirinya apa adanya. Kemudian dia meletakkkan kekuatannya yang tidak terbatas dalam wujud tindakan nyata (take action).

Seandainya para mahasiswa tersebut mendengar dari orang lain bahwa melakukan hal tersebut adalah tidak mungkin, maka mereka tidak akan bisa dan mustahil mampu melakukannya. Mereka pun tidak akan mempunyai kekuatan untuk mematahkan mitos dengan mampu berlari sejauh satu mil hanya dalam empat menit.

Anda harus memahami diri Anda dan kekuatan Anda. Jangan dengar kata-kata orang lain bahwa Anda tidak mampu. Anda adalah lebih kuat, lebih mampu, lebih besar, dan lebih hebat dari apa yang Anda bayangkan. Setelah itu, Anda harus bisa fokus kepada visi atau tujuan Anda yang jelas dalam menggunakan kekuatan Anda yang tidak terbatas. Lalu, Anda harus bertawakal kepada Allah SWT dan yakinlah bahwa Allah SWT tidak akan pernah menyianyiakan orang yang berbuat kebaikan. Sebagaimana firman Allah SWT :

“... Sesunguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar. ” [Q.S. Al-Baqarah [2]: 153).

"... Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. ” (QS. Al-Baqarah [2]: 155).

“. . . Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal." (QS. Ali Imran [3]:159)

Tawakal (pasrah kepada Allah] ada dalam hati dan perasaan. Jadi, yang pertama kali harus Anda lakukan adalah sadarkan diri Anda. Setelah itu, Anda harus bisa menerima diri Anda apa adanya dan kemudian putuskan satu keputusan, yaitu “bergerak maju”.

Tuliskan kata-kata saya ini dalam buku harian Anda!

Saya putuskan untuk menyingkap semua kekuatan saya. Saya putuskan untuk menggunakan kekuatan saya. Saya putuskan bahwa saya tidak hidup dengan cara seperti ini terus-menerus di dunia ini. Juga tidak dengan cara yang saya lakukan sejak kecil. Saya telah memutuskan untuk menggunakan cara yang saya inginkan, dengan cara saya sendiri.

Oleh: Dr. Ibrahim Al-Fiky/12 Formula Dahsyat Merancang Masa Depan Hebat

Save

Solo peduli News